Siapa Menikmati Berkah Ramadhan

Ramadhan adalah bulan penuh limpahan rahmat dan berkah. Bahkan rahmat dan berkahnya Ramadhan bisa dinikmati oleh orang-orang di luar Islam. Betapa tidak, jika kita lihat di negara kita, Indonesia, perputaran uang dalam bulan Ramadhan mencapai Rp.217, 1 T (statemen Menteri Keuangan,  Sri Mulyani).

Bagi orang-orang non-Muslim, mereka merengkuh berkah Ramadhan melalui bisnis yang mereka jalankan, mulai dari kuliner, pakaian, jasa, dan lainnya.  Para pedagang di Tanah Abang, Jakarta mengatakan, di awal Ramadhan kali ini, omset mereka sudah naik 50-60 persen. Biasanya semakin mendekati lebaran, omset mereka terus naik.

Itulah mereka, para pedagang yang meraih keberkahan Ramadhan melalui bisnisnya. Lantas bagaimana dengan umat Islam? Apakah mereka juga bisa mendapatkan limpahan berkah Ramadhan, tidak hanya dari sisi materi saja?

Bagi umat Islam, keberkahan dan kenikmatan tertinggi yang mereka cita-citakan bukanlah urusan materi dan duniawi, meskipun hal itu tetap mereka perlukan selama hidup di dunia. Akan tetapi ampunan dari segala dosa dan menjadi ahli Surga.

Ada seorang muslim pedagang pakaian di Semarang yang justru libur berdagang saat Ramadhan. Padahal secara perhitungan ekonomi, Ramadhan merupakan momentum meraup keuntungan berlimpah. Tapi ia justru memilih untuk libur dan mengganti aktifitasnya di masjid dengan melakukan iktikaf.

Ia mengatakan, Ramadhan baginya merupakan momentum meraih limpahan pahala. Banyak orang menyayangkan keputusannya itu, namun baginya, itulah pilihan terbaik yang ia ambil untuk bekal hidupnya.

Pedagang itu yakin bahwa dengan memfokuskan ibadah di bulan Ramadhan, rizkinya akan menjadi lancar dan berkah. Ia juga meyakini, omset yang berlipat dan keuntungan besar yang seharusnya ia peroleh di bulan Ramadhan akan diganti Allah di bulan yang lain.  “Sesungguhnya rizki seseorang telah ditetapkan Allah, tertulis di Lauhul Mahfuz, tidak akan tertukar dan direbut orang lain,” katanya meyakinkan.

Tentu, bagi seorang Mukmin, keuntungan akhirat lebih utama untuk kita raih dari pada sekadar keuntungan duniawi. Bukan berarti kita mengabaikan urusan dunia, tetapi urusan itu jangan sampai membuat kita tidak maksimal mengejar keuntungan ukhrawi. Allah menegaskan dalam firmannya:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS. Al-Qashas: 77)

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa salam juga menegaskan, barangsiapa tujuan hidupnya adalah duniawi semata, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya. Ia akan menjadikan kefakiran, serba sulit, serba susah, menjadikan hidupnya selalu diliputi kegelisahan dan terus merasa kekurangan serta ia tidak mendapatkan rizkinya di dunia kecuali menurut apa yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah baginya.

Namun, barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah untuk mencari pahala dan kehidupan akhirat, maka Allâh akan memudahkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan kenikmatan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.

Bagi orang beriman, kehidupan dunia itu hanyalah sebuah permainan dan suatu yang melalaikan, jika tidak disikapi dengan benar sesuai dengan petunjuk Al-Quran. Berbangga-bangga dan bermegah-megah dalam urusan dunia hanya akan melalikan manusia dari kehidupan akhirat yang kekal. Sesungguhnya kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Seorang Muslim tujuan hidupnya adalah akhirat, karena itu ia wajib berbekal untuk akhirat dengan bekal terbaik yaitu takwa. Takwa yaitu melaksanakan perintah-perintah Allâh Azza wa Jalla dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Apabila seorang Muslim beriman dan bertakwa kepada Allâh, maka ia akan diberi rizki dari arah yang tidak diduga dan diberikan jalan keluar dari problematikanya.

Orang yang beriman dan bertakwa kepada Allâh akan dimudahkan urusannya. Orang yang beriman dan bertakwa kepada Allâh juga akan dihapuskan dosa-dosanya dan dilipatgandakan ganjarannya. Itulah esensi dari puasa Ramadhan yang kita lakukan saat ini.

Oleh karena itu, mari kita meluangkan waktu untuk beribadah kepada Allâh dan hendaknya setiap menit, jam dan hari-harinya penuh dengan ibadah dan zikir kepada Allâh Azza wa Jalla.

Ketika seorang Muslim mengejar pahala demi kebahagiaan di akhirat, maka akan ditambah nikmat dunianya oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah.

 

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagia pun di akhirat.” (QS. Asy-Syura: 20).

(A/P2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)