Sikap Orang Beriman Menghadapi Musibah

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA, Da’i Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor.

 

Pengertian musibah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikatakan, kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa, malapetaka, bencana.

Musibah menurut Imam Al-Qurthubi adalah segala apa yang mengganggu seorang mukmin dan yang menimpanya.

Musibah pun beragam jenisnya. Ada yang menimpa jiwa seseorang, ada yang menimpa tubuhnya, ada yang menimpa hartanya, ada yang menimpa keluarganya, dan ada yang menimpa yang lainnya.

Allah menyebutkan di dalam ayat-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ

Artinya : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah [2] : 155).

Siapakah mereka yang sabar? Ayat-ayat berikutnya mengatakan:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ. الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ. أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

Artinya : “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah [2] : 156-157).

Berkaitan dengan hal tersebut, Imam Ath-Thabari menjelaskan, “Ini adalah pemberitaan dari Allah kepada para pengikut Rasul-Nya, bahwa Allah akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat, supaya nyata diketahui orang yang mengikuti Rasul dan orang yang berpaling.”

Untuk itu, jika kita sebagai Muslim tertimpa musibah, Rasulullah SAW mengajarkan doa, yaitu :

إنّاَ لِلهِ وإنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أجُرْنِي فِي مُصِيبَتي وأَخْلِفْ لِي خَيْراً مِنْها

Artinya:  “Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya”

Bagi orang beriman, musibah itu bisa jadi karena Allah sedang menyiapkan kita ke tempat yang mulia di sisi-Nya. Atau justru Allah bermaksud menerima kembali kita sebagai hamba-Nya, jika dengan musibah itu kita beristighfar, bertaubat, dan mengakui segala kesalahan kita, dan mengakui segala kemahabesaran Allah.

Sehingga Allah berkenan menghapus dosa-dosa kita dengan berbagai ujian, cobaan dan musibah itu.

Seperti disebutkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sabdanya :

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

Artinya : “Senantiasa bala` (cobaan) menimpa seorang mukmin dan mukminah pada tubuhnya, harta dan anaknya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).

Sebaliknya, jabatan terhormat, kedudukan tinggi, kesenangan dan kekayaan juga bisa menjadi musibah bagi seseorang. Jika semua itu tidak menjadikannya taat kepada Allah.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari musibah yang menimpa kita dan yang ada di sekitar kita. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)