Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Silaturahim dengan Sulaturahmi, Ternyata Berbeda Makna

Zaenal Muttaqin Editor : Widi Kusnadi - 3 jam yang lalu

3 jam yang lalu

8 Views

Ilustrasi (Foto: General AI)

DALAM budaya dan agama Islam, istilah silaturahim dan silaturahmi sering digunakan untuk menggambarkan konsep menjaga hubungan baik dengan sesama.

Namun, banyak yang belum memahami perbedaan mendasar antara keduanya. Meski terdengar mirip, kedua kata ini memiliki akar bahasa dan makna filosofis yang berbeda.

Mari kita telusuri perbedaannya melalui kajian linguistik, etimologi, dan konteks penggunaannya.

Asal Kata dan Makna Dasar

Baca Juga: Keistimewaan Puasa Enam Hari Bulan Syawal Seperti Berpuasa Setahun

Silaturahim, kata ini berasal dari bahasa Arab: ṣilatu ar-raḥim (صِلَةُ الرَّحِمْ). Ṣilah (صِلَةُ) artinya “menyambung” atau “menjalin hubungan”. Ar-raḥim (الرَّحِمْ) merujuk pada rahim, organ tempat janin berkembang.

Dalam konteks kekerabatan, raḥim melambangkan ikatan darah atau hubungan keluarga.

Dengan demikian, silaturahim secara harfiyah berarti menyambung tali (hubungan) kekerabatan.

Konsep ini menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan keluarga atau kerabat yang memiliki ikatan darah, seperti orang tua, saudara, paman, bibi, dan lainnya.

Baca Juga: Syawalan di Semarang, Potret Harmoni Budaya dan Peningkatan Ekonomi Rakyat

Dalam ajaran Islam, silaturahim sebagai ibadah sosial yang sangat dianjurkan, bahkan disebut dalam hadis sebagai salah satu faktor yang memperpanjang umur dan melapangkan rezeki.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ” (رواه البخاري ومسلم)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini dengan jelas memerintahkan umat Islam yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk senantiasa menjaga dan menyambung tali silaturahim. Ini menunjukkan betapa pentingnya amalan ini dalam Islam.

Baca Juga: Sungkeman, Tradisi Penuh Makna dalam Momen Idul Fitri

Sebaliknya, dilarang memutuskan hubungan silaturahim sebagaimana disebutkan dalam hadis:

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ” (رواه البخاري ومسلم)

Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberikan peringatan yang sangat keras terhadap perbuatan memutus tali silaturahim. Dengan menyatakan bahwa pelakunya tidak akan masuk surga, hadis ini menunjukkan betapa besar dosa dan bahaya dari perbuatan tersebut dalam ajaran Islam.

Baca Juga: Kerasnya Hati Orang Yahudi

Sedangkan Silaturahmi, kata ini sering dianggap sebagai varian dari silaturahim, tetapi secara linguistik, akarnya berbeda.

Ṣilah tetap berarti “menyambung”. Ar-raḥmi (الرَّحْمِي) berasal dari kata raḥmah (رَحْمَة), yang berarti kasih sayang atau belas kasih. Jadi, silaturahmi secara harfiah bermakna menyambung kasih sayang.

Berbeda dengan silaturahim yang terbatas pada hubungan darah, silaturahmi memiliki cakupan lebih luas: menjalin hubungan penuh kelembutan dan empati dengan semua orang, baik kerabat maupun non-kerabat.

Konsep ini mencakup sikap saling memaafkan, berbagi kebaikan, dan merawat hubungan sosial tanpa batasan genealogis.

Baca Juga: Wae Rebo: Desa di Atas Awan dengan Rumah Adat Unik

Perbedaan Konteks dan Cakupan

Silaturahim: Fokus pada Ikatan Darah

Silaturahim bersifat eksklusif karena hanya berlaku untuk keluarga atau kerabat dekat.

Tujuannya adalah memperkuat ikatan biologis, menghindari permusuhan antarkeluarga, dan memastikan hak-hak kerabat terpenuhi (misalnya melalui zakat, warisan, atau dukungan moral).

Baca Juga: 15 Tips Menjadi Ayah yang Baik: Panduan untuk Ayah Milenial

Contoh konkretnya adalah berkunjung ke rumah saudara, membantu sepupu yang kesulitan, atau memediasi konflik dalam keluarga besar.

Silaturahmi: Kasih Sayang Universal

Silaturahmi bersifat inklusif dan universal. Konsep ini mendorong manusia untuk membangun hubungan harmonis dengan siapa pun, termasuk tetangga, teman, kolega, atau bahkan orang asing.

Nilai utamanya adalah empati, toleransi, dan kepedulian sosial. Contohnya adalah menyantuni anak yatim non-kerabat, berbuat baik kepada tetangga yang berbeda agama, atau merajut persahabatan dengan rekan kerja.

Baca Juga: Ahlul Qur’an: Mencintai, Menghafal, dan Mengamalkan

Mengapa Keduanya Sering Tertukar?

Kesalahan umum terjadi karena faktor fonetik (pelafalan) dan adaptasi bahasa. Dalam bahasa Arab, istilah yang benar adalah ṣilatu ar-raḥim.

Namun, dalam percakapan sehari-hari di Indonesia, pengucapan silaturahmi lebih populer.

Hal ini mungkin dipengaruhi oleh keinginan untuk menekankan aspek kasih sayang (raḥmah) yang lebih luas, sehingga masyarakat “memodifikasi” istilah aslinya.

Baca Juga: Meniti Jalan Ahlul Qur’an: Menggapai Derajat Mulia

Akibatnya, makna silaturahim dan silaturahmi sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki dimensi yang berbeda.

Perspektif Agama dan Budaya

Dalam Islam Al-Qur’an dan hadis lebih banyak menggunakan istilah ṣilatu ar-raḥim.

Misalnya, dalam Surah Ar-Ra’d ayat 21, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Baca Juga: Menggapai Keutamaan Ahlul Qur’an di Era Modern

وَا لَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَاۤ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖۤ اَنْ يُّوْصَلَ

“Dan orang-orang yang menyambung apa yang diperintahkan Allah untuk disambung (yakni silaturahim).”

Namun, Islam juga mengajarkan pentingnya raḥmah (kasih sayang) kepada seluruh makhluk, seperti dalam hadis:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:”لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه

Baca Juga: Ayah sebagai Teladan: Menginspirasi Generasi Berikutnya

(رواه البخاري ومسلم)

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak beriman (dengan iman yang sempurna) salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menekankan pentingnya rasa persaudaraan dan kepedulian dalam Islam. Seorang Muslim yang beriman dengan sempurna akan selalu menginginkan kebaikan dan kemajuan bagi saudaranya sebagaimana ia menginginkannya untuk dirinya sendiri.

Dengan kata lain, silaturahim adalah bagian dari silaturahmi, tetapi silaturahmi mencakup nilai yang lebih luas.

Budaya di Indonesia  

Masyarakat Indonesia kerap menggabungkan kedua konsep ini. Tradisi mudik Lebaran, misalnya, tidak hanya tentang bertemu keluarga (silaturahim), tetapi juga saling memaafkan dan berbagi kebahagiaan dengan semua orang (silaturahmi).

Nilai gotong royong dan tepa selira juga mencerminkan semangat silaturahmi yang mengutamakan keharmonisan sosial.

Mana yang Lebih Utama?

Keduanya penting, tetapi konteksnya berbeda. Silaturahim wajib diprioritaskan karena menyangkut hak-hak keluarga yang telah diatur dalam syariat. Memutuskan hubungan dengan kerabat dianggap dosa besar.

Adapun Silaturahmi adalah nilai tambah yang memperluas kebaikan silaturahim ke lingkup masyarakat. Ia menjadi bukti bahwa kasih sayang tidak boleh dibatasi oleh garis keturunan.

Perbedaan silaturahim dan silaturahmi terletak pada cakupan dan esensinya. Silaturahim mengikat kita pada kewajiban moral terhadap keluarga, sementara silaturahmi mengajak kita untuk menebar kasih sayang ke seluruh umat manusia.

Keduanya saling melengkapi, dengan menjaga silaturahim, kita membangun fondasi keluarga yang kuat; dengan memperkuat silaturahmi, kita menciptakan masyarakat yang penuh empati.

Jadi, mari menyambung rahim (keluarga) sekaligus memperluas rahmi (kasih sayang) demi kehidupan yang lebih harmonis! []

Mi’raj News Agency (MINA) 

Rekomendasi untuk Anda

Kolom
Pemudik di Terminal Pulo Gebang, Jakarta Timur (foto: Beritajakarta.id)
Indonesia
Kolom