Siswa Bosan Sekolah Daring

Oleh: Illa Kartila, Redaktur Senior Kantor Berita MINA

Para siswa-siswi tampaknya sudah merasa bosan dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau beken juga disebut sekolah daring – kebijakan pemerintah untuk menyiasati kendala dalam program belajar mengajar di masa pandemi Covid-19.

Keiza, murid kelas 2 sebuah SDIT pagi itu duduk dengan mimik malas di depan laptop – setelah sepagian dibujuk untuk menyiapkan buku-buku pelajaran – guna mengikuti sekolah daring yang biasa berlangsung dari pkl 08.00-12.00 WIB. Dia didampingi ibunya yang juga sedang bekerja dari rumah (WFH).

Dengan gelisah dan tidak konsentrasi, anak itu bolak-balik bertanya pada ibunya, “bunda jam berapa sekarang. Masih lama ya belajarnya. Aku suka bun kalo sudah hari Jumat, soalnya besoknya libur dua hari.”

Reza, siswa kelas 5 sebuah Sekolah Dasar Islam ternama di Kota Depok, mengaku sangat bosan mengikuti sekolah daring. “Gak seru, kayak sekolah boongan, tugasnya banyak. Waktu sekolah biasa, semua pelajaran diselesaikan di sekolah, tidak jadi PR.”

Maka ketika diwacanakan bahwa sekolah tatap muka akan digelar lagi mulai Januari 2021, anak itu merasa sangat senang. “Asyik pergi sekolah lagi, ketemu teman-teman, bisa main futsal bareng lagi, bisa jajan sama-sama saat pulang sekolah.”

Sayang Dinas Pendidikan Kota Depok membatalkan rencana sekolah tatap muka yang sedianya dijadwalkan pada Januari 2021, karena masih fluktuatifnya kasus penyebaran Covid-19 di kota ini. “Keputusan ini diambil sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap kesehatan dan keselamatan anak didik,” kata Kepala Disdik, Mohammad Thamrin.

“Secara umum kami sudah rapat dengan Satgas Pencegahan Covid-19 Kota Depok. Melihat perkembangan dan situasi, kami memutuskan tidak melaksanakan pembelajaran secara tatap muka di semester genap tahun 2021,” ujarnya.

Dengan demikian, menurut dia, kegiatan belajar mengajar (KBM) masih tetap dilakukan secara daring. Saat ini sedang dirumuskan pedoman PJJ yang dilaksanakan hingga Juli 2021. “Namun demikian bila kondisi Kota Depok semakin membaik, tidak tertutup tertutup kemungkinan diadakan tatap muka di pertengahan semester,” katanya.

Dampak pada Kesehatan Jiwa

Kebosanan yang dirasakan anak-anak dibenarkan dosen Fakultas Ekologi Manusia IPB, Yulina Eva Riany dengan menyebutkan, di Indonesia implementasi kebijakan pembatasan kegiatan pembelajaran di sekolah, berdampak signifikan pada kesehatan mental para siswa meskipun dengan derajat yang bervariasi.

Data dari survei penilaian cepat yang dilakukan oleh Satgas COVID-19 (BNPB 2020), kata Eva menunjukkan, 47 persen anak Indonesia merasa bosan di rumah. Sementara 35 persen merasa khawatir ketinggalan pelajaran, 15 persen anak merasa tidak aman, 20 persen anak merindukan teman-temannya dan 10 persen anak merasa khawatir tentang kondisi ekonomi keluarga.

PJJ yang dilaksanakan di Kota Bandung sejak pandemi covid-19 berlangsung lebih didominasi pemberian tugas kepada siswa, sehingga membuat mereka bosan. Kasi Kurikulum Disdik Kota Bandung, Bambang menyebut, dinasnya melakukan survei tentang PJJ k periode April hingga Juli 2020 melibatkan responden 44 ribu siswa, 4 ribu orang tua siswa, dan 7 ribu guru.

Atas pertanyaan bagaimana pelaksanaan PJJ, 89,6 persen siswa bilang bosan. Kebosanan muncul akibat terlalu banyak tugas yang diberikan guru. Sementara itu, jawaban guru tentang metode yang digunakan selama PJJ, 91,8 persen memberikan tugas. “Survei kepada 4 ribu orang tua, 16,7 persen tidak mengerti konten dan 6,8 persen orang tua merasa terbebani,” ujarnya.

Rasa jenuh atau bosan yang dialami siswa saat PJJ, dinilai psikolog Ifa Hanifah Misbach, merupakan hal yang wajar, tetapi harus dicarikan solusinya. “Artinya, kuantitas jumlah beban tugas pada murid bukan menjadi ukuran guru berhasil menyelesaikan materi, tetapi yang terpenting justru memastikan proses pembelajaran memiliki makna untuk siswa dalam kehidupan sehari-hari.”

Direktur Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Praptono mengakui, sebagian guru masih mengalami kendala dalam melakukan PJJ. “Hasil survei yang dilakukan Kemendikbud, sebanyak 60 persen guru mengalami permasalahan dalam pembelajaran yang melibatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).”

Menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak, Seto Mulyadi rasa bosan pada anak bisa mengarah pada tindak kekerasan jika para orang tua salah dalam mendampingi anak belajar di rumah. Artinya, karena anak bosan, lantas dia berontak, kemudian dibentak dan dimarahi orang tua. “Itu tindak kekerasan terhadap anak. Jadi, jangan sampai ini terjadi saat anak belajar dari rumah.”

Dosen Psikologi di Universitas Gunadarma yang akrab disapa Kak Seto itu mengatakan, dalam melakukan aktivitas belajar di rumah, diperlukan kreativitas orang tua serta mental yang tahan banting. Dalam PJJ ortu menggantikan peran guru dan teman di sekolah. “Menjadi sahabat anak merupakan kunci dalam sekolah dari rumah, sehingga anak-anak bisa gembira dan berprestasi.”

Tips Atasi Kebosanan

Untuk mengurangi kebosanan para siswa pada PJJ, pakar pendidikan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Muhammad Zuhdi menyebut ada empat langkah. Pertama, guru dapat saling bekerja sama untuk mendisain pembelajaran yang integratif. Misalnya, guru sains dengan guru matematika dan bahasa bersama merancang materi yang mencakup tiga mata pelajaran itu.

“Pembelajaran bisa dalam bentuk cerita, problem solving dan kuis yang menggunakan teknologi sederhana,” katanya

Kedua, guru perlu meninjau kembali kurikulum dan esensi yang ingin dicapai. Ia meminta guru agar tidak terjebak dengan materi yang sudah ada di buku teks, kemudian dipindahkan ke dunia daring.

Di samping itu, guru juga perlu mengenal dunia gim daring (online game) yang digandrungi anak-anak sekarang. “Jika untuk membuatnya sulit, setidaknya guru memahami alur berpikir anak-anak dengan gim-gim tersebut,” katanya.

Zuhdi juga menyarankan agar guru dapat menggali potensi siswa dengan lebih banyak mengekspresikan ide mereka lewat berbagai cara, seperti membuat puisi, membuat lagu, membuat poster atau gambar, hingga animasi. “Tidak perlu seragam, yang penting ekspresi mereka terungkapkan,” ujarnya.

Hal terakhir inilah yang diterapkan oleh Aaf Iffatunnafai, pengajar Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Ulama (MTs NU) Putri Buntet Pesantren. Ia memberi tugas anak didiknya untuk membuat poster dukungan bagi orang-orang yang berjuang di tengah pandemi virus Corona saat ini.

Melaksanakan PJJ ternyata bukan perkara mudah baik bagi siswa, guru maupun orang tua. Untuk para siswa, sekolah dari rumah terasa sangat tidak normal. Banyak guru yang masih gagap teknologi informasi (IT) dan tidak siap dengan aplikasi-aplikasi pembelajaran daring. Sementara para orang tua kaget dan tidak memiliki pengetahuan tentang ilmu kependidikan.

Selain itu banyak warga masyarakat, khususnya dari kelompok kurang mampu, mengalami kesulitan menyediakan sarana dan prasarana daring bagi anak-anak mereka untuk mengikuti PJJ. Tambahan pula, banyak daerah terpencil yang tidak terjangkau jaringan internet sehingga menyulitkan anak-anak belajar.

Jika Keiza dan Reza yang tinggal di komplek perumahan di sebuah kota, memiliki perangkat daring yang relatif memadai saja merasa bosan dengan PJJ, bagaimana juga dengan anak-anak nun jauh di desa-desa terluar yang untuk mendapat jaringan internet harus berjalan kaki beberapa kilometer dari rumah mereka. Semoga pandemi lekas berlalu dan anak-anak bisa bersekolah lagi dengan gembira.
(T/RS1/R1)

Mi’raj News Agency (MINA)