Situs Arkeologi Sebastia, Target Baru Permukiman Ilegal

Israel dalam usahanya merebut tanah Palestina, semakin gencar melakukan pembangunan permukiman ilegal, meski di bawah kecaman PBB dan dunia Internasional. Dalam Kunjungan beberapa waktu lalu ke pos penjagaan ilegal Netiv Ha’avot, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, “tidak akan ada lagi penghentian permukiman. Tanah Israel adalah milik kita, dan akan tetap menjadi milik kita”.

Sekretaris Jenderal Inisiatif Nasional Palestina Mustafa Barghouti mengungkapkan, permukiman ilegal Israel telah meningkat 100 persen sejak Januari 2017. Baru-baru ini, Israel membangun jalan Apartheid Street di Yerusalem, Pendahuluan Proyek Permukiman Ilegal Terbesar.

Ahli permukiman Israel Khalil Al-Tafkaji mengatakan, Jalan Apartheid dibuka oleh otoritas Israel di Yerusalem yang diduduki, sebagai bagian dari Ring Road, terhubung dengan rencana permukiman besar untuk memotong sisa Tepi Barat yang diduduki Israel

Saat ini, Kota Sebastia, Palestina, tepatnya di wilayah barat laut Kota Nablus, menjadi target permukiman ilegal paling baru, yang merupakan indikator berbahaya dari rencana Israel untuk sepenuhnya mengendalikan situs arkeologi dan wisata di Palestina.

Kota ini merupakan tempat yang sangat penting untuk ditinggali di Palestina dan termasuk objek wisata religius, karena tempat makam Nabi Yahya, putra Nabi Zakaria.

Dipercaya bahwa jasad Nabi Yahya ditemukan di sebuah makam dekat masjid tua di tengah kota, sementara kepalanya dimakamkan di ibukota Suriah, Damaskus.

Hambatan Perjanjian Oslo

Berdasarkan perjanjian Oslo antara Israel dan Palestina pada 1995, wilayah Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur dibagi menjadi area A, B, dan C.

Area A berada di bawah kendali administrasi dan keamanan Palestina. Area B berada di bawah kendali administrasi Palestina dan petugas keamanan Israel. Area C berada di bawah kendali administrasi dan keamanan eksklusif Israel.

Sekretaris Kotamadya Sebastia Qadri Ghazal, mengatakan bahwa kota itu, yang dihuni oleh sekitar 3.000 warga Palestina, telah diklasifikasikan sebagai daerah C dan B, yang merupakan penghalang utama dalam menghadapi pengembangan situs arkeologi.

Ia mengungkapkan, pihak berwenang Israel melarang mereka bekerja karena mereka berada di daerah C dan sebisa mungkin untuk mengendalikannya.

Ghazal menambahkan, kota itu menjadi saksi serangan harian para pemukim ekstrimsi Yahudi ke situs arkeologi dan wisata, yang menghilangkan identitas Palestina, dengan memaksakan karakter Yahudi di situs bersejarah itu.

Khaled Tamim, seorang peneliti dan pakar situs arkeologi Palestina, mengatakan bahwa ambisi para pemukim untuk mengendalikan kota bukanlah hasil dari beberapa pekan terakhir, melainkan, itu adalah rencana yang datang setelah beberapa tahun lalu, tetapi apa yang nyata adalah bahwa meningkatnya jumlah pemukim ilegal ke dalam bangunan Romawi dan gereja Bizantium.

Para penjual barang warisan, sulaman, dan barang antik mengeluh tentang menurunnya daya beli dalam beberapa bulan terakhir, karena kurangnya kebijakan untuk mendorong pariwisata dari otoritas resmi, serta penghapusan kota dari situs bersejarah oleh pendudukan Israel ketika wisatawan asing mengunjungi Palestina.

Situs Penting di Sebastia

Situs arkeologi yang paling penting dan menonjol dari kota Sebastia menurut pemerintas setempat adalah, Basilika dan Roman Bayader, sebuah kotak batu dengan deretan kolom persegi panjang, garis pangkalan di sebelah barat, dan jalan beraspal dengan mosaik, teater, terletak di tengah-tengah Piazza. Selain itu juga terdapat Temple of Augustus, berisi empat belas baris kursi berlapis batu yang berasal dari abad kedua Masehi serta Menara Pertahanan Hellenic, sebuah menara pengawal, garis pertahanan pertama untuk kota Sebastia, yang berasal dari abad ke-4 SM, yang beberapa sisa pilarnya dapat dilihat di antara pohon-pohon Zaitun. (AT/Ast/R01)

Sumber : Palinfo

Mi’raj News Agency (MINA)