Hari Raya Idul Fitri bukan sekadar perayaan setelah berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan. Lebih dari itu, lebaran adalah momentum spiritual yang penuh makna, di mana seorang Muslim merayakan kemenangan atas hawa nafsu, memperkuat hubungan dengan sesama, dan kembali kepada fitrah yang suci. Suasana penuh kebahagiaan terasa di mana-mana, gema takbir berkumandang, keluarga berkumpul dalam kebersamaan, dan tangan saling berjabat sebagai simbol keikhlasan dalam memaafkan.
Namun, di tengah kegembiraan ini, sering kali esensi sejati Idul Fitri terlupakan. Kesibukan menyiapkan hidangan, memilih pakaian terbaik, hingga menghadiri berbagai acara keluarga, tak jarang membuat seseorang lalai akan makna utama lebaran. Idul Fitri bukan hanya tentang pesta atau baju baru, tetapi tentang bagaimana kita menutup Ramadhan dengan hati yang bersih, memperkuat hubungan dengan Allah dan sesama, serta tetap menjaga nilai-nilai Islam dalam setiap langkah yang diambil.
Agar perayaan Idul Fitri semakin bermakna, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan.
Memperbanyak Syukur dan Takbir
Baca Juga: Perempuan Palestina: Simbol Keteguhan dan Perlawanan
Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, kita sampai di hari yang penuh keberkahan ini dengan harapan bahwa dosa-dosa kita telah diampuni oleh Allah. Ini adalah kesempatan untuk mensyukuri nikmat kehidupan, kesehatan, dan kesempatan untuk terus meningkatkan kualitas keimanan. Syukur ini tidak hanya diungkapkan dengan kata-kata, tetapi juga dengan perbuatan, yaitu dengan tetap mempertahankan kebiasaan baik yang telah dibangun selama Ramadan.
Allah SWT berfirman:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan (puasa) dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Baca Juga: Perak Indonesia Luncurkan Kado Mukena Nusantara
Ayat ini menegaskan bahwa setelah menyelesaikan ibadah puasa, kita dianjurkan untuk memperbanyak takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah dan perwujudan rasa syukur.
Kemenangan di hari Idul Fitri bukan sekadar karena kita telah menyelesaikan puasa sebulan penuh, tetapi sejauh mana puasa itu mengubah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. Apakah setelah Ramadan kita lebih sabar? Lebih peduli kepada sesama? Lebih dekat dengan Allah? Jika tidak ada perubahan dalam diri, maka kita perlu bertanya: apakah ibadah kita selama Ramadan benar-benar bermakna atau hanya sekadar rutinitas?
Maka dari itu, mari kita jadikan Idul Fitri sebagai momentum untuk lebih mendekat kepada Allah, memperbanyak syukur, dan menjadikan setiap langkah kita lebih bermakna dalam menjalani kehidupan. Karena sejatinya, kemenangan yang hakiki adalah ketika kita tetap istiqamah dalam kebaikan setelah Ramadan berlalu.
Menjaga Shalat dan Ibadah Sunnah
Baca Juga: Pentingnya Pendidikan Islam bagi Muslimah
Lebaran di Indonesia selalu identik dengan tradisi yang begitu meriah. Mulai dari mudik yang penuh perjuangan, memasak hidangan khas seperti ketupat dan opor ayam, hingga berkumpul bersama keluarga besar. Di sela-sela kebahagiaan ini, tak jarang kita begitu sibuk hingga melupakan satu hal penting: menjaga shalat lima waktu dan ibadah sunnah.
Bayangkan, setelah sebulan penuh mendisiplinkan diri dengan tarawih, witir, dan memperbanyak doa, mengapa di hari kemenangan justru kita menjadi lengah? Shalat yang biasanya tepat waktu saat Ramadan, kini mulai tertunda karena agenda Lebaran yang padat. Padahal, keberhasilan Ramadhan justru diuji setelahnya: apakah kita tetap istiqomah dalam ibadah, atau kembali ke kebiasaan lama?
Mengutamakan Silaturahmi dan Memaafkan
Lebaran menjadi momen istimewa di mana tradisi silaturahmi menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Berkumpul bersama keluarga besar, mengunjungi sanak saudara, dan bertemu teman lama menjadi aktivitas yang dinanti-nantikan. Namun, lebih dari sekadar tradisi, silaturahmi adalah ajaran Islam yang menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Baca Juga: Tips Berpakaian Syar’i Namun Tetap Gaya
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa: 1)
Namun, agar silaturahmi benar-benar membawa keberkahan, ada beberapa hal yang sobat muslimah perlu diperhatikan:
Niat yang ikhlas karena Allah agar silaturahmi mendatangkan kebaikan dan pahala.
- Menghormati tuan rumah dengan memberi kabar kedatangan kita terlebih dahulu dan perhatikan kondisi mereka agar tidak merepotkan, kecuali ketika mereka sudah dalam kondisi siap untuk dikunjungi kapan pun.
- Berpakaian sopan dan menutup aurat sesuai dengan syariat Islam, bersih, dan harus agar yang dikunjungi tidak merasa terganggu.
- Hindari ghibah dan perbincangan Tak Bermanfaat agar momen silaturahmi mendatangkan pahala dan tidak mendatangkan dosa.
- Jangan mengajukan pertanyaan yang Mengganggu. Seringkali masyarakat kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak berkenan di hati orang lain, baik dengan maksud yang baik atau ada motif tertentu, seperti pertanyaan “Kapan nikah?”, “Kok belum punya anak?”, atau “Sudah kerja di mana?”, dan pertanyaan sejenis lainnya. Karena hal tersebut bisa menjadi tekanan bagi orang lain yang mengakibatkan renggangnya hubungan seseorang. Sebaiknya, pilih topik pembicaraan yang lebih positif dan membangun.
- Saling mendoakan dengan doa yang baik dan tulus untuk kebahagiaan serta keberkahan keluarga dan sahabat.
Tidak Berlebihan dalam Makan dan Minum
Lebaran identik dengan hidangan khas seperti ketupat, opor ayam, rendang, dan aneka kue kering yang menggoda selera. Setelah sebulan penuh menahan lapar dan dahaga, keinginan untuk menikmati berbagai makanan tentu sangat besar. Namun, Islam mengajarkan keseimbangan dalam segala hal, termasuk dalam makan dan minum. Allah berfirman:
Baca Juga: Muslimah, Jangan Jadi Dermawan yang Rugi!
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Berlebihan dalam makan tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan, tetapi juga dapat menghilangkan makna kesederhanaan yang telah kita latih selama bulan Ramadhan. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tetap menjaga keseimbangan saat menikmati hidangan Lebaran:
- Nikmati makanan secukupnya tanpa berlebihan agar tetap sehat dan bugar.
- Pilih Makanan yang Seimbang. Jangan hanya mengonsumsi makanan berlemak, tetapi perbanyak sayur dan buah agar tubuh tetap segar.
- Hindari Makan karena Lapar Mata. Jangan sampai hanya karena melihat banyak hidangan, kita mengambil lebih dari yang bisa dikonsumsi.
- Jaga Adab Makan. Makan dengan perlahan, tidak tergesa-gesa, ambil dari yang paling dekat dan selalu mengucapkan bismillah sebelum makan serta alhamdulillah setelahnya.
- Ingat Mereka yang Kurang Beruntung. Lebaran juga menjadi momen berbagi. Jika memiliki kelebihan makanan, lebih baik disedekahkan kepada mereka yang membutuhkan.
Momen Idul Fitri yang penuh keberkahan dan kebahagiaan ini, mari kita rayakan dengan benar sesuai ajaran Islam, memperkuat hubungan sosial, dan tetap berada dalam ketaatan kepada Allah. Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.
Baca Juga: Menjadi Manusia yang Penuh Kasih Sayang