Solidaritas untuk Azerbaijan, Pemuda OKI Indonesia Gelar Peringatan Tragedi Khojaly

Jakarta, MINA – Pemuda Organisasi Kerjasama Islam Indonesia ( Indonesia) dan Indonesia NYC dengan dukungan Eurasian Regional Center (ICYF-ERC) menggelar acara Peringatan 31 tahun bertajuk “Recognize to Reconcile: Perspektif Hubungan Internasional dan Hukum”.

Acara berlangsung di Aula Buya Hamka Masjid Raya Al-Azhar Jakarta pada Senin (27/2), diikuti oleh sekitar 120 sivitas akademika, dosen, dan mahasiswa.

Presiden Youth Organization of Indonesia Ibu Astrid Nadiya Rizqita, Plt Dirjen ICYF-ERC Vusal Gurbanov (online), serta Wakil Presiden ICYF dan Indonesia NYC Tantan Taufiq Lubis menyampaikan pidato tentang acara yang didedikasikan untuk pengakuan internasional atas tragedi di dunia.

Pembicara juga menyebutkan bahwa pemuda Indonesia menyuarakan kebenaran Karabakh di kawasan Asia Tenggara dan selalu membela posisi yang adil.

Selanjutnya, Duta Besar Republik Azerbaijan untuk Republik Indonesia, Jalal Mirzayev, menyampaikan pidatonya sebagai pembicara kunci dan memberikan informasi sejarah tragedi Khojaly.

Dia menyebut kejadian ini sebagai “kejahatan terhadap kemanusiaan” yang dilakukan pada abad ke-20.

“Impunitas mengarah pada kejahatan internasional jenis ini, dan menekankan pentingnya membawa para pelaku genosida Khojaly ke pengadilan,” tegas Dubes Mirzayev.

Pembicara sesi panel yang dimoderatori Sururoh Uthman dari Santri Diplomacy Academy, yakni Ketua Komisi Hubungan Internasional dan Kerjasama Internasional Majelis Ulama Indonesia, Dubes Bunyan Saptomo, Dosen Kajian Global Strategis Universitas Indonesia Dr. Sya’roni Rofi’i, Direktur Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas Feri Amsari S.H. M.H. LL.M, dan Dekan Fakultas Hukum Universitas Al Azhar Indonesia Dr. Yusup Hidayat S.Ag, M.H.

Panel dilakukan dalam perspektif hubungan internasional, OKI, Hukum Internasional dan Humaniter, dan amanat konstitusi Indonesia untuk mengambil bagian dalam perdamaian dunia. Dalam pidato dan diskusi mereka mencatat pentingnya pengakuan tragedi Khojaly sebagai genosida oleh masyarakat dunia dalam skala yang lebih besar.

Para peserta membacakan doa untuk para korban Khojaly, serta digelar juga pameran foto yang menggambarkan tragedi tersebut, dan menonton film dokumenter pendek dalam rangka acara peringatan Khojaly.

Pada 25-26 Februari 1992, telah terjadi pembantaian etnis Azerbaijan di kota Khojaly Azerbaijan. Sejarah mencatat momentum itu sebagai Tragedi Khojaly atau Pembantaian Khojaly.

Menurut Proyek Keadilan untuk Khojaly dikutip dari Anadolu Agency, pada akhir 1987, Republik Soviet Armenia secara terbuka mengklaim wilayah Oblast Otonomi Nagorno-Karabakh Republik Soviet Azerbaijan.

Setelah pembubaran Uni Soviet, pada Oktober 1991, Khojaly, sebuah distrik yang terletak di wilayah pegunungan Karabakh di Azerbaijan, rumah bagi sekitar 7.000 orang, dikepung sepenuhnya oleh angkatan bersenjata Armenia.

Pada malam tanggal 25-26 Februari, setelah pengeboman artileri besar-besaran, militer Armenia bersama Resimen Infantri Bermotor ke-366 bekas Uni Soviet menduduki Khojaly.

Menurut Justice for Khojaly, dari 7.000 penduduk Khojaly, 5.379 dideportasi dan 613 orang, termasuk 63 anak-anak, 106 wanita dan 70 warga lanjut usia, dibunuh oleh pasukan pendudukan Armenia.

Selain itu, 1.275 warga disandera dan disiksa, 487 luka-luka, sedangkan nasib 150 tawanan, termasuk 68 perempuan dan 26 anak masih belum diketahui.(R/R1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)