Spesialis Kulit: LGBT Lebih Mudah Tertular HIV dan Kanker

Suasana Stadium Generale di Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq, Cawang, Jakarta. (Foto: MINA)

 

Jakarta – MINA, Spesialis Kulit dan Kelamin, dr Dewi Inong Irana mengatakan, kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) atau yang dikenal sebagai LGBT, 60 kali lipat lebih mudah tertular HIV/AIDS dan penularan yang paling mudah melalui dubur.

Dr Inong, begitu disapa, menyampaikan pada Stadium Generale Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta bertema “Perilaku Zina dan LGBT: Bahaya dan Penanganannya”, di Aula Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Jakarta, Sabtu (13/1).

“Melalui seminar kali ini, saya nggak bosan menyampaikan dampak buruk perilaku zina dan LGBT dari segi kesehatan. Saya keras terhadap hal ini,” kata Inong di depan para mahasiswa seminar yang datang dari berbagai kampus di Jakarta.

Inong mengawali materinya dengan mengungkap sejumlah penyakit yang disebabkan perilaku zina dan LGBT seperti HIV/AIDS dan Kanker Serviks. Ia sendiri mengakui memiliki seorang pasien mahasiswa yang baru berumur 22 tahun. Mahasiswa itu mengidap sipilis stadium dua.

“Ketika saya tanya soal pacar, mahasiswa tersebut mengemukakan memiliki empat pacar yaitu satu wanita dan tiga pria. Mahasiswa itu bilang bahwa yang perempuan tidak saya apa-apakan karena berbahaya, bisa hamil. Saya mencari yang aman saja,” ujar Inong mengutip perkataan mahasiswa itu.

Untuk saat ini, kata dia, banyak anak muda yang merasa LGBT itu aman. Padahal kenyataannya itu penularan termudah HIV/AIDS.

“Selain HIV/AIDS, ada penyakit lain akibat LGBT yang tak kalah berbahayanya, contohnya Sarkoma Kaposi, sebuah penyakit baru yang belum ada penawarnya,” katanya.

Sarkoma Kaposi adalah kanker yang menyebabkan sebagian kecil jaringan abnormal tumbuh di bawah kulit, di sepanjang mulut, hidung, dan tenggorokan atau di dalam organ tubuh lainnya. Bagian tersebut biasanya berwarna merah atau ungu dan terbuat dari sel kanker dan sel darah.

Inong juga mengatakan, tidak ada satupun agama yang memperbolehkan hal itu, sebab dampak perilaku tersebut sangat buruk bagi kesehatan. Fitrah manusia sejak lahir adalah suka terhadap lawan jenis, bukan sesama jenis.

Meski demikian, Inong mengajak masyarakat untuk tidak mengacuhkan dan meninggalkan para pelaku buruk tersebut yang ingin bertaubat. “Kita harus punya taktik dalam berdakwah. Kita beri mereka kasih sayang, pengertian. Jangan ditakut-takuti,” katanya.

Pembicara lain, Konselor Yayasan Peduli Sahabat, Wulan Rigastutu menduga, pelaku gay disebabkan kurang akan kasih sayang keluarga terlebih sosok ayah. Sehingga ketika ada lelaki dewasa yang peduli terhadapnya mereka merasakan suasana baru yang nyaman. (L/faris/R06/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)