Spirit Pasca Ramadhan: Satu Rumah Satu Muzakki

Deni Rahman, Alumnus Institute Zakat of Science Khortoum Sudan.(Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Deni Rahman, Alumnus Institute Zakat of Science Khortoum Sudan

Walaupun bulan Ramadhan telah meninggalkan kita, sejatinya kita tidak melewatkannya begitu saja. Kita perlu sejenak merenungkan kembali nilai-nilai spiritualitas, perbaikan diri, dan peningkatan hubungan dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala selama Ramadhan. Ramadhan juga ternyata membawa pesan sosial penting, antara lain  semangat berbagi dan peduli terhadap sesama, yang tercermin dalam konsep ibadah zakat.

Zakat sebagaimana dituliskan Sayyid Sabiq dalam Fiqh As-Sunnah ialah nama dari suatu hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dikeluarkan seseorang kepada fakir miskin. Dinamakan zakat, karena di dalamnya terkandung harapan untuk beroleh berkah, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan berbagai kebajikan.

Namun zakat bukan semata-mata tentang berbagi harta, tetapi juga memperluas cinta, kepedulian, dan solidaritas sosial di antara umat muslim dan manusia secara luas. Zakat merupakan ibadah ibadah yang berdimensi ganda, selain untuk menggapai keridhoan serta mengharap pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, zakat juga ibadah yang berdimensi sosial.

Di beberapa tempat dalam Al-Quran, zakat banyak disebutkan dengan rangkaian kata yang saling beriringan dengan shalat, sehingga zakat memiliki kedudukan yang sama dengan shalat. Dengan penyebutan yang beriringan ini, shalat dan zakat tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, tidaklah seseorang diterima shalatnya apabila zakatnya tidak ditunaikan -jika sudah memenuhi syarat zakat-, demikian pula sebaliknya. Bahkan Ijma’ Ulama’ bersepakat akan kewajiban zakat ini dan bagi yang mengingkarinya berarti kafir dan dianggap keluar dari Islam.

Baca Juga:  Spekulasi Penyebab Kecelakaan Helikopter Presiden Iran

Satu Rumah Satu Muzakki

Ada beberapa istilah dalam bahasa Arab yang menujukan arti rumah seperti bait, daar, maskan, manzil, dan lainnya.

Kesemuanya memiliki makna tersendiri dan saling menunjang satu sama lain, karena dengan rumah, di situlah para penghuninya bermalam, berlindung dari panas dan dingin, beraktifitas/beredar di antara sesama keluarga, saling memberi dan mendapatkan ketenangan, sebagai tempat kembalinya setelah beraktifitas dan sebagainya.

Setiap rumah umat muslim sedianya berfungsi sebagai tempat terbaik nilai-nilai Islami ditanamkan. Dari situlah kemudian diharapkan lahir pribadi berkualitas yang mampu berkontribusi positif di lingkungan sekitar.

Di dalam rumah pula, seluruh anggota keluarga tidak hanya semata-mata beribadah membangun hubungan baik dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berpuasa di bulan Ramadhan dan, tetapi juga memahami bahwa Ramadan adalah waktu terbaik untuk membangun hubungan dengan sesama melalui berbagi baik dalam konsep zakat, spirit Ramadhan melahirkan satu rumah satu Muzakki.

Satu rumah satu muzaki tiap rumah tangga muslim dapat menjadi pusat kebaikan yang berkelanjutan dalam masyarakat. Setiap langkah kecil yang diambil dalam praktek zakat tidak hanya akan memberikan manfaat kepada yang membutuhkan, menciptakan kesadaran kolektif, tetapi juga menumbuhkan semangat kepedulian dan keberbagian.

Baca Juga:  Tank-tank Israel Kepung RS Al-Awda di Gaza Utara

Satu rumah satu muzakki dapat dimulai dengan pemahaman setiap anggota keluarga terhadap konsep zakat secara menyeluruh. Mulai dari hukum, ketentuan, keutamaan, ancaman meninggalkannya sampai pada manfaat sosialnya.

Pemahaman yang kuat akan mendorong komitmen yang lebih besar dalam menunaikan kewajiban zakat.

Semangat zakat dapat pula disitimulus dengan berinteraksi langsung dengan orang-orang yang menerima manfaatnya.

Anggota keluarga dapat mencari kesempatan untuk berkontribusi secara langsung dalam program-program zakat atau menyumbangkan barang-barang atau layanan kepada yang membutuhkan.

Literasi mengenali harta juga diperlukan, seperti hifdzul maal dalam bingkai maqashid syariah, bagaimana islam memandang harta, rambu-rambu dalam Islam terkait harta, dan ibadah-ibadah yang berhubungan dengan harta.

Tidak kalah penting adalah peran lembaga amil zakat. Amilin Zakat yang ada di Indonesia di berbagai level diharapkan meningkatkan perannya dalam memberikan edukasi kepada seluruh kaum muslimin, baik para muzakki, muzakki potensial maupun para mustahiq. Juga peran dalam hal pemerataan distribusi agar zakat membawa dampak lahirnya muzaki-muzaki baru.

Baca Juga:  BBM di Rasil Malam Ini: Iran Pasca Tewasnya Presiden Raisi

Mengacu data demografis, penduduk muslim Indonesia saat ini mencapai sekitar 229,62 juta jiwa atau sekitar 87,2%.

Anggap saja rumah umat Islam ada 100 juta rumah, dan setiap satu rumah memiliki minimalnya satu muzaki, kiranya problematika bangsa Indonesia khususnya dalam hal perekonomian perlahan akan dapat teratasi.

Di tengah-tengah kita sering terdengar program seperti satu rumah satu  sarjana, satu rumah satu hafidz Qur’an, dan program-program lainnya, ini tentu patut kita syukuri. Saya kira ini juga merupakan salah satu ikhtiar dalam merealisasikan terciptanya satu rumah satu muzaki.

Lazimnya, dengan ter-upgrade-nya skill individu dalam sebuah keluarga, baik tingkat pendidikannya maupun skill lainnya akan membawa dampak positif pada meningkatnya taraf hidup.

Semoga semangat Ramadan menerangi setiap rumah tangga dengan kebaikan dan kemurahan hati yang tak terbatas.

Semoga semangat Ramadan menginspirasi rumah-rumah kita semua untuk menjadi lebih baik dalam memberikan dan berbagi, tidak hanya selama bulan Ramadhan saja, tetapi sepanjang tahun.

Wallahu a’lam bish showab []

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Rana Setiawan

Editor: Widi Kusnadi