Sudah Terdata 48 Orang Meninggal Akibat Gempa dan Tsunami

Jakarta, MINA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data sementara per Sabtu, 29 September pukul 10.00 WIB akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, menyebabkan sedikitnya 48 orang meninggal dunia, 356 orang luka, dan ribuan rumah rusak.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho Sabtu (29/9) mengatakan, musibah yang terjadi di Sulawesi Tengah Jumat kemarin itu diawali dari gempa bermagnitudo 6 skala richter yang mengguncang Donggala pada pukul 14.00 WIB siang.

“Ini diawali dari gempa berkekuatan 6 skala richter pada jam 2 siang dengan kedalaman 10 kilometer pada jalur Sesar Palu Koro,” kata Sutopo saat konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Sabtu (29/9).

Akibat dari gempa tersebut, sedikitnya satu orang meninggal dunia, sepuluh orang luka-luka, dan puluhan rumah rusak, baik ringan maupun berat.

Sutopo mengatakan, kemudian pada pukul 17.02 WIB, terjadi gempa yang lebih besar, berkekuatan 7.7 skala richter. Awalnya BMKG menyampaikan 7.7 yang kemudian dimutakhirkan menjadi 7.4 skala richter dengan kedalaman 10 kilometer pada jalur Sesar Palu Koro.

“Gempa ini adalah gempa yang dangkal akibat Sesar Palu Koro yang dibangkitkan oleh formasi mekanisme dengan pergerakan struktur sesar mendatar mengiri,” katanya.

Gempa ini, kata Sutopo, memicu tsunami. Oleh karena itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan peringatan dini tsunami selama sekitar 34 menit diakhiri.

“Nah memang daerah Palu, Donggala, Sulawesi Tengah itu merupakan daerah yang rawan tinggi atau risiko tinggi terjadinya gempa bumi dan tsunami,” katanya.

Sutopo mengungkapkan, dalam sejarah beberapa kejadian, gempa-gempa yang mematikan diikuti oleh tsunami-tsunami yang menimbulkan korban jiwa, pernah terjadi di wilayah ini.

“Misalnya tahun 1927, tahun 1930, tahun 1968 dan sebagainya. Jadi berada pada jalur Sesar Palu Koro. Sementara gempa di Donggala ini memiliki intensitas gempa bumi di atas 6 MMI,” katanya.

Sutopo menjelaskan, berdasarkan pengalaman yang pernah terjadi, suatu wilayah atau daerah yang diguncang gempa dengan kekuatan atau intensitasnya di atas 6 MMI, biasanya bangunan-bangunan, rumah-rumah itu hancur.

“Seperti yang terjadi di Lombok itu intensitas gempanya 6 MMI. Sedangkan yang ada di Donggala dan Palu, lebih dari 6 MMI. Di Donggala 6 sampai 8 MMI diperkirakan mengalami kerusakan masif dan korban jiwa diperkirakan banyak,” katanya.

Sutopo mengatakan, salah satu dampak dari musibah di Donggala dan Palu adalah komunikasi lumpuh yang diakibatkan dari listrik padam sehingga pendataan dan pelaporan dampak gempa dan tsunami tidak dapat dilakukan dengan cepat.

“Tim SAR dan relawan masih menemukan beberapa korban meninggal akibat gempa dan
tsunami di Kota Palu dan Donggala. Jumlah korban masih pendataan,” katanya. (L/R06/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)