Sukarelawan Palestina Kampanyekan Selamatkan Panen Zaitun

Nablus, MINA –  Puluhan sukarelawan Palestina di Tepi Barat mengkampanyekan gerakan penyelamatan panen zaitun bagi petani.

Kampanye 10 hari bertujuan membantu dan melindungi petani yang dianggap berisiko tinggi terhadap serangan pemukim Israel. Demikian Al Jazeera melaporkan, Rabu (13/10).

Para sukarelawan, tua dan muda, tiba pada Rabu pagi di desa Jalud, pinggiran selatan Nablus, Tepi Barat, untuk membantu pemilik tanah memanen pohon zaitun mereka sesegera mungkin.

Kampanye yang dikoordinir Komite Persatuan Kerja Pertanian (UAWC), akan mencakup 12 desa di wilayah Nablus selatan, Ramallah dan Betlehem.

Gerakan ini melibatkan lebih dari 250 sukarelawan, termasuk mahasiswa, komite pertanian, dewan lokal, dan penduduk desa.

“Kami ingin memperkuat kendali atas sumber daya alam warga, terutama di daerah C yang terancam oleh pendudukan Israel,” kata Muayyad Bsharat, Kepala Advokasi UAWC.

Setidaknya 60 persen dari Tepi Barat yang diduduki diklasifikasikan sebagai Area C, di bawah kendali langsung tentara pendudukan Israel, dan di mana banyak pemukiman Yahudi berada di sana.

“Kehadiran sejumlah besar sukarelawan di tanah petani membuat para pemukim Yahudi tidak berani melakukan serangan. Paling tidak kami membawa 50 hingga 60 sukarelawan setiap hari. Ini adalah kampanye efektif menjauhkan para pemukim Yahudi,” lanjut Bsharat.

Ia menambahkan, para petani akan merasa bahwa mereka mendapat bantuan terutama di daerah yang paling sensitif, di mana mereka harus memetik buah zaitun dengan segera.

Kampanye serupa juga diluncurkan kelompok pemuda dan komite populer untuk musim ini, yang berlangsung hingga November.

Desa-desa Palestina di Nablus selatan menghadapi serangan paling sistematis oleh pemukim Yahudi di Tepi Barat, termasuk desa Qusra, Burin, dan ‘Urif.

Serangan termasuk penyerangan fisik dan pemukulan dengan batu dan pentungan, perusakan properti termasuk rumah, sekolah, dan mobil, serta pencurian dan perusakan tanaman dan ladang zaitun.

Pada 2020, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat 40 serangan oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina selama musim panen zaitun, 17 di antaranya di provinsi Nablus, diikuti oleh 10 di daerah Ramallah.

Pada 2019, pemukim membakar sekitar 1.000 pohon zaitun di Jalud.

Pertanian zaitun merupakan penghasilan utama para petani Palestina, yang seharusnya panen raya setiap tahunnya. Namun pemukim Yahudi dan pasukan pendudukan seringkali mencoba mengganggunya dan bahkan berusaha menggagalkannya, dengan cara mencabutnya, membuldosernya hingga membakarnya.

Bagi warga Palestina, zaitun bukan hanya komoditas utama panen para petani, tetapi juga menjadi simbol dan perwujudan kebangsaan Palestina. Bahkan diartikan sebagai manifestasi perlawanan Palestina terhadap pendudukan Israel. (T/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)