Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sungkeman, Tradisi Penuh Makna dalam Momen Idul Fitri

Widi Kusnadi Editor : Rudi Hendrik - 50 detik yang lalu

50 detik yang lalu

0 Views

Tradisi sungkeman yang berkembang di Jawa (foto: IG)

HARI Raya Idul Fitri merupakan momen yang sangat sakral dan penuh kehangatan di tengah masyarakat Indonesia, terutama bagi mereka dari suku Jawa. Suku Jawa saat ini tidak hanya bermukim di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun saat ini sudah tersebar di berbagai pulai di Indonesia.

Salah satu tradisi yang tak pernah absen dalam perayaan Idul Fitri di kalangan masyarakat Jawa adalah sungkeman. Tradisi ini tidak sekadar formalitas sosial, tetapi sarat akan nilai-nilai moral, spiritual, dan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tradisi sungkeman berasal dari budaya Jawa kuno yang mengajarkan pentingnya tata krama dan penghormatan terhadap orangtua (bapak dan ibu) serta orang yang lebih tua (sanak kerabat).

Kata “sungkeman” berasal dari kata “sungkem”, yang berarti duduk bersimpuh di hadapan seseorang – biasanya orang tua – sambil menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan yang mendalam.

Baca Juga: Kerasnya Hati Orang Yahudi

Tradisi itu kemudian menyatu dengan nilai-nilai keagamaan, terutama pada momen Idul Fitri yang identik dengan momen saling memaafkan. Pengaruh Islam dalam budaya sungkeman memperkuat nilai spiritualnya, yaitu pengakuan atas kesalahan dan permohonan maaf sebagai bentuk penyucian diri setelah setahun sebelumnya bergaul dan berinteraksi.

Pada masa kerajaan-kerajaan Mataram Islam (abad ke-18), sungkeman juga dilakukan di kalangan bangsawan sebagai bentuk penghormatan kepada raja atau pemimpin spiritual. Tradisi tersebut kemudian menyebar ke masyarakat umum dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Jawa hingga hari ini.

Potret Sungkeman di Masa Kini

Meskipun zaman terus berubah dan modernisasi merambah ke segala aspek kehidupan, sungkeman masih sangat dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Jawa, baik di desa maupun kota.

Baca Juga: Wae Rebo: Desa di Atas Awan dengan Rumah Adat Unik

Pada hari pertama Lebaran, setelah salat Idul Fitri, anggota keluarga biasanya berkumpul di rumah orang tua atau tokoh keluarga. Satu per satu, anak-anak, menantu, hingga cucu akan datang menghampiri orang tua, bersimpuh, mencium tangan, dan menyampaikan permohonan maaf.

Biasanya, momen ini sangat emosional. Tak jarang air mata mengalir karena rasa haru dan penyesalan, terutama bagi anak-anak yang jarang bertemu orang tua karena merantau atau kesibukan kerja.

Dengan adanya teknologi, sungkeman pun mengalami sedikit adaptasi. Banyak perantau yang melakukan sungkeman secara daring lewat panggilan video (video call). Meskipun tidak bisa secara fisik bersimpuh di hadapan orang tua, nilai dan maksud dari sungkeman tetap dirasakan.

Rangkaian dan Hal-Hal yang Melekat dalam Sungkeman

Baca Juga: 15 Tips Menjadi Ayah yang Baik: Panduan untuk Ayah Milenial

Sungkeman biasanya dimulai dari anak paling kecil hingga yang tertua, atau dari menantu ke mertua. Urutan ini mencerminkan nilai sopan santun dan struktur dalam keluarga Jawa. Selama sungkeman, kalimat yang biasa diucapkan adalah:

“Nyuwun pangapunten sedoyo kalepatan kula, ingkang kulo sengaja utawi ingkang boten kulo sengaja.” (Mohon maaf atas semua kesalahan saya, baik yang disengaja maupun tidak disengaja).

Orang tua biasanya membalas dengan doa: “Mugi pinaringan sehat, lancar rejekine, lan tansah dados tiyang ingkang migunani.” (Semoga diberi kesehatan, kelancaran rezeki, dan menjadi orang yang berguna).

Selain itu, hal-hal yang menyertai momen sungkeman antara lain: Pakaian bersih dan sopan, biasanya mengenakan busana khas Lebaran seperti baju koko, kebaya, atau batik.

Baca Juga: Ahlul Qur’an: Mencintai, Menghafal, dan Mengamalkan

Hidangan khas Lebaran seperti ketupat, opor ayam, dan sambal goreng, disajikan setelah sungkeman sebagai bentuk syukur dan perayaan.

Amplop atau “uang saku” yang diberikan kepada anak-anak sebagai simbol kasih sayang dan berbagi rezeki.

Pesan Moral dalam Tradisi Sungkeman

Sungkeman bukan sekadar ritual Lebaran, melainkan media penyampaian pesan-pesan luhur dalam budaya Jawa. Ada beberapa nilai dan pesan moral yang terkandung dalam tradisi ini:

Baca Juga: Meniti Jalan Ahlul Qur’an: Menggapai Derajat Mulia

Sungkeman mengajarkan bahwa orang tua adalah sosok yang harus dihormati dan dimuliakan. Ini menjadi pengingat bagi anak-anak agar tidak melupakan jasa dan doa orang tua.

Permintaan maaf yang dilakukan secara langsung dengan tatapan mata dan sentuhan fisik (mencium tangan atau bersujud) memberikan makna mendalam tentang keikhlasan dalam hubungan antarmanusia.

Dalam masyarakat Jawa, menjaga hubungan kekeluargaan adalah hal yang sangat penting. Sungkeman memperkuat tali silaturahmi dan menjadi momen penyambung hati yang mungkin selama ini renggang karena kesibukan atau kesalahpahaman.

Dengan bersimpuh dan menundukkan diri, seseorang belajar untuk merendahkan hati, mengakui kesalahan, dan membuka diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Baca Juga: Menggapai Keutamaan Ahlul Qur’an di Era Modern

Sungkeman adalah contoh konkret bagaimana budaya lokal dapat berpadu dengan ajaran agama Islam secara harmonis. Ini menunjukkan kearifan lokal yang sangat kaya dan patut dijaga keberlanjutannya.

Sungkeman adalah tradisi yang sederhana secara bentuk, namun luar biasa dalam makna. Di tengah perubahan zaman dan gaya hidup modern, sungkeman tetap menjadi warisan budaya yang hidup dan menyentuh jiwa.

Tradisi itu bukan hanya simbol permohonan maaf, tapi juga lambang cinta, hormat, dan doa antargenerasi dalam keluarga. Melestarikan sungkeman berarti merawat akar budaya dan nilai-nilai luhur yang membentuk karakter masyarakat Jawa. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Ayah sebagai Teladan: Menginspirasi Generasi Berikutnya

Rekomendasi untuk Anda

Internasional
Kolom
Kolom
Dunia Islam