Surat Umar Kepada Sungai Nil dan Surat Kita Kepada COVID-19

Oleh: Asoc. Prof. Dr. Abdurrahman Haqqi, Dosen di Universiti Islam Sultan Sharif  Ali (UNISA) Brunei Darussalam asal Bogor Indonesia

Sahabat Nabi ‘Amr bin ‘Ash RA sedang menjadi pembicaraan umat hari-hari ini kerena kisahnya melawan thaun ‘Amwas di Syam pada zaman pemerintahannya sebagai Gubernur Mesir utusan Khalifah Salih, Umar bin Khattab RA.

Gubernur Syam ketika itu Abu Ubaidah bin Jarrah menjadi korban wabah thaun yang ganas itu dan mati syahid. Begitu juga beberapa sahabat dekat Nabi SAW termasuk Yazid ibn Abi Sufyan dan Muaz ibn Jabal RA.

Kejadian tersebut terjadi pada tahun 18H. Terdapat sekitar 20 ribu orang korban karena wabah tersebut. Ini bermakna jumlahnya hampir separuh penduduk Syam ketika itu. Pada akhirnya, wabah tersebut berhenti ketika ‘Amr bin ‘Ash RA memimpin Syam menggantikan Abu Ubaidah bin Jarrah. Berkat kecerdasan beliau-lah Syam selamat. ‘Amr bin ‘Ash berkata kepada penduduk Syam: “Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jaga jaraklah dan berpencarlah kalian dengan menempatkan diri di gunung-gunung.”

Penduduk Syam pun berpencar dan menempati gunung-gunung. Akhirnya, wabah pun berhenti layaknya api yang padam kerena tidak dapat lagi menemukan bahan yang dibakar.

Yang ingin disentuh di sini adalah kisah lain dan di tempat lain tapi Gubernurnya sama yakni Mesir dan ‘Amr bin ‘Ash.

Singkat cerita, ketika itu Sungai Nil dalam keadaan kering sehingga penduduknya mau memaksakan adat istiadat nenek moyang mereka yang dikenali dengan festival Bu’nah.

Di Mesir, setiap datang Bu’nah (bulan Mesir) penduduk Mesir biasa melakukan tradisi persembahan untuk menghormati Sungai Nil. Persembahan tersebut dilakukan dengan cara menumbalkan seorang gadis untuk dibuang ke dalam sungai.

Perkara inilah yang ditentang oleh Gubernur ‘Amr dan dijelaskan bahwa tradisi tersebut tidak ada dalam ajaran Islam.

Dalam menghadapi  keadaan genting tersebut ‘Amr memutuskan mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Khattab RA di Madinah.

Umar pun menjawab dengan tulisnya: “…Aku telah mengirim satu kartu dalam surat aku ini. Buanglah kartu itu ke dalam Sungai Nil.”

Ketika surat dari Umar tiba, ‘Amr segera mengambil kad tersebut dan membaca tulisan di atasnya, “Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin, untuk Sungai Nil penduduk Mesir. Amma ba’du. Jika engkau mengalir kerena kehendakmu dan perkaramu, maka janganlah engkau mengalir kerena kami tidak memerlukanmu. Namun, jika engkau mengalir karena perintah Allah yang Maha Esa dan Maha Kuasa, Dialah yang telah membuatmu mengalir. Kami memohon kepada Allah agar Dia membuatmu mengalir.”

Kemudian ‘Amr melaksanakan pesan Khalifah Umar dan membuang kartu tersebut ke Sungai Nil. Keesokan harinya, tepatnya pada Sabtu pagi, Allah SWT membuat Sungai Nil kembali mengalir, bahkan hingga setinggi enam belas hasta dalam waktu satu malam. Hingga kini Sungai Nil menjadi sungai yang tak pernah kering meski musim kemarau melanda.

Jika kita mengikuti aluran kisah yang ditulis dalam kitab yang ditulis oleh Syaikh Mahmud Al-Misri dari Qais ibn Al-Hajjaj itu apakah mungkin ada surat semacamnya yang dikirimkan kepada COVID-19 daripada umat yang semacam Khalifah Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu hari ini?

Dan menulis:  “Dari hamba-hamba Allah, penduduk dunia hari ini, untuk COVID-19 di mana saja engkau berada. Amma ba’du. jika engkau menyerang kami kerena kehendakmu dan perkaramu, maka janganlah engkau mengganggu kami lagi karena kami adalah makhluk-makhluk Allah Tuhanmu juga. Namun, jika engkau menyerang kami kerena perintah Allah yang Maha Esa dan Maha Kuasa, Dialah yang telah membuatmu menyerang kami. Kami memohon kepada Allah agar Dia membuatmu berhenti.” Amin.

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat.

Bandar Seri Begawan, 30 Maret 2020

(AK/B04/R1-P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)