“Surga Hijau Tua“ di Taman Nasional Taroko, Taiwan

 

Oleh: Widi Kusnadi, wartawan MINA, dari Taipe

Pernahkah melihat sebuah pemandangan alam dengan aliran sungai nan jernih, berwarna hijau tua?  Bebatuan marmer yang mengkilap memantulkan sinar matahari yang cerah dihiasi dengan pepohonan hijau nan asri. Beberapa pohon berbuah menjuntai ke bawah, muncul diantara kilauan bebatuan.  Ya, semua itu bisa ditemukan di Taman Nasional Taroko (Taroko National Park), sisi timur negeri Taiwan.

Kilauan batu giok yang berwarna hijau tua itu mengingatkan kami pada untaian Surah Ar-Rahman yang menceritakan indahnya dua surga yang berwarna hijau tua, dengan mata air jernih yang memancar, berlimpah buah-buahan, serta dihiasi dengan bidadari yang cantik jelita.

Lantas, seperti apa lagi keindahan Taroko itu? Atas undangan dari Kementerian Pariwisata Taiwan, rombongan wartawan Indonesia berkesempatan menikmati indahnya alam di Taman Nasional Taroko itu.

Taman Nasional Taroko dengan luas 920 km² merupakan salah satu tujuan wisata dari sembilan taman nasional di Taiwan. Nama Taroko berarti Jurang. Taroko juga dapat merujuk kepada penduduk asli Taiwan yang mendiami wilayah itu, yaitu suku Truku. Taman nasional ini membentang dari Taichung, Kabupaten Nantou sampai ke wilayah Hualien.

Warna hijau tua yang dapat kita lihat di berbagai sudut merupakan pantulan bebatuan marmer yang terbentuk oleh Sungai Liwu. Diketahui terdapat giok di jurang-jurangnya. Giok hijau tua itu memasok pasar internasional sebagai perhiasan dan simbol kemewahan dan kekuatan.

Taman ini awalnya dibangun oleh Gubernur Jenderal Taiwan pada 12 Desember 1937 ketika Taiwan masih menjadi bagian dari kolonialisasi Kekaisaran Jepang. Setelah kekalahan Kekaisaran Jepang dalam Perang Dunia II, Pemerintah Republik Cina (Taiwan) kemudian meniadakan taman ini pada 15 Agustus 1945, lalu mulai dibangun kembali pada tanggal 28 November 1986.

Taroko dan wilayah di sekitarnya terkenal karena cadangan marmernya yang melimpah, sehingga memperoleh nama julukan, “Jurang Marmer”. Untuk dapat mencapai tempat itu, kita harus menempuh jarak 192 km dari kota Taichung dan harus merasakan jalan sempit berkelok yang terkenal dengan nama “Tunnel of Nine Turns Trail (terowongan kelok sembilan)”, yang menembus perbukitan batu.

Wisatawan akan merasakan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan pemandangan bebatuan yang indah, ditambah dengan kemampuan orang-orang Taiwan membangun jalan di antara jurang-jurang, menembus perbukitan berbatu, hingga ada sejumlah suku yang hidup di antara perbukitan itu, Suku Taroko.

Beberapa ruas jalan hanya bisa dilewati oleh satu lajur kendaraan saja. Umumnya kendaraan melaju dengan kecepatan tetap di jalan yang sempit di pinggir tebing. Saat berpapasan, kendaraan harus mengurangi laju kendaraannya, bahkan harus berhenti. Saat itulah pengunjung dapat memegang batuan marmer Ngarai Taroko yang menjulang tinggi ketika berada di Tunnel of Nine Turns Trail.

Jalan sepanjang 192 kilometer itu menyambung sisi barat pulau (Taichung) hingga ke timur di Taroko. Proses pembangunan dimulai sejak 1965 memakan waktu sekitar empat tahun.  Sediktnya 5.000 pekerja dilibatkan. Dari pekerja itu, ada 226 jiwa meninggal selama proses konstruksi.  Untuk mengenang jasa mereka, Pemerintah membuatkan kuil Eternal Spring Shrine yang dibangun di atas air terjun kecil yang sangat bersih.

Teater Kebudayaan Suku Taroko

Bagi suku asli Taiwan itu, kedatangan tamu dianggap sebagai sebuah anugerah besar dari Tuhan. Mereka menyambut dengan antusias dan riang gembira. Beberapa anak kecil dan remaja dipersiapkan untuk menyambut kedatangan tamu. Sapaan akrab mereka “Biaksu” yang berarti kesehatan dan kesejahteraan semoga kepadamu.

Di hotel tempat kami tinggal, ada sebuah teater yang dimainkan oleh anak-anak asli suku Taroko.  Mereka memperagakan bagaimana berburu makanan di hutan, membuat rumah dan berusaha eksis terhadap serangan musuh. Teater itu juga seolah menjadi bukti bahwa mereka hingga kini masih eksis dengan budaya lokal.

Di sesi terakhir teater, para pengunjung diajak berbaur sambil bergandengan tangan memainkan tarian khas suku Taroko. “Terima kasih, semoga senang hati dan berkenan datang lagi,” sebut para anak muda suku Taroko dalam bahasa Taiwan, usai pertunjukan.

Jejak Kolonialisasi Jepang

Masih di timur Taiwan, ada sebuah tempat suci dan bersejarah di Ji’an, Hualien. Sekitar 1 jam perjalanan dengan bus dari Taroko.. “Kuil ini dinamai Ji’an Keishin, atau dikenal juga dengan sebutan Chi’an Ching Hsou.

Bangunan yang didirikan sejak 1917 itu awalnya merupakan sebuah kamp bagi para tentara Jepang. Pada masa itu, ribuan tentara dan masyarakat Jepang bermigrasi ke Taiwan karena melihat kondisi alamnya yang sangat baik.

Sebagian besar imigran Jepang yang datang bertani.  Kegiatan keagamaan migran Jepung pun dilakukan. Sejak saat itu, kamp tentara Jepang kemudian berubah fungsi sekaligus menjadi kuil.

Tidak jauh dari kuil itu, ada sebuah monumen batu besar terukir tulisan Jepang di satu sisinya. Batu itu dipercaya migran Jepang dan masyarakat setempat dapat menyembuhkan penyakit. Karenanya, setiap ada yang sakit, mereka pergi ke batu tersebut dan berkeliling hingga ratusan kali.

Pemerintah Taiwan mengucurkan sejumlah dana untuk membangun tempat itu sebagai obyek wisata.  Pada 2003 obyek wisata itu diresmikan.  Kuil itu juga kerap digunakan sebagai lokasi festival kebudayaan ‘Negeri Matahari Terbit’. Dari data pengelola Pariwisata setempat, sekitar 350 ribu wisatawan datang setiap tahunnya. (A/P2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)