Suriah: ISIS Bunuh 12 Orang Di Palmyra

Seorang pria Suriah menggendong anak Aleppo yang menjadi korban serangan bom. (Foto: AA)

Damaskus, 21 Rabiul Akhir 1438/20 Januari 2017 (MINA) – Beberapa pembunuhan terjadi di sebuah museum dekat reruntuhan kota tua yang terdaftar di Unesco, kata Observatori Hak Azasi Manusia Suriah.

Empat orang guru dan dua pegawai negeri, empat tentara pemerintah serta empat pemberontak yang tertangkap telah tewas, kata lembaga itu seperti dilaporkan BBC News Damaskus, Kamis (19/1), yang dikutip MINA.

Kelompok ISIS disebut merebut kembali situs dan kota di dekatnya bulan lalu, setelah disingkirkan pada Maret 2016.

Sebuah laporan dari kelompok aktivis lokal, Palmyra Monitor menyebutkan, beberapa pembunuhan  dilakukan di amphitheater Roma.

Kelompok itu sebelumnya menyaksikan pembunuhan di depan kerumunan orang di auditorium batu kuno, termasuk 25 tentara pemerintah Suriah, yang terlihat ditembak mati dalam sebuah rekaman video yang disiarkan tahun 2015.

Pada  Agustus tahun yang sama, para jihadis juga menembak seorang arkeolog berusia 81 tahun, Khaled Al Assad di reruntuhan Palmyra.

Kelompok ISIS memegang kendali atas situs arkeologi itu serta kota di dekatnya yang dikenal dengan nama Tadmur, tiga bulan sebelumnya.

Mereka menghancurkan monumen-monumen dan menurut Observatori Hak Azasi Manusia Suriah, juga membunuh 280 orang selama 10 bulan sebelum pasukan pemerintah yang didukung Rusia merebut kembali daerah tersebut.

Seorang konduktor Rusia memimpin sebuah konser musik klasik di amphitheater Mei 2016.

Tetapi di saat pasukan-pasukan sekutu Presiden Bashar al-Assad memusatkan perhatian mereka pada pertempuran untuk merebut Aleppo bulan Desember lalu, kelompok militan kembali dan mengambil-alih kendali.

Pasukan Irak yang didukung Amerika Serikat telah mendesak kelompok ISIS keluar dari wilayah utara Suriah dan Irak tahun lalu dan sedang bertempur untuk merebut kembali kota Mosul di utara Irak sejak Oktober2016.

Rabu (18/1) lalu, seorang pejabat Kementerian Pertahanan Rusia, Letjen Sergei Rudskoi mengatakan, serangan Mosul mendesak para pejuang Negara Islam kembali ke timur Suriah.

Dia menyebutkan, ISIS  telah mengirimkan sejumlah besar bahan peledak ke  Palmyra untuk lebih menghancurkan situs peninggalan itu.  (RS1/P1)

 

Miraj Islamic News Agency/MINA