New York, MINA – Kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya perang berskala besar meningkat tajam dalam dua tahun terakhir. Survei dalam UN Global Risk Report 2026 menunjukkan 36 persen responden menilai dampak perang besar dapat dirasakan dalam satu tahun ke depan, sementara angkanya meningkat menjadi 76 persen jika rentang waktunya diperpanjang hingga tujuh tahun.
Laporan yang dirilis pada laman Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Selasa (15/9) merupakan hasil survei terhadap sekitar 1.300 pemangku kepentingan dari pemerintahan, organisasi internasional, dunia usaha, masyarakat sipil, dan kalangan akademik di berbagai kawasan dunia. Mereka diminta menilai 28 risiko yang mencakup aspek politik, ekonomi, lingkungan, sosial, dan teknologi.
Risiko perang berskala besar mencatat kenaikan paling tajam dibandingkan penilaian sebelumnya. Dalam aspek kedekatan kemungkinan terjadinya risiko, perang besar melonjak 16 posisi dibandingkan survei pertama yang dilakukan pada 2024. Kenaikan tersebut menjadi perubahan terbesar di antara 28 risiko yang dinilai.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut temuan laporan tersebut menunjukkan risiko politik kini semakin menjadi perhatian utama. Ia juga menyoroti meningkatnya kekhawatiran terhadap perang berskala besar bersamaan dengan melemahnya kemampuan lembaga-lembaga internasional dalam merespons berbagai risiko.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Survei tersebut juga menunjukkan sejumlah risiko lain mengalami peningkatan. Krisis keuangan global dan keruntuhan rantai pasok masing-masing naik 12 posisi, sedangkan kerusakan keamanan siber meningkat tujuh posisi dalam penilaian risiko global.
Di sisi lain, sejumlah risiko lingkungan mengalami penurunan peringkat. Penurunan terbesar tercatat pada risiko hilangnya keanekaragaman hayati yang turun 17 posisi, disusul polusi berskala besar turun 10 posisi, kelangkaan sumber daya alam turun delapan posisi, serta risiko biologis yang juga turun delapan posisi. Namun, penurunan peringkat tersebut tidak berarti ancaman lingkungan telah hilang.
Laporan itu menilai berbagai risiko global memiliki keterkaitan satu sama lain. Ketegangan geopolitik dan perang berskala besar disebut sebagai dua risiko yang memiliki hubungan paling kuat. Tekanan terhadap sumber daya alam, fragmentasi ekonomi, disinformasi, serta melemahnya lembaga multilateral dapat memperbesar ketegangan geopolitik dan pada akhirnya meningkatkan risiko konflik berskala luas.
Kekhawatiran terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi mutakhir juga meningkat. Responden menilai sistem multilateral saat ini masih memiliki keterbatasan dalam menghadapi berbagai risiko teknologi, termasuk konsentrasi kekuasaan yang didorong teknologi, AI, keamanan siber, dan teknologi rekayasa lainnya.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Meski demikian, laporan tersebut bukan merupakan ramalan bahwa perang besar pasti akan terjadi. Hasil survei menggambarkan bagaimana para pemangku kepentingan memandang tingkat risiko dan kesiapan dunia dalam menghadapinya pada 2026. Sebanyak 86 persen responden menilai pendanaan untuk pengurangan risiko masih belum mencukupi.
PBB menekankan pentingnya kerja sama internasional untuk menghadapi berbagai ancaman tersebut. Temuan survei menunjukkan tidak ada negara atau lembaga yang dapat menangani seluruh risiko global secara sendiri-sendiri, sehingga penguatan kerja sama antarnegara tetap menjadi salah satu instrumen penting untuk mengurangi potensi eskalasi berbagai krisis. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic