Sya’ban Datang Ramadhan Pun Menjelang

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency)

Hari-hari ini kita memasuki bulan Sya’ban, menjelang hadirnya bulan Ramadhan. Setahun bergulir tak terasa, bulan berkah itu pun kini datang di depan mata. Sementara sebagian di antara kita, terutama kaum Muslimah, mungkin saja ada yang belum bayar hutang puasa Ramadhan tahun lalu. Masih terbuka kesempatan untuk melunasinya pada hari-hari di bulan Sya’ban ini.

Begitulah manusia yang lalai, sang penunda waktu, hutang sepekan kepada Allah karena berhalangan berpuasa. Ternyata kesempatan setahun berlalu pun belum bayar juga. Bagaimanakah kalau kemudian meninggal, sementara belum bayar hutang? Apa kitra-kira alasannya di hadapan Allah kelak kah? Astaghfirullaah.

Sya’ban berasal dari kata bahasa Arab “Syi’ab”, yang artinya jalan di atas gunung.

Karena itu, banyak umat Islam yang kemudian memanfaatkan bulan Sya’ban ini sebagai waktu untuk menemukan banyak ibadah untuk mencapai kebaikan. Di antaranya dengan memperbanyak puasa sunah di dalamnya. Karena demikian pula Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mencontohkan. Ibaratnya sebagai warming up (pemanasan) sebelum nanti memasuki bulan puasa Ramadhan.

Begitulah, memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban adalah sebagai upaya latihan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Jika seseorang sudah terbiasa berpuasa sebelum puasa Ramadhan, tentu dia akan lebih kuat dan lebih bersemangat untuk melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan.

Kesaksian isteri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, menyebutkan:

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

Artinya: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Ada pula yang menamakan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan tersebut “yatasya’abun” atau berpencaran untuk mencari sumber air.

Banyak di antara umat Islam yang mencari bekal kehidupan, menambah jam kerja, lembur dan mencari penghasilan ekstra. Untuk nanti agar pada bulan Ramadhan, tersedia cukup perbekalan menikmati berkahnya Ramadhan.

Terutama menjelang akhir-akhir Ramadhan, di mana lebih khuysu’ menata diri dengan i’tikaf di masjid. Tidak lagi memikirkan soal uang lebaran, biaya mudik dan perbekalan libur lebaran. Namun khusyu berminajat dan memperbanyak ibadah. Sebab semua persiapan Hari Raya Idul Fitri itu sudah tersedia dan sudah disiapkan poada bulan Sya’ban.
Juga dikatakan sebagai bulan Sya’ban karena bulan tersebut “sya’aba” atau muncul di antara dua bulan, Rajab dan Ramadhan.

Kemunculan di tengah-tengah antara kedua bulan itu, seringkali membuat umat lalai terhadap kebaikan-kebaikan di dalamnya.

Di dalam sebuah hadits dari Usamah bin Zaid, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya, “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan sebagaimana engkau berpuasa pada bulan Sya’ban.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menjawab:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya: “Itulah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan di mana amal-amal diangkat menuju Tuhan semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (H.R. An-Nasa’i dan Ahmad).

Adapun di antara rahasia atau hikmah mengapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban adalah karena puasa Sya’ban adalah ibarat ibadah rawatib (ibadah sunnah yang mengiringi ibadah wajib). Sebagaimana shalat rawatib adalah shalat yang memiliki keutamaan karena dia mengiringi shalat wajib, sebelum atau sesudahnya, demikianlah puasa Sya’ban.

Sya’ban akan terus berjalan dengan cepat di antara manusia-manusia yang berbuat lambat dalam kebaikan. Ramadhanpun akan datang, entah kita siap atau tidak siap menjemputnya.

Semoga Sya’ban yang sedang kita jalani, mengantarkan kita pada kesiapan diri menghadapi indahnya berkah Ramadhan, penghulu segala bulan.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Artinya:  “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.”

Aamiin Yaa Robbal ‘Aalaamiin. (RS2/P1)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)