SYAIKH SHALAH: KEPUTUSAN YA’ALON DEKLARASI PERANG AGAMA

Al-Quds, 1 Dzulhijjah 1436/15 September 2015 (MINA) – Para tokoh Islam-Palestina Senior mengutuk keputusan menteri militer Israel Ya’alon yang melarang kelompok aktivis Murabitun dan Murabathat Islam masuk ke Masjid Al-Aqsha setiap harinya.

Presiden Dewan Islam Tertinggi di Al-Quds Syaikh Ikrima Sabri mengecam keputusan mengatakan, keputusan Ya’alon adalah ilegal.

“Kaum Muslim penduduk Al-Quds akan tetap membela tempat-tempat suci Islam di Al-Quds,” tegasnya, demikian AlRay melaporkan sebagaimana dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Sabri menjelaskan, tujuan utama dari keputusan ini adalah untuk meminimalkan jumlah Muslim yang beribadah di masjid tersuci ketiga bagi umat Islam itu, membuka jalan untuk mengevakuasi mereka bentuk keseluruhan situs.

Pemimpin Gerakan Islam di wilayah jajahan Israel Syaikh Raed Shalah mengatakan, keputusan Ya’alon adalah deklarasi perang agama melawan Islam dan Muslim, mencatat bahwa ia sedang bermain dengan api.

“Jika Anda menangkap semua Murabitun dan Murabathat, anak-anak mereka akan tetap membela Al-Aqsha, dan jika Anda menangkap anak-anak mereka, keturunan mereka akan membela tempat suci sampai mereka menyapu pendudukan Israel dari tanah mereka,” kata Syaikh Shalah ditujukan bagi para pemimpin Israel.

Syaikh Shalah menjelaskan dalam Al-Aqsha dalam bahaya Festival Al-Aqsa akan berlangsung selamanya dan pendudukan Israel akan menangis.

Murabitun dan Murabathat meneriakkan mereka tidak peduli tentang keputusan Ya’alon ini.

Syaikh Shalah meminta penduduk Palestina dari Tepi Barat untuk membentuk sebuah komite populer untuk membela tempat-tempat suci dari serangan Yahudi serta untuk melindungi rumah dan gereja-gereja mereka.

Yahudi Israel mengadakan tur provokatif harian menuju situs suci Islam di Al-Quds dan memasuki Al-Aqsha dan Kubah Batu, memprovokasi perasaan umat Islam.

Dalam Muslim respon pembela mencoba untuk melindungi tempat-tempat suci mereka dengan memaksa orang-orang Yahudi keluar dari masjid.

Otoritas pendudukan Israel menetapkan kebijakan untuk Yahudisasi tempat suci Al-Quds dan Muslim, yang merupakan garis merah bagi umat Islam. Otoritas Pendudukan Israel mengubah  kuburan bersejarah Muslim menjadi taman. Terakhir, Otoritas Taman Israel menyita 40% dari pemakaman Islam Al-Rahmah dan merubahnya menjadi taman.

Menteri militer Israel menandatangani keputusan pada Selasa pekan lalu melarang kelompok aktivis Islam Murabitun dan Murabathat, yang sering berkumpul di halaman Masjid Al-Aqsha untuk mempertahankannya dari serangan orang-orang Yahudi, menuju situs suci setiap hari.

Kantor Ya’alon menyatakan, tindakan itu sejalan dengan rekomendasi badan intelijen internal Israel Shin Bet, dan sesuai dengan kedudukan Polisi Israel.(T/R05/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Comments: 0