Syeikh Abdurrahman Jamal : Dua Nikmat Utama Umat Islam

Bekasi, MINA – Ulama Palestina dari Gaza, Syeikh Abdurrahman Yusur Jamal, dalam khutbah Jumat-nya, mengajak umat Islam untuk mensyukuri dua nikmat utama yang Allah karuniakan kepada ummat. yaitu  nikmat Islam dan nikmat ukhuwah.

“Jika kita mengamalkan ajaran Islam dengan menunaikan perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya niscaya kita akan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat,” jelas Direktur Daarul Qur’an Al-Karim wa Sunnah Gaza, Palestina dalam khutbah Jumatnya, (28/9) di Masjid Al Muhajirin, Bekasi.

Perintah mensyukuri kedua nikmat tersebut, jelasnya, sebagaimana terdapat dalam ayat 103 Surat Ali Imran.

Nikmat kedua setelah nikmat hidayah dalam Islam, lanjutnya, adalah nikmat ukhuwah (persaudaraan Islam). Ukhuwah berarti berkumpul dan bertautnya hati-hati muslimin yang saling mencintai satu sama lain.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah saudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kalian,” terangnya mengutip ayat 10 Surat Al Hujurat.

Menurut Kepala Departemen Ilmu Qiro’at dan Sanad Gaza tersebut perselisihan, permusuhan dan perpecahan merupakan sebab kelemahan kaum muslimin. Untuk itu, anjurnya, kaum muslimin harus menjauhi perpecahan sebagaimana diperintahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, tegasnya, memerintahkan umat untuk saling mencintai. Dan diantara faktor yang menumbuhkan kecintaan itu ialah dengan menyebarkan salam.

Syeikh Abdurrahman mengajak umat untuk menjadi faktor pendamai pada perselisihan dua kelompok muslimin dan menyeru masing-masing pihak untuk mengakhiri permusuhan.

Perpecahan, terangnya, merupakan penyebab muslimin saat ini mudah dikuasai oleh musuh-musuh Allah.

Dalam khutbah ke duanya, dia mengingatkan jama’ah ibadah Jumat tentang peristiwa pertikaian antara Suku Aus dan Khazraj yang terjadi pada masa periode dakwah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam di Madinah.

Mengingat betapa pentingnya persatuan, ujarnya, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam berupaya untuk menyatukan mereka. Hingga akhirnya beliau berhasil, dengan membawa cahaya Islam, mentautkan hati-hati mereka dalam kecintaan.  (L/RA 02/P1)