Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Syekh Yusuf Al-Makassari: Ulama dan Pejuang Anti Penjajahan

Bahron Ansori Editor : Ali Farkhan Tsani - Kamis, 4 Juli 2024 - 10:58 WIB

Kamis, 4 Juli 2024 - 10:58 WIB

23 Views

Syekh Yusuf Al-Makasari adalah ulama pejuang Indonesia. (foto: IG)

Oleh Bahron Ansori, wartawan Kantor Berita MINA

Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari, lahir di Gowa, Sulawesi Selatan pada tanggal 3 Juli 1626. Sejak kecil, beliau menunjukkan kecerdasan dan kegemaran mendalami ilmu agama. Beliau berguru kepada ulama-ulama ternama di Makassar, seperti Syekh Jalaluddin al-Aydit.

Pada usia 19 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Beliau menimba ilmu di berbagai tempat, seperti Mekkah, Madinah, Yaman, dan Damaskus. Di sana, beliau berguru kepada ulama-ulama terkemuka, seperti Syekh Ahmad al-Qusyasyi, Syekh Ibrahim al-Kurani, dan Syekh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi.

Ketika Syekh Yusuf ingin meninggalkan Mekkah pada 1664, Makassar telah dikuasai oleh Belanda, sehingga Yusuf tidak dapat kembali ke kampung halamannya.  Sebaliknya, Syekh Yusuf justru pergi menuju Banten. Di sana ia disambut oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Yusuf tinggal di Banten selama 16 tahun hingga 1680.

Baca Juga: Shalahuddin Al-Ayyubi Pembebas Al-Aqsa, Pelajaran dari Kunci Sukses Perjuangannya

Sekembalinya ke tanah air, Syekh Yusuf menjadi salah satu pemimpin perlawanan rakyat Gowa melawan penjajahan Belanda. Beliau terkenal dengan kegigihannya dalam menentang penjajah dan kegigihannya dalam menyebarkan agama Islam.

Pada tahun 1667, Belanda berhasil menguasai Gowa. Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan ke Ceylon (Sri Lanka) selama 14 tahun. Di sana, beliau tetap berdakwah dan menyebarkan Islam, sehingga beliau mendapat banyak pengikut.

Istri-Istri dan Anak-Anak Syekh Yusuf Al-Makassari

Menurut beberapa sumber, Syekh Yusuf Al-Makassari menikah sebanyak tujuh kali selama hidupnya. Berikut adalah nama-nama istri dan anak-anak beliau.

Baca Juga: Abdullah Azzam, Ulama Pelopor Jihad Afghan dan Palestina

Istri-istrinya antara lain: Sitti Daeng Nisanga: Putri Raja Gowa, Manga’rangi Daeng Manrabbia, Sitti Hadijah: Putri Imam Syafi’I, Daengta Kare Sitaba, Kare Kontu: Putri Sultan Ageng Tirtayasa, Kare Pane: Putri Imam Banten, Siti Aisyah: Janda seorang ulama di Mekkah, Seorang wanita dari Afrika Selatan.

Adapun anak-anak Syekh Yusuf antara lain bernama: Muhammad Ayyub: Meninggal di masa kecil, Muhammad Sholeh: Meninggal di masa kecil, Muhammad Zakaria: Meninggal di masa kecil, Siti Sarah: Menikah dengan Syekh Abdul Wahid al-Banjari, Siti Aisyah: Menikah dengan Sultan Banten, Sultan Abdul Mufakiruddin, dan beberapa anak lainnya yang tidak diketahui namanya.

Informasi mengenai istri dan anak-anak Syekh Yusuf Al-Makassari secara pasti masih simpang siur dan belum terdokumentasikan secara lengkap. Namun setidaknya dari beberapa sumber terpercaya, data-data di atas bisa mewakili siapa-siapa istri dan anak ulama asal Gowa tersebut.

Kontribusinya

Baca Juga: Roehana Koeddoes, Pelopor Pergerakan Wanita di Indonesia

Syekh Yusuf Al-Makassari, seorang ulama, pejuang, dan pahlawan nasional Indonesia, memberikan banyak kontribusi penting bagi bangsa ini. Ia adalah seorang pemimpin perlawanan rakyat Gowa melawan Belanda di tahun 1667. Mengobarkan semangat jihad dan menyusun strategi perang gerilya melawan Belanda di Banten. Terus melakukan perlawanan meskipun diasingkan ke Ceylon (Sri Lanka) dan Afrika Selatan.

Ia juga menyebarkan agama Islam di berbagai daerah, termasuk di Gowa, Banten, Ceylon, dan Afrika Selatan. Untuk mencetak generasi pelanjut, ia mendirikan pesantren dan madrasah agar bisa mendidik dan membina generasi muda Islam. Ia juga menulis buku-buku Islam, satu di antaranya seperti “Kafiyyat al-Tasawwuf”.

Syekh Yusuf menjadi panutan dan pemersatu bagi umat Islam di berbagai daerah. Ia menjalin hubungan baik dengan para pemimpin kerajaan di Nusantara dan juga mempromosikan toleransi dan persatuan di antara umat Islam dan non-Islam.

Syekh Yusuf juga menjadi contoh keteladanan bagi umat Islam dengan keilmuan, ketaqwaan, dan keberaniannya. Di tengah kesibukannya berperang, ia masih bisa meluangkan waktu untuk mengajarkan pentingnya jihad melawan penindasan dan menegakkan keadilan. Dengan begitu ia sudah ikut mendorong umat Islam untuk selalu beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Baca Juga: Abbas Ibnu Firnas: Ilmuan Muslim Penemu Penerbangan

Kontribusi Syekh Yusuf Al-Makassari tidak hanya terbatas pada poin-poin di atas. Beliau telah memberikan pengaruh yang besar bagi perkembangan Islam dan budaya di Indonesia, serta telah meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi bangsa ini.

Atas jasa-jasanya, Syekh Yusuf Al-Makassari dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1995. Namanya diabadikan sebagai nama jalan, masjid, dan sekolah di berbagai daerah di Indonesia.

Karena pengaruhnya yang besar, Belanda memindahkan Syekh Yusuf ke Cape Town, Afrika Selatan pada tahun 1684. Di sana, beliau terus berdakwah dan menentang penjajahan Belanda. Beliau dihormati oleh masyarakat setempat, bahkan oleh budak-budak yang bekerja di VOC.

Murid-muridnya

Baca Juga: Ar-Razi: Ilmuwan Serba Bisa dari Zaman Keemasan Islam

Syekh Yusuf Al-Makassari memiliki banyak murid yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara dan mancanegara. Beberapa murid Syekh Yusuf di  Indonesia antara lain seperti: Syekh Abdul Hamid Karaeng Karunrung: Ulama dan penyebar agama Islam di Sulawesi Selatan, Syekh Abu Bakar bin Abdul Jalil: Ulama dan penyebar agama Islam di Kalimantan, Syekh Abdul Kadir Majeneng: Ulama dan penyebar agama Islam di Jawa Barat, Tuan Rappang: Ulama dan penyebar agama Islam di Sulawesi Selatan, Syekh Abdurrahman Sidik: Ulama dan penyebar agama Islam di Banten.

Sementara itu murid-muridnya di luar negeri antara lain: Syekh Ibrahim ibn Mi’an: Ulama besar dari India Selatan, Syekh Abdul Ghani al-Nabulsi: Ulama dan sufi dari Palestina, Syekh Muhammad bin Abdurrahman al-Aufi: Ulama dan sufi dari Maroko.

Selain nama-nama di atas, masih banyak lagi murid Syekh Yusuf Al-Makassari yang tidak tercatat dalam sejarah. Para murid beliau ini telah menyebarkan ilmu dan ajaran Syekh Yusuf ke berbagai penjuru dunia, sehingga beliau memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan Islam di Asia Tenggara dan Afrika.

Syekh Yusuf wafat di Cape Town pada tanggal 23 Mei 1699. Beliau dimakamkan di Kramat Sheikh Yusuf Al-Makassari, yang hingga saat ini masih menjadi tempat ziarah bagi umat Islam di Afrika Selatan. Bahkan, Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan menyebutnya sebagai Salah Seorang Putra Afrika Terbaik.  Jenazah Syekh Yusuf kemudian dibawa ke Gowa. Ia dimakamkan di Lakiung, pada April 1705.

Baca Juga: KH. Ahmad Hanafiah, Ulama Lampung yang Gigih Melawan Penjajah

Syekh Yusuf Al-Makassari adalah sosok yang sangat penting dan berjasa bagi Indonesia. Beliau adalah seorang pahlawan nasional, ulama, dan pejuang yang patut kita teladani dan hormati. Kontribusinya dalam melawan penjajahan Belanda, menyebarkan agama Islam, dan mempersatukan bangsa patut kita kenang dan lestarikan. []

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Malcolm X, Aktivis HAM Muslim Afrika Penentang Rasisme

Rekomendasi untuk Anda

MINA Sport
Internasional
Internasional