Oleh Heri Budianto, MT, Dosen STISA ABM Online Lampung Selatan, Tenaga Ahli Geologi Teknik
REKAYASA jalan raya bukan sekadar urusan beton dan aspal. Ia adalah ilmu terapan yang berfokus pada bagaimana merencanakan, merancang, membangun, mengoperasikan, hingga memelihara jalan agar setiap pengguna bisa sampai tujuan dengan aman dan nyaman, lalu pulang berkumpul kembali bersama keluarga tercinta.
Sebagaimana rumah yang diibaratkan surga tempat keluarga merasa betah, jalan raya pun seharusnya dirancang menjadi ruang perjalanan yang membawa rasa aman dan kebahagiaan bagi pengendara. Namun, kenyataan di lapangan masih menyisakan pertanyaan besar: mengapa kecelakaan lalu lintas tetap tinggi, meski rekayasa jalan sudah sedemikian rupa?
Data Kepolisian Republik Indonesia mencatat, sepanjang Januari hingga Desember 2024 terjadi 1,15 juta kecelakaan lalu lintas. Dari jumlah itu, sekitar 27 ribu jiwa meninggal dunia. Artinya, rata-rata tiga orang kehilangan nyawa setiap jam, atau setara dengan 72 orang setiap hari. Angka ini tentu bukan sekadar statistik, melainkan tragedi kemanusiaan yang meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban.
Baca Juga: Bersaudara Karena Allah
Faktor Penyebab Kecelakaan
Menurut Kakorlantas Polri, penyebab kecelakaan paling dominan adalah faktor manusia (61 persen), terutama terkait kemampuan dan karakter pengemudi. Sisanya, 9 persen dipicu kondisi kendaraan yang tidak laik jalan, dan 30 persen karena prasarana serta lingkungan.
Jika dibandingkan dengan negara maju, angka kematian akibat kecelakaan di Indonesia masih jauh lebih tinggi. Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap keselamatan berkendara menjadi salah satu faktor utama. Karena itu, membudayakan perilaku “Zero Accident” harus menjadi gerakan bersama, baik dari sisi pemerintah, masyarakat, maupun individu.
Jalan Raya Dirancang untuk Keselamatan
Sejak tahap awal, pembangunan jalan telah dirancang agar aman bagi penggunanya. Mulai dari studi kelayakan, analisis kondisi tanah, desain jalur, hingga pengujian material dilakukan agar jalan dapat menahan beban lalu lintas dengan baik.
Tahapan- Tahapan kegiatan rekayasa jalan raya agar aman, nyaman dan selamat dari kecelakaan bagi pengguna diantaranya:
Baca Juga: 7 Alasan Rakyat Palestina Yakin Indonesia Bantu Perjuangannya
Viability study bertujuan untuk menilai apakah jalan layak pada trase yang akan dibangun diantarany survey daya dukung tanah, desain jalan dan metode konstruksi yang akan dibangun nanti. Juga memastikan apakah jalur yang akan dipakai sesuai standar kemanan teknik.
Alinyemen Horizontal, yaitu proyeksi sumbu jalan pada bidang horizontal, dikenal sebagai trase situasi jalan. Komponen utamanya adalah garis lurus (tangen) untuk memperpendek jarak tempuh dan garis lengkung (tikungan) yang berfungsi untuk transisi arah. untuk mengubah arah lurus ke arah lengkung horizontal berbentuk Busur lingkaran tunggal atau kombinasi lengkung spiral ke busur lingkaran.
Tujuan analisis Alinyemen Horizontal Mengurangi gaya sentrifugal yang dialami pengendara saat berbelok. Memastikan kendaraan dapat berbelok dengan aman dan nyaman tanpa kehilangan kendali, terutama pada kecepatan tinggi.
Alinyemen Vertikal adalah proyeksi sumbu jalan pada bidang vertikal, yang menggambarkan perubahan ketinggian jalan terhadap sumbu jalan atau tepi jalan. Secara sederhana, alinyemen vertikal adalah potongan memanjang jalan yang menunjukkan kelandaian dan lengkung vertikal (Naik turun permukaan jalan).
Baca Juga: Amal Baik vs Amal Banyak: Rahasia Hidup Bermakna Menurut QS. Al-Mulk Ayat 2
Analisis Alinyemen vertikal untuk memberikan jarak pandang yang cukup bagi pengemudi, terutama saat melewati tikungan vertikal (menanjak atau menurun), perubahan kelandaian yang terlalu tajam dapat mengurangi kenyamanan berkendara dan bahkan membahayakan karena kendaaraan tidak mampu menanjak atau menahan gaya dorong karena menurun. Banyak kecelakaan karena kendaraan tidak layik jalan (Rem Blong)
Bearing Capacity, analysis untuk mengetahui besarnya kemampuan tanah dasar dan lapisan di bawahnya untuk menahan beban kendaraan yang melewati tanpa menyebabkan penurunan berlebihan atau kegagalan struktural. Nilai daya dukung ini bergantung pada berbagai faktor seperti jenis tanah, kelembaban, kekuatan kohesi tanah, dan ada tidaknya air tanah. Untuk menentukannya, dilakukan uji tanah seperti Sondir, Dynamic Cone Penetrometer, atau Plate Bearing Test.
Lapisan Perkerasan Jalan, Ada perkerasan lentur (fleksibel) menggunakan bahan aspal dan perkerasan kaku (rigid) menggunakan beton. Pilihan material ini tergantung pada beban lalu lintas yang akan dilayani dan kondisi tanah di sekitar lokasi pembangunan jalan. Kedua jenis perkerasan mempunyai keunggulan. dibawahnya beberapa lapisan, meliputi lapisan tanah dasar, tanah timbunan, lapisan pondasi atas (LPB), lapisan pondasi bawah (LPA), dan lapisan permukaan aspal seperti AC-BC (Aspal Beton Campuran Berbutir Kasar) dan AC-WC.
Semua lapisan dianalisis dan dilakukan pengujian sangat ketat baik itu pengujian Geotek, laboratorium transportasi dan laboratorium hydrologi. Selain dilakukan di Laboratorium juga dilakukan pengujian langsung di lapangan (in situ). Ini untuk memasikan keamanan, kenyamanan dan keselamtan pengendara.
Baca Juga: 9 Fakta Mengejutkan: Tanda-Tanda Zionis Israel Menuju Kehancuran
Design speed (Kecepatan Rencana) yaitu beban dinamis yang dipikul konstruksi jalan raya akibat adanya pergerakan kendaraan diatasnya. Kecepatan rencana digunakan untuk merencanakan dimensi dan geometri jalan, seperti struktur, tikungan, dan sistem pendudukung lainnya.
Untuk jalan permukiman kecepatan maksimum 30 km/jam, Jalan dalam kota kecepatan maksimum 50 Km/jam. Jalan antar kota Kecepatan maksimum 80 Km/jam. Untuk Jalan Toll dalam kota didisain ambang kecepatan kendaraan minimal 60 Km/jam Maksimal 80 Km/jam. Toll Luar kota ambang kecepatan minimal 60 Km/jam Maksimal 100 Km/jam.
Adanya batasan kecepatan ini untuk memastikan keselamatan pengemudi dan penumpang, bila dipatuhi dapat mengurangi risiko kecelakaan dan memastikan perjalanan yang lebih aman dan nyaman.
Kalaupun terjadi kecelakaan tidak akan berakibat fatal (Kematian) baik pengemudi maupun penumpang. Konstruksi jalan raya di Indonesia termasuk jalan tol belum ada yang didisain Klasifikasi Jalan Racetrack, Yaitu Klasifikasi jalan yang aman pada kecepatan lebih dari 100 km/jam. Sehingga umumnya yang mengalami kecelakaan menyebabkan kematian diantaranya adalah karena kecepatan berkendaraan lebih dari 100 Km/jam.
Baca Juga: Kementerian Haji dan Umrah, Antara Harapan dan Kekhawatiran
Jarak aman di jalan tol sesuai dengan kecepatan kendaraan, kalau 60 Km/Jam jarak amannya 60 m. Selain Jarak aman ada metode jarak aman 3 detik. Pakar Safety Driving lebih menganjurkan metode ini karena lebih praktis dan terbukti mampu menyelamatkan jiwa apabila terjadi kecelakaan karena benturan keras.
Dalam melakukan pengereman mendadak, banyak proses yang harus dilewati oleh pengendara. Dimulai pada saat mata pengendara melihat adanya hambatan di hadapannya.
Maka setidaknya dia butuh waktu sekitar 0,5 sampai 1 detik untuk mentransfer informasi ke otak dan memberi perintah ke kaki untuk segera menginjak pedal rem (waktu reaksi manusia) setelah kaki mentaati perintah otak, sistem mekanik dari fungsi rem perlu waktu 0,5-1 detik hingga akhirnya sistem pengereman bekerja sempurna.
Memberikan jarak aman 3 detik dengan kendaraan di depan caranya tentukan titik objek permanen atau statis di pinggir jalan, apakah itu pohon atau tiang sebagai patokan menghitung.
Baca Juga: Israel Raya: Mimpi di Siang Bolong yang Menelan Negeri Lain
Perhatikan mobil di depan kita apabila sudah segaris dengan objek yang jadikan patokan, segera mulai hitungan 3 detik. Jika pada hitungan 3 detik mobil yang kita kendarai berhasil melewati objek tersebut artinya kendaran kita sudah memiliki jarak aman dengan kendaraan di depan.
Namun, jika kurang dari tiga detik kamu sudah terlewati objek tersebut, artinya kendaraan kita terlalu cepat, perlu menurunkan laju kecepatan kendaraan.
Kelayakan Kendaraan & Pengemudi. Pastikan kendaraan laik jalan: Jangan pernah meremehkan kondisi kendaraan, karena kendaraan yang tidak laik jalan adalah penyebab umum kecelakaan. Usia kendaraan hendaklah dijadikan pertimbangan. Di Negara Negara maju kendaraan usia diatas 10 tahun dianggap sudah tua. certificate of entitlement/COE berlaku berlaku selama 10 tahun.
Setelah masa berlaku COE habis, pemilik mobil memiliki pilihan untuk memperpanjang masa berlakunya Namun untuk memperpanjang COE, ada uji kelayakan mobil yang sangat ketat dulu yang harus dilalui. Jika tidak lolos, maka mobil harus dihancurkan (scraped). Periksalah Kendaraan
Baca Juga: Meneguhkan Janji Kemerdekaan Palestina Dari Sumud Nusantara ke Solidaritas Global
Secara Berkala di dealer/ bengkel resmi sehingga riwayat kondisi kendaraan kita terekam. Sebelum melakukan perjalanan pastikan kendaraan dalam kondisi baik dengan memeriksa mesin, rem, ban, oli, dan air.
Pengemudi wajib yang sudah dewasa diatas 18 tahun dan memiliki CIM. Pada Usia 18 tahun otak dan kemampuan emosional seseorang umumnya sudah lebih matang. Sehingga dapat mengendalikan emosi dan membuat keputusan yang lebih bijaksana dibanding usia dibawah 18 tahun.
Selain itu diusia 18 tahun keatas seseorang dianggap sudah mampu bertanggung jawab dan mampu untuk menanggung konsekwensi atau resiko atas tindakan yang dia lakukan. Kalaupun terjadi permasalahan hukum maka tidak lagi dikatagorikan anak anak. Tidurlah yang cukup sebelum berkendara, terutama jika perjalanan jauh.
Selalu mengenakan sabuk pengaman, mematuhi pertauran lalu lintas, berhenti dan beristirahat di rest area atau tempat yang aman setiap 2-3 jam sekali untuk menghindari kelelahan dan potensi microsleep.Selain selalu terjaganya kebugaran tubuh, Fokus melihat situasi kedepan adalah keharusan agar selamat dari kecelakaan. Yang dimaksud dengan Fokus disini adalah, pikiran, mata dan pendengaran tegak lurus melihat situasi dan kondisi didepan kendaraan.
Baca Juga: Ziarah ke Masjidil Aqsa Tanda Kedalaman Iman
Peralatan Darurat.Mengemudi di jalan raya selalu memiliki potensi risiko, baik itu kecelakaan, mogok, atau kondisi darurat lainnya. Untuk mengantisipasi situasi tersebut, penting untuk selalu membawa peralatan darurat di dalam mobil. diantaranya Kotak P3K berisi berbagai macam obat-obatan dan peralatan medis dasar. Alat pemadam api ringan (APAR), Segitiga pengaman, Dongkrak dan kunci roda, Kabel jumper, Senter, Tool Kit dan Ban Cadangan.
Pentingnya Jarak Aman
Salah satu kunci keselamatan berkendara adalah menjaga jarak aman. Pakar keselamatan lalu lintas menganjurkan metode “3 detik”. Caranya sederhana: pilih satu objek statis di pinggir jalan, seperti tiang atau pohon, lalu hitung tiga detik setelah kendaraan di depan melewati objek itu.
Jika dalam waktu kurang dari tiga detik kendaraan kita sudah melewatinya, berarti jarak terlalu dekat dan berbahaya.
Kendaraan, Pengemudi, dan Kesiapan Darurat
Selain kondisi jalan, faktor kendaraan dan pengemudi juga tidak kalah penting. Kendaraan harus laik jalan, rutin diperiksa, dan tidak berusia terlalu tua. Di negara maju, kendaraan di atas 10 tahun biasanya diwajibkan menjalani uji kelayakan ketat.
Baca Juga: Israel Bukan Negara, Tapi Proyek Penjajahan Abad Modern
Pengemudi pun wajib memenuhi syarat usia dan kesehatan. Usia 18 tahun dianggap ideal, karena pada usia itu seseorang dinilai cukup matang secara emosi dan mampu bertanggung jawab atas tindakannya. Tidur cukup, menjaga fokus, dan menghindari kelelahan adalah bagian dari etika berkendara.
Tidak kalah penting, setiap kendaraan sebaiknya dilengkapi peralatan darurat seperti kotak P3K, segitiga pengaman, alat pemadam api ringan, serta ban cadangan. Antisipasi sederhana ini bisa menjadi penyelamat di saat genting.
Menuju Zero Accident
Zero Accident bukan sekadar slogan, melainkan budaya keselamatan yang harus dibangun bersama. Filosofi ini menekankan bahwa setiap kecelakaan sesungguhnya bisa dicegah, dan setiap nyawa yang hilang adalah kerugian besar bagi bangsa.
Kesadaran pribadi, kepatuhan terhadap aturan lalu lintas, dukungan regulasi pemerintah, serta sikap kehati-hatian di jalan adalah modal utama untuk mewujudkan perjalanan yang selamat, aman, dan nyaman.
Baca Juga: Tanpa Ilmu, Jama’ah Hanya Massa Tanpa Arah
Dan pada akhirnya, setelah segala ikhtiar dilakukan, seorang Muslim diajarkan untuk bertawakal kepada Allah, Sang Pemelihara keselamatan. Sebab, hanya dengan perlindungan-Nya lah segala usaha kita menemukan makna sempurna. []
Mi’raj News Agency (MINA)