Tak Tamat SD, Pria Asal Lombok Hasilkan VCO 10 Ton Per Bulan. Bagian Dua (Oleh: Nur Ikhwan Abadi)

Oleh: Nur Ikhwan Abadi, Relawan Mer-C di Lombok

Produksi 10 Ton per Bulan

Berawal dari produksi hanya 25 butir kelapa secara manual, kini dengan pengalaman dan pengetahuan yang dia miliki, mampu mengolah 500 hingga 800 butir kelapa perhari, selain juga dari kelompok mitra usaha yang dibinanya.

“Kami menerapkan SOP yang sangat ketat kepada kelompok mitra kami, dan kami tekankan bahwa yang kita jual ini bukan produk semata, namun yan g lebih penting dari itu adalah kejujuran,” ujarnya.

Menurut Raden, setiap 15 butir kelapa tua bisa menghasilkan 1 liter VCO, dan kelapa yang paling berkualitas itu kelapa yang berada di tepi pantai hingga yang berjarak 1 km dari bibir pantai. Setelah satu kilo meter dari pantai biasanya memiliki kadar air tinggi dan kadar minyak yang terdapat pada buah kelapa akan semakin berkurang.

“Kami setiap bulan bisa memproduksi sekitar 8 hingga 10 ton VCO, sehingga dalam satu bulan sekitar 1,5 juta butir kelapa yang kami butuhkan untuk diolah menjadi VCO. Kami hanya menggunakan kelapa yang kering di atas pohon,” ujarnya.

Selain VCO, Raden juga memproduksi produk lainnya, yaitu minyak kelapa. Ada perbedaan mendasar antara VCO dan Minyak Goreng, salah satunya adalah pada proses pembuatanya. Jika VCO tidak melalui pemanasan, jika minyak goreng melalui pemanasan baik dengan api  langsung ataupun dengan air menidih.

Walaupun sudah ada metoda lain yang lebih canggih dalam pembuatan VCO, Raden masih mempertahankan cara manual untuk memproduksi VCO nya. “Sudah diuji di Baristan Surabaya, dan membuktikan bahwa hasil yang manual lebih baik, makanya kita pertahankan yang manual,” ujarnya.

Raden mengklaim, minyak kelapa yang dibuatnya nol kolesterol dan bisa digunakan hingga 7 kali pemakaian tanpa merusak kandungan yang terdapat dalam minyak goreng kelapa.

“Minyak kelapa yang kami buat nol kolesterol, dan itu sudah hasil uji. Banyak juga yang menyatakan bahwa minyak kelapa itu mahal jika dibandingkan dengan minyak sawit misalnya. Tapi kita boleh hitung hitungan, jika minyak sawit satu liter seharga 19 ribu rupiah dan minyak kelapa 35 ribu rupiah perliter, akan tetapi, secara kesehatan minyak kelapa ini bisa digunakan sampai 7 kali pakai dan kualitasnya masih sama. Bandingkan jika minyak goreng dari sawit, sebenarnya tidak boleh lagi dipakai setelah 1 kali penggunaan karena kandungan sudah rusak dan banyak kolesterol dan ini sudah saya buktikan secara ilmiah dengan pengujian,” ungkapnya.

Kapasitas produksi VCO kami sebelum pandemi 5-7 ton perbulan, dan minyak goreng 3-5 ton per bulan. Dan kami menghabiskan sekitar 1,5 juta butir kelapa setiap bulannya. Tapi itu secara keseluruhan bekerjasama dengan kelompok mitranya. Jika di pabrik Raden hanya bisa produksi sekitar 150 butir kelapa perhari dengan menggunakan mesin.

Meskipun demikian, Raden masih tetap mempertahankan pembuatan VCO secara tradisional “Penggunaan mesin kami hanya gunakan untuk proses pemarutan dan pemerasan sedangkan proses pembuatan VCO nya kami masih pertahankan cara manual,” katanya.

Untuk pemasaran Raden hanya menjual di daerah Surabaya dan Jakarta, jika ada teman teman eksportir saya hanya minta FOB Surabaya. Pengiriman FOB seperti ini memang jauh lebih besar keuntungannya tapi resiko buat kami, karena modal kami pas-pasan.

“Jika ada eksportir yang ingin kerjasama, kami menyiapkan produk di gudang, keluar dari gudang itu sudah urusan eksportir, sedangkan harga bisa kita bicarakan,” ujarnya.

Rencananya tahun depan Raden akan meningkatkan produksi VCO nya sebanyak 15 ton, karena akan digarap satu sentra kelapa di Pamenang.

“Yang kami gunakan ini baru kelapa di Kabupaten Lombok Utara (KLU) saja, anda bisa bayangkan, dalam sehari KLU mempu menjual 10 sampai 15 Fuso setiap hari keluar dari Lombok. Satu Fuso kisaran 15-20 ribu butir kelapa, jadi bisa dibayangkan ratusan ribu kelapa yang dihasilkan oleh KLU setiap harinya,” terangnya.

Potensi kelapa di KLU  sangat besar, jika Raden hanya meenggunakan buah kelapanya untuk memproduksi VCO, pemanfaatan lainnya seperti batok, sabut kelapa, air kelapa dan lainnya belum dimanfaatkan dengan baik, padahal potensi ekonomi yang dimiliki oleh kelapa sangat banyak.

Melihat potensi yang sangat luar biasa seperti ini, peluang bisnis di bidang ini sangat besar, terlebih minat VCO dari negara-negara seperti Amerika dan Eropa sangat tinggi. Untuk itu bagi para eksportir atau buyer yang ingin melakukan bisnis di bidang ini, peluang nya sangat terbuka, bahkan Raden menyatakan siap memberikan pelatihan pengolahan buah kelapa menjadi minyak goreng dan VCO. (A/B03/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)