Takwa Bekal Terbaik Menghadap Allah

Oleh : Insaf Muarif Gunawan, Mahasiwa STAI Al-Fatah Bogor, Reporter MINA (Mi’raj News Agency)

Pada sebuh ayat Allah berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS Ali Imran/3: 185).

Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Tidakkah kita menyaksikan bahwa maut datang tanpa melihat orang yang dijemput. Baik itu masih muda atau sudah tua, anak kecil atau orang dewasa, orang yang sakit atau yang sehat sekalipun.

Apakah termasuk hal yang mustahil jika ternyata besok atau lusa atau pekan depan atau bulan depan maut datang menjemput kita? Tentu tidak mustahil.

Ini seperti Allah sebutkan dalam Al-Quran:

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS Luqman/31: 34).

Untuk itu, setiap Muslim haruslah memiliki bekal terbaik untuk menghadapi kehidupan akhirat. Bekal terbaik itu adalah takwa, seperti Allah sebutkan di dalam ayat:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Artinya: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS Al-Baqarah/2: 197)

Bekal terbaik takwa itulah yang dapat membawa kota sebagai Muslim meraih keselamatan dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Mengumpulkan bekal takwa yaitu berupa menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-larangan-Nya, yang merupakan bagian dari persiapan untuk kampung akhirat. Ibarat menabung adalah kita sedang menyiapkan TASKA (Tabungan Asuransi Kampung Akhirat) atau BCA (Bank Central Akhirat).

Tabungan ini berupa mengerjakan ibadah-ibadah mahdhah individu, seperti shalat lima waktu, bertadarus Al-Quran, memanjatkan doa, berdzikir, dan beristighfar. Juga ibadah yang berdimensi sosial, seperti menunaikan zakat, infaq shadaqah, menyantuni fakir miskin, membangun fasilitas sosial, memaafkan orang lain, dan sebagainya.

Allah mengingatkan tentang pentingnya persiapan bekal takwa menghadapi hari akhirat di dalam ayat:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٌ۬ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ۬‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

Artinya: “Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Al-Hasyr/59: 18).

Persiapan untuk hari esok yang dekat yaitu kematian dan esok yang jauh yaitu hari kiamat. Yakni orang beriman itu menyiapkan diri dengan ibadah, amal shalih, dan ketaatan. Mukmin itu semakin hari seharusnya semakin berkualitas, semakin baik dan semakin bertakwa.

Ibnu Jarir Ath-Thabari memberikan pendapat, “Lihatlah apa yang akan terjadi di hari kiamat kelak dari amalan-amalan yang diperbuat manusia. Apakah amalan shalih yang menghiasi dirinya ataukah amalan kejelekan yang berakibat jelek di akhirat?”

Karena itu, tidak lain menyiapkan bekal dengan berbagai amalan kebaikan menjadi kebutuhan utama setiap kita individu Muslim. Sehingga kelak saat menghadap Allah dan menuju hari akhirat, bekal itulah yang menjadi kawan kita menuju surga yang penuh kenikmatan. (A/R8/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)