TALIBAN TAMPIK KERJASAMA DENGAN RUSIA

Pejuang Taliban (Foto: Fox News)
Pejuang Taliban (Foto: Fox News)

Afghanistan, 18 Rabi’ul Awwal 1437/29 Desember 2015 (MINA) – Taliban membantah telah mengadakan pembicaraan dengan para pejabat Rusia tentang upaya untuk memerangi kelompok militan Islamic State (Daesh/ISIS) di Afghanistan.

Bantahan itu terkait dengan laporan koran Inggris yang menyebut Presiden Vladimir Putin telah bertemu pemimpin kelompok Taliban awal tahun ini, demikian laporan Radio Free Europe Radio Liberty (RFE/RL) yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Seperti diberitakan, pada 23 Desember lalu utusan khusus Putin di Afghanistan, Zamir Kabulov, mengatakan bahwa Moskow telah membentuk saluran komunikasi untuk bertukar informasi dengan Taliban.

Kabulov mengungkapkan kepentingan Rusia di Afghanistan ‘secara objektif serupa’ dengan Taliban dalam memerangi kelompok teroris ISIS.

“Kami tidak melihat kebutuhan untuk menerima bantuan dari siapa pun mengenai apa yang disebut Daesh, dan kami tidak ada menghubungi atau berbicara dengan siapa pun tentang masalah ini,” kata Taliban dalam sebuah pernyataan berbahasa Inggris di situsnya.

Koran Inggris, Sunday Times, pada 27 Desember mengutip seorang sumber ‘komandan senior Taliban’ yang tidak diidentifikasi menyebut Putin dan pemimpin Taliban Mullah Akhtar Mansur bertemu pada September di sebuah pangkalan militer di Tajikistan. Mereka membahas kemungkinan kolaborasi untuk menggempur ISIS.

Militan IS mengontrol sebagain besar wilayah utara Suriah dan Irak, dan ada indikasi popularitas kelompok ekstremis itu sedang tumbuh di Afghanistan.

Para pejuang yang menyatakan kesetiaan kepada IS dilaporkan menyerbu daerah baru di Provinsi Nangarhar awal bulan ini, menyebabkan banyak orang meninggalkan rumah mereka.

Sejumlah pejabat Afghanistan mengatakan mereka juga sedang berusaha untuk melacak siaran yang dibuat stasiun radio pro-IS yang terdengar di wilayah tersebut baru-baru ini.

Taliban masih menjadi kekuatan signifikan di Afghanistan. Dalam pernyataannya kelompok bersenjata yang pernah memerintah negara tersebut menampik klaim bahwa IS menjadi ancaman bagi Kabul.

“Beberapa orang di Afghanistan dengan lalim mengambil keuntungan dari Daesh sementara intelijen nasional dan internasional juga mendukung mereka dengan tujuan memperpanjang pendudukan (Amerika),” kata Taliban. (T/P022/R05)

 

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)