Ta’lim Silaturrohim yang Ramah Lingkungan untuk Pembebasan Masjid Al-Aqsa

Ustaz Ahmad Soleh menyampaikan tausiyah pada acara "Ta'lim Silaturrohim" di Masjid Nurul Jannah, Perumahan Puri Permai 1 RW.05 Desa Pematang Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, Ahad, 29 Desember 2019. (Foto: Sakuri/MINA)

Kabupaten Tangerang, MINA – Jelang akhir tahun 2019 Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Banten bekerja sama dengan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Nurul Jannah, Perumahan Puri Permai 1 RW.05 Desa Pematang Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, menggelar Ta’lim Silaturrohim yang ramah lingkungan untuk pembebasan Masjid Al-Aqsa dan kemerdekaan bangsa Palestina, Ahad (29/12).

Acara yang dihadiri ratusan jamaah dari wilayah Banten dan sekitarnya itu mengambil tema “Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Membawa Semangat Persatuan untuk Pembebasan Masjid Al-Aqsa dan Kemerdekaan Palestina”.

Turut hadir dalam acara tersebut DKM Nurul Jannah, ulama, dai, tokoh masyarakat dan jamaah Masjid Nurul Jannah.

Hadir sebagai pembicara Ustaz Ahmad Ahso, ulama muda kandidat doktor dari Pesantren Al-Fatah Bogor dan Ustaz Khalimi, mubaligh setempat.

Dalam sambutannya, pemimpin Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Banten yang diwakili oleh katib Suwardi menyampaikan, yang dimaksud taklim yang “ramah lingkungan” adalah dengan senantiasa menjaga kebersihan masjid dan lingkungan tempat penyelenggaraan taklim bebas dari sampah.

“sebelum taklim bersih, setelah taklim bersih, kalau perlu dikasih pewangi dan tanpa ada sampah sisa makanan,” katanya.

Selanjutnya, ia menyampaikan pesan agar tetap istiqomah dan fokus tema taklim dalam upaya perjuangan membela kepentingan kaum muslimin, membebaskan Masjid Al-Aqsa dan kemerdekaan bangsa Palestina yang sudah digaungkan sejak 2006.

Pada giliran tausiyahnya, Ustaz Ahmad Ahso menyampaikan urgensi mengapa lebih peduli ke Masjid Al-Aqsa dibandingkan dengan masjid sendiri. Ia menegaskan karena Masjid Al-Aqsa disebutkan dalam Al-Quran sebagai tempat yang diberkahi Allah.

“Siapa yang memperjuangkan keberkahannya maka ia pun akan diberkahi,” kata dai mahasiswa tingkat doktoral Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ ) Jakarta itu.

Menurutnya, mengapa kita berteriak-teriak untuk membebaskan Al-Aqsa padahal mempunyai kekuatan juga tidak.

“Yang harus kita pahami, punya kekuatan yang pantas atau tidak, tapi yang dinilai Allah adalah kesungguhan kita dalam membebaskan Masjid Al-Aqsa,” kata Ahso yang pernah mengenyam pendidikan tentang keaqsaan di Yaman.

Menurutnya, semua masjid DKM-nya muslim, kecuali Masjid Al-Aqsa yang DKM-nya Zionis, padahal Al-Aqsa haqquna (Masjid Al-Aqsa milik kita, kaum Muslimin).

Ia menegaskan, sebagai kiblat pertama umat Islam, maka muslimin harus memperjuangkan agar Masjid Al-Aqsa kembali ke pangkuan muslimin dan menjadikannya tema besar yang harus digaungkan.

Sementara itu, Amir Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jabodetabek Sakuri menyampaikan pesan penutup. Ia berharap kepada jamaah yang hadir, agar ilmu yang sudah didapat dari taklim ini bermanfaat dan jamaah bermohon perlindungan kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat. (L/SK/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)