Tanggapi Kartun Nabi, Imaam Yakhsyallah: Pemerintah Prancis Hendaknya Pertimbangkan Hati Nurani

Cileungsi, Kabupaten Bogor , MINA – Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur menyerukan, dalam berekspresi, pemerintah dan rakyat Prancis hendaknya mengedepankan hati nurani, jangan sekadar bertindak berdasarkan demokrasi dan kebebasan saja.  Masyarakat internasional hendaknya hendaknya memahami ketinggian kedudukan Nabi Muhammad Sallahu Alaihi wa Salam di mata umat Islam.

Hal itu dikatakan Imaam Yakhsyallah kepada MINA, Senin (26/10) saat mengomentari tentang ditampilkannya kartun penghinaan terhadap Nabi Muhammad di sebuah majalah lokal dan di bilboard gedung pemerintah Prancis pada pekan lalu.

Imaam Yakhsyallah memperingatkan, orang yang menyebarkan kebencian di manapun dan terhadap siapapun akan mendapat siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Quran surah An Nur: 19.

“Menghina Nabi Muhammad Sallahu Alahi wa Salam berarti sama saja menghina Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tegasnya.

Imaam Yakhsyallah juga memberi komentar, aksi pemenggalan yang dilakukan oleh oknum terhadap gurunya di Prancis,tidak bisa dibenarkan secara hukum Islam karena pada prinsipnya hukuman harus berdasarkan keputusan hakim atau imaam (pemimpin), tidak main hakim sendiri.

Menyikapi aksi boikot terhadap produk-produk Prancis, Imaam menegaskan, hal itu sebagai pelajaran bagi pihak-pihak yang memusuhi Islam.

Ia menegaskan, Islam tidak akan hancur hanya karena hinaan dan cercaan orang-orang kafir dan Musyrik. Hal itu dijelaskan Allah dalam Al-Quran surah At-Taubah ayat 33 dan Surah As-Shaff ayat 8-9. Justru Islam akan mendapatkan simpati dan dukungan dari orang-orang yang bersih hatinya.

Prancis menghadapi reaksi keras dari sejumlah negara Muslim, termasuk boikot produk-produk Prancis setelah Surat kabar lokal, La Nouvelle Republique, mempublikasikan ulang kartun penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW pada 18 Oktober 2020 lalu. Gambar itu merupakan sketsa yang sebelumnya sudah terbit di majalah Charlie Hebdo, 2006 silam.

Menyusul kejadian itu, seorang guru di Prancis telah dipenggal oleh pelaku yang kemudian ditembak mati polisi. Guru tersebut menggunakan kartun Nabi Muhammad itu sebagai bahan ajar yang ditunjukkan kepada murid-muridnya. Hal itu diduga menjadi motif pembunuhan tersebut. (R/R8/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)