Taqwa dan Muhasabah (Oleh : Imamul Muslimin)

Oleh : Imamul Muslimin, Yakhsyallah Mansur

Taqwa adalah predikat yang mesti diraih oleh setiap muslim. Sementara muhasabah, adalah salah satu jalan untuk meraih ketaqwaan di sisi Allah Ta’ala. Taqwa adalah perintah Allah kepada setiap hamba-Nya agar menjadi orang-orang yang mempunyai derajat taqwa. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (الحشر [٥٩]: ١٨)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Hasyr [59]: 18)

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir meriwayatkan sebuah hadis dari Imam Ahmad sebagai berikut, “Ketika kami, para sahabat sedang duduk di hadapan Rasulullah  pada tengah hari, datanglah kepada beliau suatu kaum yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, hanya berikat pinggang dan berkalung pedang. Umumnya bahkan semuanya dari suku Mudhar. Melihat kemiskinan mereka ini wajah Rasulullah berubah sangat sedih dan gelisah. Lalu beliau masuk ke dalam rumahnya kemudian keluar lagi dan memerintahkan Bilal bin Rabah  untuk azan dan beliaupun mengimami shalat. Setelah selesai shalat beliau berpidato. Dalam pidatonya beliau membaca firman Allah yang artinya, “Wahai manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu…” (Qs. An-Nisaa [4]: 1). Lalu membaca Qs. Al-Hasyr [59]: 18:

وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ… (الحشر [٥٩]: ١٨)

“…dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…” (Qs. Al-Hasyr [59]: 18). Selanjutnya beliau bersabda, “Hendaklah setiap orang bersedekah dari dinarnya, dari dirhamnya, dari pakaiannya, dari segantang gandumnya, dari segantang kurmanya.” Sehingga beliau bersabda, “Bersedekahlah walau dengan separuh biji kurma.”

Setelah mendengar pidato Rasulullah  tersebut tampillah seorang sahabat Anshar membawa pundi-pundi penuh dengan isi yang berat sehingga telapak tangannya tidak mampu mengangkatnya untuk diserahkan kepada Rasulullah . Lalu tampillah berturut-turut orang lain dengan membawa sedekahnya masing-masing sehingga saya –perawi– melihat dua tumpukan besar yang terdiri dari makanan dan pakaian teronggok di hadapan Rasulullah . Saya melihat wajah beliau bersinar bahagia laksana disepuh emas. Kemudian beliau bersabda:

مَنْ سَنَّ فِيْ الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه مسلم)

“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim no 1016)

Demikianlah gambaran ketaqwaan para sahabat. Karena taqwanya, mereka sambut dengan antusias seruan Rasulullah  untuk membantu orang-orang yang kekurangan. Jadi salah satu sikap orang yang bertaqwa adalah mempunyai kepekaan sosial yang tinggi terhadap orang-orang yang sedang menderita.

Ayat ini di samping memerintahkan orang untuk bertaqwa sehingga memiliki sikap seperti di atas, juga memerintahkan untuk introspeksi diri (muhasabah) dan merenungkan hari esok, apa yang akan dibawa menghadap Allah , demikian menurut Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini.

Muhasabah merupakan solusi tepat untuk menyadari dan merenungi segala perbuatan yang telah dilakukan sehingga kita dapat mengukur keberhasilan dan kekurangannya.

Rasulullah  bersabda, “Orang pandai adalah orang yang mengevaluasi dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedang orang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah.” (H.R. Tirmidzi)

Imam Tirmidzi meriwayatkan ucapan Umar bin Khaththab , “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah  dan bersiaplah kalian menghadapi Yaumul Hisab. Hisab itu akan menjadi ringan di hari kiamat hanya bagi orang yang menghisab dirinya di dunia.”

Muhasabah di dalamnya terdapat tiga fase (bentuk):

  1. Muhasabah sebelum berbuat

Muhasabah pada keadaan pertama ini penting untuk mengetahui apakah yang dilakukan itu bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Ia menimbang baik buruknya suatu pekerjaan yang hendak dilakukan. Al-Hasan berkata, “Allah  memberikan rahmat kepada seseorang hanya melihat tujuannya. Oleh karena itu bila tujuannya karena Allah  hendaknya dia lakukan dan bila tidak, hendaknya dia akhirkan.”

2.Muhasabah saat berbuat

Pada saat kita melakukan suatu perbuatan hendaklah melakukan introspeksi ulang di tengah perbuatan yang sedang kita jalani. Tujuannya adalah mengontrol dan mengendalikan diri agar tidak menyimpang. Layaknya sebagai manusia mungkin kita baik di awal, namun tidak menjamin kita tetap berada di jalan yang semestinya.

Oleh karena itu muhasabah saat berbuat dapat mencegah terjadinya penyimpangan, untuk melanjutkan atau menghentikannya sama sekali.

3. Muhasabah setelah berbuat

Muhasabah ini berfungsi sebagai alat penemu kesalahan, kekurangan, dan kekhilafan yang terselip dalam melakukan sesuatu. Tujuannya jelas agar tidak terjadi kesalahan pada masa mendatang. Rasulullah  bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ قَالَ: لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ (متفق عليه)

Abu Hurairah  berkata, Nabi Muhammad  bersabda, “Orang mukmin tidak terperosok di satu lubang yang sama dua kali.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Alkisah pada suatu hari Atha As-Salami seorang tabi’in bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya. Setelah diamati dan diteliti secara saksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain berkata, “Ya Atha, sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya.”

Begitu mendengar bahwa kain yang ditenunnya ada cacat, Atha’ merenung lalu menangis. Melihat Atha’ menangis, sang penjual kain berkata, “Atha’ sahabatku, aku mengatakan yang sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya. Kalaulah sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dengan harga yang pas.”

Atha’ menjawab, “Sahabatku, engkau menyangka aku menangis karena kainku ada cacatnya. Ketahuilah aku menangis karena aku menyangka kain yang telah kubuat berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya ternyata ada cacatnya. Begitulah aku menangis kepada Allah  dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun tidak ada cacatnya, tetapi mungkin di mata Allah , sebagai ahlinya ternyata ada cacatnya.” Wallahua’lam. (A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Comments: 0