Telok Manok, Masjid Tertua di Thailand Selatan dengan Bangunan Khas Melayu

Oleh : Hikmah Ding, Mahasiswi STAI Al-Fatah, Bogor asal Thailand Selatan

Masjid Wadi Al Hussein atau lebih dikenal dengan nama Masjid Telok Manok yang terletak di Provinsi Narathiwat, merupakan masjid tertua di Thailand Selatan.

Penamaan masjid yang saat ini tengah dikembangkan sebagai pusat pembelajaran budaya dan situs wisata bersejarah itu diambil dari nama pendirinya yaitu seorang ulama penyebar agama Islam di Thailand Selatan, Wan Hussein As-Sanawi Al-Alfathoni.

Wan Al Hussein sendiri sebagai ulama memiliki mobilitas yang tinggi. Dia pernah mengembara, menyebarkan pengaruh Islam di Pulau Jawa, Madura dan Sumatera hingga akhirnya menetap di desa Telok Manok, Pattani Darussalam kala itu.

Kisah mengenai perjuangan Wan Al Husein dalam menyebarkan agama Islam di Thailand Selatan terpahat apik di prasasti berupa lempengan dari Kuningan. Prasasti itu ditulis menggunakan aksara bahasa Thai, juga aksara latin berbahasa Inggris.

Adapun nama Telok Manok diambil karena masjid ini terletak di desa Telok Manok, sebuah desa kecil berjarak sekitar 25 kilo meter dari ibukota provinsi Narathiwat, desa paling ujung selatan Thailand, berbatasan dengan wilayah utara Malaysia di kawasan semenanjung.

Masjid Telok Manok dibangun awal abad ke-18 pada masa Kerajaan Melayu Pattani, kerajaan Islam yang berlokasi tidak jauh dari daerah Provinsi Narathiwat, hingga kini mayoritas penduduk wilayahnya memiliki akar tradisi Islam dan melayu yang sangat kuat.

Gaya arsitektur masjid ini merupakan perpaduan antara gaya arsitektur Thai, Melayu dan China, dimana bangunan utama masjidnya terdiri dari dua bangunan yang digabungkan menjadi satu. Keseluruhan bangunnya merupakan bangunan rumah panggung sebagaimana rumah tradisional melayu dan untuk memasukinya kita harus melewati jalan menanjak yang sempit ke arah masjid.

Satu hal yang unik dari masjid ini adalah keseluruhan struktur bangunannya terbuat dari kayu, tidak hanya lantai dan dindingnya bahkan paku yang digunakan untuk membangun masjid itu juga terbuat dari kayu, yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat menyambungkan papan yang satu dengan yang lain.

Masjid ini juga dihiasi Berbagai ukiran yang didominasi dengan motif tumbuh-tumbuhan seperti ukiran daun, sulur sulum, bunga serta beberapa ukiran dengan sentuhan budaya Cina. Ukiran-ukiran tersebut menghiasi daun jendela masjid hingga pada ujung-ujung tiang penopang atap.

Selain itu, bagian menarik lainya dari masjid berusia 400 tahun itu adalah tempat untuk mengumandangkan Adzan, di bagian paling atas masjid, yaitu sebuah menara kecil yang dilengkapi jendela di keempat sisinya, tempat ini harus dijangkau dengan cara menaiki beberapa larik tangga. Tempat adzan dibangun pada atap masjid agar suara kumandang adzan dapat terdengar cukup jauh mengingat belum adanya teknologi pengeras suara pada zaman itu.

Meskipun hanya berbahan baku kayu, bangunan Masjid Telok Manok dapat bertahan hingga ratusan tahun, dan masih memiliki nilai sejarah serta estetika sendiri. Oleh sebab itu, dari awal berdirinya hingga kini, masyarakat setempat tidak merenovasi Masjid Telok Manok kecuali pada bagian atap. Pada awalnya atap masjid ini menggunakan daun palm, kemudian diganti dengan atap genteng buatan lokal dalam gaya Patani.

Tak jauh dari masjid ini membentang aliran sungai membelah desa Telok Manok, yang menjadi sumber air bersih utama pada masanya untuk jamaah berwudhu. Di seberang sungai ini juga terdapat pemakaman Muslim yang sudah sama tuanya dengan bangunan masjid. Meski sudah berusia ratusan tahun, hingga kini Masjid Telok Manok masih berfungsi dengan baik dan menjadi salah satu objek wisata religi andalan daerah tersebut. (A/HD/R7/RS3)

 

Mi’raj News Agency (MINA)