“Teman-temanku Kalah oleh Bom dan Peluru Israel” (Oleh: H.A.Eltarabesh, Gaza)

Foto-foto pemakaman Yousif Al-Najjar pada 2001. (Foto: Abed Zaghout)

Oleh: Hamza Abu Eltarabesh, jurnalis Gaza

 

Saya adalah bagian dari aksi ganda bagus dalam tim sepak bola masa kecil saya. Saya dan teman saya Yousif Al-Najjar bermain sebagai penyerang. Dia pendek dan gesit, sementara saya memiliki catatan pencetak gol yang bagus dengan kaki kiri.

Di tahun kelima sekolah dasar kami, Yousif dan saya ditempatkan di kelas yang terpisah. Pada akhirnya, kami berada di tim yang berbeda. Hingga kami berdua lolos ke final kejuaraan sekolah.

Tim saya kemudian menang 4-2 dari tim Yousif.

Itu adalah kekalahan terburuk pertama Yousif dan dia menyikapinya dengan buruk. Dia bahkan menolak untuk berjabat tangan dengan saya di akhir pertandingan.

Kami bertengkar setelahnya.

Dua hari kemudian – 15 Desember 2001 – Pasukan Israel menyerbu kamp pengungsi Jabaliya di Gaza utara.

Sepupu Yousif mendekati saya sekitar siang hari itu dan segera memberi tahu saya bahwa Yousif telah terbunuh. Seorang tentara Israel menembak kepalanya. Yousif wafat dua pekan menjelang ulang tahunnya yang ke-11.

Itu adalah pertama kalinya seorang sahabat saya meninggal. Saya tidak tahu bagaimana mengekspresikan diri saya, terutama mengingat bahwa percakapan terakhir kami dalam kondisi berdebat.

Jadi saya hanya diam saja.

Yousif terbunuh pada malam Idul Fitri. Ketika saya pergi ke pemakamannya, ibunya Aisha menangis ketika dia menunjukkan kepada kami pakaian yang Yousif rencananya akan pakai di Idul Fitri.

Saya mengambil foto Yousif dari rumahnya dan menyimpannya di pintu lemari pakaian saya. Setiap pagi, saya menoleh ke sana dan memberi tahu Yousif bahwa suatu hari kit akan bermain bersama lagi.

Yousif meninggal jauh sebelum serangan besar-besaran Israel di Gaza pada musim panas 2014. Peringatan lima tahun serangan itu membuat saya berpikir tentang dia.

Kematiannya bukan yang terakhir kalinya saya kehilangan seorang teman sepak bola.

Aisha, ibu Yousif Al-Najjar. (Foto: Abed Zaghout)

Tidak bisa mengucapkan selamat tinggal

Pada 2010, saya bergabung dengan sebuah tim bernama Knight. Penyelenggara utama tim adalah Salam Al-Madhoun. Dia tidak melatih kami tetapi mengurus masalah keuangan dan logistik.

Kami memenangkan banyak pertandingan. Dan, tentu saja, terkadang kami ditaklukkan.

Salam adalah seorang pejuang Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap bersenjata Hamas.

Pada 21 Juli 2014, ia berada di antara sebuah kelompok yang berhasil memasuki Israel, melalui sebuah terowongan. Tindakan itu sebagai balasan atas pembantaian yang telah dilakukan Israel di Al-Shujaiyeh, lingkungan Gaza City.

Setelah memasuki Israel, tentara membunuh Salam dan sejumlah rekannya.

Tim kami belum bisa mengucapkan selamat tinggal kepada Salam. Israel telah menahan jasadnya.

Israel menolak untuk mengungkapkan di mana ia telah menempatkan jenazah para pejuang yang tewas. Hingga saat ini sudah lima tahun lamanya. Mempertahankan jasad dengan cara ini sama dengan hukuman kolektif. Itu adalah pelanggaran hukum internasional.

Saya berhenti bermain sepak bola setelah Salam terbunuh. Saya dulu terobsesi dengan olahraga. Hari ini, saya bahkan tidak menontonnya di televisi.

Bagi saya, sepakbola telah terjalin dengan tragedi.

 

Senyum yang konstan

Saya membuat diri saya sibuk sebagai seorang reporter harian Alresalah yang berbasis di Gaza pada tahun 2014. Saya bertekad untuk mendokumentasikan kejahatan Israel terhadap rakyat saya.

Dari tahap awal serangan Israel musim panas itu, saya harus berusaha dan terus bekerja, terlepas dari bagaimana Israel membunuh teman-teman saya.

Saya melaporkan dari Rumah Sakit Kamal Adwan di Jabaliya. Pada suatu kesempatan, ketika saya tiba di rumah sakit, saya melihat seorang petugas medis mencuci ambulans. Ketika saya berbincang dengannya, terungkap bahwa dia baru saja memindahkan mayat seorang pria yang terbunuh dalam serangan Israel di tanah pertanian terdekat. Saya meminta nama korban dan diberi tahu bahwa itu adalah Muhammad Al-Sharatha.

Saya tidak terlalu memikirkan detail yang telah saya berikan. Saya baru saja menelepon seorang editor di Alresalah, yang meminta saya untuk mengambil beberapa foto korban.

Ketika saya memasuki kamar mayat, saya sangat terkejut. Saya jatuh ke tanah. Ternyata Muhammad Al-Sharatha adalah teman saya di Universitas Islam Gaza.

Kemudian saya mendengar ceritanya, Muhammad sedang membantu tetangga untuk membajak tanahnya ketika dia diserang.

Saya membayangkan, bagaimana Muhammad menjadi seorang pria yang sederhana. Dia telah hidup dalam kemiskinan sepanjang hidupnya tetapi selalu memiliki senyum di wajahnya.

Dia belajar pekerjaan sosial di perguruan tinggi.

Usai salah satu ujian terakhir kami, Muhammad berkata kepada saya, “Saya tidak percaya bahwa saya sudah hampir lulus. Ibu saya akan sangat bahagia dan bangga.”

Muhammad Al-Sharatha. (Foto: Khaled Abu Dahrouj)

Panutan

Selain bermain sepak bola, saya dulu berlatih kung fu.

Pada Februari 2002, saya mulai menerima pelajaran dari Medhat Al-Yazji, praktisi kungfu paling terkenal di Gaza pada waktu itu.

Saya adalah salah satu murid favorit Mehdat. Saya belajar banyak darinya sehingga saya juara dua pada sebuah kejuaraan hanya dalam beberapa bulan setelah saya memulai pelajaran kung fu.

Setelah kejuaraan itu, saya mendapat instruktur baru: Said Abu Jalala, seorang pria besar. Mehdat dan Said berteman.

Terakhir kali saya bertemu Mehdat pada bulan Juli 2002. Kami bertemu secara kebetulan dan berjabat tangan dengan cara kami yang unik. Salam tersebut seperti saya yang berpura-pura memukul Mehdat dan dia melindungi dirinya dengan tangannya.

Kata-kata perpisahan Mehdat selalu teringat oleh saya, “Katakan pada Said Abu Jalala untuk memaafkanku; beritahu semua orang untuk memaafkan saya.”

Pada 23 Agustus 2002, ayah saya membangunkan saya dengan berita buruk. Pasukan Israel telah membunuh Mehdat. Dia adalah pejuang perlawanan Brigade Syuhada Al-Aqsa, sayap bersenjata gerakan Fatah. Dia meninggal selama operasi melawan pos militer Israel di Kfar Darom, sebuah permukiman Israel saat itu di Gaza.

Saya sangat terpukul dengan kematian Mehdat.

Dia adalah panutan saya. Saya bahkan meniru potongan gaya rambutnya.

Pada akhir pemakaman Mehdat, saya duduk di samping Said Abu Jalala. Dengan polosnya, saya memberi tahu Said bagaimana Mehdat meminta maaf karena tidak bersedia mengajar kung fu.

Said mulai menangis tak terkendali.

Saya terus belajar kung fu dari Said selama satu tahun lagi. Lalu saya menyerah pada olahraga.

Beberapa tetangga kami mengungsi dari rumah mereka pada tahun 2014. Tetapi keluarga saya tinggal di kamp pengungsi Jabaliya. Ketika kami merasa dalam bahaya, kami akan berkumpul di kamar mandi. Ini beratap beton.

Saya ingat dengan jelas suatu malam menjelang akhir Juli tahun itu. Kami mendengar banyak ledakan di kamp malam itu.

Israel telah menembaki sebuah sekolah PBB tempat ratusan orang mengungsi. Sembilan belas orang terbunuh dalam serangan itu.

Saya pergi ke rumah sakit Kamal Adwan sehingga saya bisa melaporkan identitas para korban.

Ada mayat di mana-mana di halaman rumah sakit. Begitu banyak orang telah terbunuh pada saat itu sehingga kamar mayat penuh.

Seorang dokter forensik menemani saya ketika saya berjalan di antara mayat. Kami berhenti di depan tubuh seorang pria besar. Ketika saya menanyakan nama korban, dokter menjawab bahwa itu adalah Said Abu Jalala.

Instruktur kung fu senior saya.

Lima tahun kemudian, saya masih terganggu oleh kenangan itu, bersama dengan banyak orang lain. (AT/RI-1/P1)

 

Sumber: The Electronic Intifada

 

Mi’raj News Agency (MINA)