Tentara Erdogan Hancurkan Senjata Berteknologi Tinggi Putin

Idlib, MINA – Reporter dari salah satu harian terbesar Jerman, Bild, Julian Röpcke, menulis sebuah artikel tentang kemampuan pesawat nirawak (drone) Turki di medan tempur Suriah, Idlib.

Karya yang berjudul “Pasukan Erdogan menghancurkan senjata berteknologi tinggi Putin” merujuk kepada keberhasilan armada tempur udara tak berawak Bayraktar di medan pertempuran. Demikian Daily Sabah melaporkan.

Röpcke kemudian menyertakan sebuah video dalam tulisan tersebut, yang menunjukkan UAV (drone) Turki menembak jatuh sistem pertahanan udara Pantsir S1 (SA-22) buatan Rusia yang bernilai US$14 juta-saat radar perangkat iu terpantau aktif-di Saraqib, Suriah.

Klip itu menunjukkan Pantsir S-1 tampak gagal mendeteksi proyektil amunisi pintar MAM-L, yang dikembangkan oleh perusahaan pertahanan terkemuka Turki ROKETSAN—yang ditembakkan dari ANKA. Sistem yang tampaknya aktif gagal mendeteksi rudal yang masuk atau drone yang terbang di atas jangkauan radar.

“Pada 2007, Assad memesan 50 sistem senjata ini (nama kode NATO: SA-22) dari Rusia. Berapa banyak yang telah diterima sampai saat ini-tidak jelas,” tambah Röpcke.

“Itu adalah serangan Turki kedua yang berhasil menargetkan sistem semacam ini. Tentara Turki menerbitkan video pada akhir Februari yang menunjukkan penghancuran sistem lain,” ujarnya, merujuk operasi sebelumnya pada awal Operation Spring Shield.

“Akibatnya, operasi militer Turki, yang juga menghancurkan ratusan kendaraan lapis baja yang dibeli Assad dari Rusia dan sebelumnya Uni Soviet, semakin menjadi masalah bagi Kremlin,” kata Röpcke.

“Karena kekuatan Assad-selain pengerahan Angkatan Udara Rusia dan tentara bayaran asing yang dikendalikan oleh Iran-sebagian besar didasarkan pada peralatan militer dan amunisi dari Rusia. Tanpa ini, pasukan Asad akan kehilangan keunggulannya atas pemberontak yang kekuatannya jauh lebih buruk,” tambahnya.

Wartawan itu juga membahas pesawat tempur F-16 Turki yang menembak jatuh pesawat tempur Aero L-39 Albatros buatan Cekoslovakia milik rezim Assad. “Insinyur Assad mengubah pesawat pelatihan Cekoslowakia ini menjadi pesawat tempur pada 2012, yang telah membunuh ribuan warga sipil sejak itu,” pungkasnya.

Kampanye udara Turki terhadap rezim Bashar al-Assad di barat laut Suriah, Idlib sepenuhnya bergantung pada drone yang dikembangkan Turki. Ankara telah memamerkan kecakapan teknologi dan daya tembak udara di medan perang. Keberhasilan senjata ini dipandang oleh banyak orang sebagai faktor yang telah menentukan kondisi di wilayah tersebut.

Didorong oleh serangan rezim Assad pekan lalu yang menewaskan 34 tentara Turki, sejumlah serangan balasan terkoordinasi oleh Turki telah menyebabkan kerusakan signifikan pada pemerintah Assad.

Seorang pejabat Turki mengatakan pengerahan sejumlah besar drone bersenjata tersebut menunjukkan kecakapan teknologi Ankara di medan perang.

Militer Turki telah menembak jatuh setidaknya tiga jet tempur pasukan pemerintah Suriah di selatan Idlib, yang terbaru pada Selasa lalu.

Kementerian pertahanan Turki mengatakan sejauh ini lebih dari 2.500 tentara Suriah telah ‘dinetralkan’-sebuah istilah yang berarti terluka, ditangkap atau dibunuh. (T/R10/RI-1)

 

 

Mi’raj News Agency (MINA)