Tentara Israel Tembak Anak 11 Tahun di Kamp Pengungsian Shufat

(Foto: File/Ma’an)

Yerusalem, MINA – Tiga warga Palestina, termasuk seorang anak laki-laki berusia 11 tahun, terluka pada Senin malam (2/10) ketika pasukan Israel menggerebek kamp pengungsi Shufat di Yerusalem Timur yang diduduki. Penggerebekan ini memicu terjadinya bentrokan dengan kekerasan.

Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan, anak yang masih berusia 11 tahun tersebut kondisinya terluka parah dan dievakuasi ke Pusat Medis Hadassah Israel di Yerusalem, setelah pasukan Israel menembaknya di dahi dengan peluru baja berlapis karet.

Seorang pria berusia 60-an dan penduduk lain yang belum teridentifikasi juga dirawat di tempat kejadian setelah mereka ditembak dengan peluru karet. Beberapa lainnya menderita pernafasan yang cukup parah akibat gas air mata.

Juru bicara gerakan Fatah di Shufat Thaer Fasfous mengatakan, pasukan Israel telah menyerang kamp tersebut melalui pintu masuk utamanya dan pasukan dalam jumlah besar itu ditempatkan di jalan-jalan kamp pengungsi, yang menyebabkan bentrokan meletus antara pemuda setempat dan tentara Israel.

Seorang juru bicara polisi Israel mengatakan melalui telepon kepada Ma’an yang dikutip MINA, dia “tidak asing lagi” dengan insiden tersebut.

Penggerebekan Israel di kota-kota Palestina, desa-desa, dan kamp-kamp pengungsian adalah kejadian sehari-hari di Tepi Barat yang diduduki dan di Yerusalem Timur.

Karena sifat penggerebekan yang biasanya agresif, bentrokan sering meletus antara pemuda Palestina setempat yang melempari batu dan disambut oleh tentara Israel dengan tembakan langsung, peluru baja berlapis karet, dan gas air mata, yang seringkali mengakibatkan luka serius, kadang fatal.

Kelompok hak asasi manusia berulang kali mengecam pemerintah Israel karena penggunaan kekerasan berlebihan terhadap orang-orang Palestina saat terjadi bentrokan, terutama di kamp-kamp pengungsian, selama insiden yang tidak menjamin adanya tindak kekerasan.

Kamp pengungsian Shufat terletak di Yerusalem timur laut di dalam batas kota-kota Israel, namun dikelilingi oleh tiga sisi oleh dinding pemisah Israel, memaksa penduduk melewati sebuah pos pemeriksaan militer yang padat untuk mengakses wilayah Yerusalem yang paling banyak menuntut status kependudukan. (T/B05/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)