Terima Kasih Palestina

Masyarakat berduyun-duyun melakukan aksi mendikung perjuangan rakyat palestina (foto: Dok MINA)

Artikel berjudul Terima Kasih Palestina berikut ini menjelaskan tentang hal-hal yang dilakukan oleh Bangsa Palestina dalam upaya melawan penjajahan Zionis Israel.

Bangsa Indonesia, umat Islam, Nasrani dan Yahudi sekalipun hendaknya mengucapkan terima kasih kepada Palestina karena kepahlawanan mereka dalam kemanusiaan dan menjaga tempat-tempat suci.

Berikut ini paparan penulis tentang apa saja yang menyebabkan kita harus berterima kasih kepada Palestina:

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا۟ مَا عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًا (الاحزاب [٣٣]: ٢٣)

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (QS Al-Ahzab [33]: 23)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, ayat di atas turun untuk sahabat Anshar bernama Anas bin Nadhir Radhiallahu anhu. Ia tidak ikut perang Badar. Namun ia berjanji kepada Allah Ta’ala untuk ikut berperang pada peperangan selanjutnya.

Anas bin Nadhir Radhiallahu anhu menemui syahid dalam perang Uhud. Ketika jasadnya dikenali, kemudian Rasulullah Shallallahu alahi Wasallam menyatakan baginya surga.

Sementara Az-Zamakhsyari dalam tafsirnya al-Kasysyaf menjelaskan bahwa beberapa orang sahabat Radhiallahu anhum ada yang bernazar, bahwa jika mereka ikut perang bersama Rasulullah Shallallahu alahi Wasallam, mereka tidak akan mundur dan tetap bertahan sampai gugur sebagai syuhada.

Di antara para sahabat yang berjanji itu ialah Usman bin Affan, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Sa’id bin Zaid, Hamzah, Mus’ab bin ‘Umair, dan sahabat-sahabat yang lain Radhiallahu anhum.

Dalam konteks saat ini, kita menyaksikan kegigihan para pejuang Palestina dalam mempertahankan tanah airnya dan Masjidil Al-Aqsa, menghadapi kedzaliman kaum Zionis Yahudi. Mereka adalah golongan yang tetap teguh dalam jihad, sebagaimana ayat di atas.

Sebagian dari mereka menemui syahidnya. Namun wafatnya para pejuang tidak mengurangi semangat para pejuang lainnya dalam mempertahankan kesucian Masjidil Aqsa dan setiap jengkal bumi Palestina. Setiap gugur satu syuhada, maka rakyat Palestina lainnya akan menggantikannya.

Para pejuang mendambakan kemenangan, baik kemenangan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa gugur sebagai syahid, atau kemenangan berupa terbebasnya Palestina dan Masjidil Aqsa dari penjajahan Zionis Israel yang didukung negara-negara sekutunya.

Bukti Kebenaran Ayat Al-Qur’an

Para pejuang Palestina memiliki komitmen kuat dan pantang mundur, meskipun di antara mereka banyak terluka. Sebagian lainnya menemui syahid, gugur di medan perang melawan kedzaliman dan penajajahan.

Baca Juga:  Netanyahu Umumkan Pembubaran Kabinet Perang Israel

Meski banyak media melabeli para pejuang Palestina dengan sebutan teroris, tetapi mereka tetap pada jalur perjuangan. Meski negara-negara di sekitarnya acuh tak acuh dengan kondisi mereka, namun para pejuang tidak mengendurkan semangatnya untuk terus mendapatkan hak-haknya yang dirampas penjajah.

Hasil dari konsistensi para pejuang, hari ini mata dunia menyaksikan, siapa teroris yang sesungguhnya. Kegigihan para pejuang Palestina telah menggerakkan para aktivis, akademisi, ilmuwan, atlet, artis dan masyarakat internasional untuk menyarakan kutukan pada kejahatan Zionis Israel dan dukungan demi terhapusnya penjajahan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di bumi Palestina.

Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat internasional masih memliki nurani untuk membela kebenaran, menyuarakan pembelaan terhadap mereka yang terjajah dan terampas hak-haknya. Solidaritas mereka menjadi bukti bahwa dunia masih memihak kepada kebenaran, meski ada kekuatan besar yang mencoba terus menutup-nutupi kejahatan mereka.

Gelombang Dukungan untuk Perjuangan Palestina

Sudah seharusnya manusia di seluruh dunia berterima kasih kepada bangsa Palestina karena mereka lah yang saat ini berada di garda terdepan dalam perjuangan nilai-niai kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Berkat perjuangan mereka lah, manusia di seluruh dunia mengetahui siapa sebenarnya Zionis Israel, kekejaman mereka, dan bagaimana para pemimpinnya melecehkan hukum-hukum internasional, mengacuhkan resolusi perdamaian dan seakan kebal dari semua hukum internasional.

Dari kegigihan dan perjuangan mereka lah, mata dunia menyaksikan sifat-sifat buruk Yahudi dan berbagai pelanggaran kemanusiaan mereka saat ini terbongkar dengan jelas, diekspos di berbagai media, disaksikan oleh seluruh umat manusia.

Beberapa pekan terakhir, muncul gerakan “All Eyes On Rafah” di media sosial yang telah dishare (dibagikan) sedikitnya 35 juta kali dalam 24 jam. Gerakan tersebut mengajak masyarakat internasional untuk memperhatikan kota Rafah, wilayah paling selatan Gaza yang menjadi tempat terakhir para pengungsi Paletina.

All Eyes On Rafah membawa pesan kepada dunia bahwa Zionis Israel semakin membabi buta melakukan serangan kepada warga sipil Palestina. Kondisi kritis Rafah hendaknya menjadi perhatian seluruh masyarakat dunia bahwa di sana ada jutaan manusia yang sangat memerlukan bantuan kemanusiaan.

Gerakan itu sekaligus menunjukkan keteguhan rakyat Palestina yang tetap bertahan di tengah gempuran militer Zionis Israel. Mereka tetap tidak bergeming, walaupun harus menganggung ancaman kematian bisa saja datang setiap saat.

Solidaritas global terbukti memiliki peran penting dalam memberikan dukungan moral perjuangan rakyat Palestina.  Dukungan dari berbagai kalangan menunjukkan bahwa nurani masyarakat dunia masih ada untuk mereka yang terjajah dan teraniaya.

Gerakan boikot, divestasi, dan sanksi (BDS) telah menjadi alat utama bagi para aktivis di seluruh dunia untuk mengerem berbagai pelanggaran HAM Zionis Israel terhadap rakyat Palestina. Gerakan itu kemudian menjadi viral dan digaungkan di berbagai event-event internasional.

Baca Juga:  Polisi Mesir Tahan 250 Suporter Al Ahly Karena Kibarkan Bendera Palestina

Beberapa pekan lalu, dalam Sidang Umum PBB, mayoritas negara mengakui kedaulatan Palestina. Mereka ingin Palestina menjadi anggota penuh PBB, memiliki hak yang sama dan dapat berkiprah sebagaimana negara-negara lainnya.

Dukungan selanjutnya datang dari negara yang selama ini sangat gigih mendukung Zionis Israel. Namun sekarang, berbalik 180 derajat membela Palestina. Pemerintah negara Irlandia, Norwegia dan Spanyol pada Selasa, 28 Mei 2024 lalu secara resmi mengakui Palestina sebagai sebuah negara.

Menteri Luar Negeri Irlandia Micheal Martin mengatakan, keputusan Pemerintahannya mengesahkan pembentukan hubungan diplomatik penuh dengan Negara Palestina.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez pengakuan negara Palestina. Sebuah keputusan bersejarah telah dibuat negara itu untuk mencapai perdamaian antara di kawasan Timur Tengah.

Pada hari yang sama, pengakuan Pemerintah Norwegia diumumkan oleh Menteri Luar Negerinya, Espen Eide. “Hari ini, ketika Norwegia secara resmi mengakui Palestina sebagai sebuah negara, merupakan tonggak sejarah dalam hubungan antara Norwegia dan Palestina,” ujarnya.

Masih banyak lagi negara-negara di Eropa, Amerika Latin, Afrika dan Asia yang menyatakan dukungannya kepada Palestina dan mulai menjaga jarak dengan pemerintah Zionis Israel akibat kekejamannya dan pengabaian terhadap hukum-hukum internasional.

Gelombang Masuk Islam di Eropa dan Amerika

Ketabahan dan kesabaran warga Palestina, khususnya di Gaza telah membuat banyak orang Eropa dan Amerika berempati dan akhirnya mereka memutuskan memeluk agama Islam, yaitu agama yang dipeluk oleh mayoritas rakyat Palestina.

Ketua Yayasan Masjid Granada dan Komunitas Islam di Spanyol, Umar del Pozo
mengungkapkan, setidaknya setiap masjid di wilayah Andalusia selatan menerima satu hingga dua warga yang masuk Islam (mualaf) setiap pekannya pasca agresi Zionis ke Gaza 7 Oktober 2023 silam.

“Mereka melihat serangan yang brutal dan kebohongan Israel selama ini. Akibatnya, mereka mulai mengajukan lebih banyak pertanyaan di benak mereka dan orang-orang di sekitar mereka,” ujar del Pozo.

Del Pozo menambahkan, tekad dan perjuangan warga Palestina untuk mempertahankan ‘rumah’ mereka mengundang rasa penasaran dan simpati bagi warga Spanyol. “Inilah cara orang mengenal Islam,” jelasnya.

Sementara itu, tiktoker asal Amerika Serikat (AS), Alessia membagikan cerita yang melatarbelakangi dirinya mau mempelajari Al-Qur’an pasca peristiwa 7 Oktober. Keinginan itu muncul setelah ia menyaksikan apa yang terjadi di Palestina dan warganya dengan keimanan tinggi, bahkan setelah kehilangan segalanya.

Baca Juga:  8 Tentara Israel Tewas di Tal as-Sultan Rafah

Wanita asal AS itu juga merasa kesal dengan ulah Zionis Israel yang menyerang Gaza. “Aku pun bakal mempertanyakan kepercayaanku sendiri jika aku kehilangan seluruh keluargaku,” ungkapnya.

Tokoh AS lainnya, Megan Rice juga memutuskan menjadi mualaf setelah menyaksikan ketabahan dan kesabaran warga Palestina di Gaza atas ageris Zionis Israel.

Megan Rice membagikan link bertajuk “Nonmuslim Membaca Al-Qur’an” di akun media sosialnya. Ia juga senantiasa membagikan konten harian terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an dalam bahasa Inggris yang sudah dibacanya.

Aktivis HAM asal AS lainnya, Shaun King juga mengaku ikut terenyuh dengan penderitaan warga Jalur Gaza Palestina akibat agresi Israel sejak 7 oktober lalu. King kemudian memutuskan untuk memeluk agama Islam pada Senin 11 Maret 2024 lalu.

Ia memutuskan menjadi mualaf bersama sang istri, Rai King, sehari sebelum Ramadan 1445. Keduanya membaca kesaksian dua kalimat syahadat di masjid Valley Ranch Islamic Center Dallas, Texas, dibimbing Imam Omar Suleiman.

Bagi umat Islam dan Kristen, bahkan Yahudi hendaknya berterima kasih kepada Rakyat Palestina karena mereka lah yang menjadi penjaga tempat suci, Baitul Maqdis (Bait Suci sebutan bagi umat Kristen) dari aksi penyerbuan dan penodaan yang dilakukan Zionis Israel.

Dengan kegigihan bangsa Palestina, terutama mereka yang tinggal di sekitar Yerusalem, maka kesucian Yerusalem sebagai kota suci bagi tiga agama masih terjaga hingga saat ini.

Bintang Mahaputera untuk Bangsa Palestina

Bangsa Indonesia juga sepantasnya berterima kasih kepada bangsa Palestina karena para tokoh mereka lah yang membantu perjuangan bangsa Indonesia dalam kancah diplomasi internasional hingga kita mendapatkan kemerdekaan.

Seorang Mufti Palestina, Sayyid Al-Amin Al-Husaini (1895-1974 M) memberi kontribusi besar kepada Indonesia. Ia mengumandangkan kemerdekaan Indonesia ke dunia melalui Radio Berlin berbahasa Arab.

Sayyid Al-Amin Al-Husaini juga aktif melobi banyak pemimpin negara Arab untuk mengakui dan membela kemerdekaan Indonesia. Berkat jasanya, Indonesia diakui pertama kali secara de facto dan de jure oleh Mesir dan diikuti oleh Suriah, Lebanon, serta beberapa negara Timur Tengah lainnya.

Selain Al-Amin Al-Husaini, ada Muhammad Ali Taher (1896-1974 M) yang menyumbangkan seluruh hartanya untuk perjuangan bangsa Indonesia saat agresi militer Belanda ke-2 pada 1948 silam. Ia menyerahkan seluruh hartanya kepada Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, Mohamed Zein Hassan.

Muhammad Ali Taher dikenal sebagai seorang wartawan, sekaligus saudagar. Ia mendirikan beberapa media di Mesir yang ia gunakan untuk perjuangan, termasuk mendukung kemerdekaan Indoensia. Beberapa surat kabar miliknya antara lain: Ashoura, Al-Shabab, dan Al-Alam Al-Masri.

Pada 1973, Presiden RI kedua Soeharto memberikan penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana kepada Muhammad Ali Taher. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk pengakuan dan penghormatan atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia.[]

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالـصَّـوَابِ

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Widi Kusnadi

Editor: Widi Kusnadi