Terperosok ke Jurang Hedonisme

Oleh : *

Presiden Joko Widodo dalam pengantar Sidang Kabinet Paripurna, di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 2 Maret 2023, menegur seluruh jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) agar dapat disiplin dalam menghilangkan sifat .

Presiden Jokowi menegur jajaran aparatur yang masih memiliki sifat hedonisme, jemawa, dan kekuasaan. Presiden menyebut, perilaku tersebut sangat merugikan dan dapat menciptakan kekecewaan bagi masyarakat.

“Saya tahu betul, mengikuti kekecewaan masyarakat terhadap aparat kita, terhadap pemerintah. Hati-hati, tidak hanya urusan pajak dan bea cukai, ada kepolisian, penegak hukum lainnya, dan birokrasi yang lainnya. Kalau seperti itu menurut saya pantas rakyat kecewa,” tegas Presiden. Seperti disebutkan Biro Pers, Media dan Informasi dalam laman Presidenri.go.id.

Pidato Presiden mengemuka di tengah maraknya pamer harta kekayaan dari anak pejabat, anak orang kaya, juga pejabat itu sendiri, yang terlalu dalam menikmati dan memamerkan harta kekayaannya. Mereka telah terperosok jauh ke dalam jurang hedonisme, berlebih-lebihan dalam memuaskan nafsunya di tengah banyak kemiskinan rakyat.

Kecenderungan kepada hedonisme berpangkal pada penyakit kepribadian diri, yaitu adanya kesombongan dan egoisme.

Sombong muncul karena selalu membanggakan kekayaan dan kedudukan yang dimilikinya, atau dimiliki orang tuanya, atau keluarganya, untuk menunjukkan keunggulannya atas orang lain. Maka akan terlihat orang yang berjiwa hedonis, ia akan memandang rendah orang lain.

Semakin tinggi sikap hedonisme, akan semakin menimbulkan jurang menganga yang lebar, antara mereka dengan orang lain.

Dalam mengumpulkan dan menggunakan harta kekayaan dan barang-barang mewah itu, mereka akan dikuasai oleh sifat ketamakan.

Belum lagi, kepungan budaya hedonisme di tengah masyarakat yang katanya disebut modern, terus saja terlihat dari adanya kecenderungan kepada kemewahan dan kesenangan terhadap gemerlap dunia.

Manusia-manusia yang terjebak hedonisme, akan membabi buta menggapai keinginannya dalam hal keduniaan. Kalau dia ingin kendaraan mewah, rumah mewah, perhiasaan mewah, dengan korupsi pun diupayakan. Kalau hati sudah diiming-imingi kekhawatiran, riba pun dijalaninya. Demikian halnya, manakala janji-janji menggoda, uang dari kajahatan pun tak peduli diambilnya.

Fenomena hedonisme itu sendiri sebenarnya sudah tampak nyata dari penampilan fisik sehari-hari dan tayangan glamour selebriti di layar-layar televisi dan media sosial. Adanya kecenderungan pada kemewahan dalam aktivitas kehidupan.

Iklan, sinetron, film, reality show, gossip artis, dan berbagai sajian yang terdapat di berbagai sarana media sosial, ikut membantu menciptakan budaya hedonisme.

Media-media dalam banyak tayangannya, banyak mengiklankan produk-produk yang sebenarnya tidak diperlukan. Penampilan artis dengan menampakkan auratnya, melalui iklan-iklan yang  tidak ada hubungannya secara langsung dengan produk iklan, inilah yang meninggalkan berbagai dampak psikologis terhadap para pemirsa. Ini terutama kalangan generasi muda, remaja dan anak-anak.

Tuntunan Agama

Kalau kita kembalikan kepada tuntunan agama Allah, yang telah mengaruniakan nikmat yang tidak terhingga. Mestinya, segala karunia dan fasilitas kehidupan itu, hendaknya digunakan oleh manusia secara benar dan tidak melanggar batas-batas aturan Allah.

Syariat agama Islam mengingatkan, agar manusia tidak berlebih-lebihan dalam memanfaatkan nikmat Allah. Di antaranya peringatan Allah :

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ

Artinya : “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid, dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS Al-A’raf [7]: 31).

Ibnu Katsir di dalam Tafsir Al-Quranul ‘Adzim menyebutkan Ibnu Abbas yang mengatakan, makna yang dimaksud pada ayat “janganlah berlebih-lebihan” ialah makanlah sesukamu dan berpakaianlah sesukamu, selagi engkau hindari dua pekerti, yaitu berlebih-lebihan dan sombong.

Pada ayat lain dikatakan, orang-orang yang suka memubazirkan nikmat Allah, disebut sebagai saudara setan. Seperti disebutkan di dalam ayat :

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا

Artinya : “Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS Al-Isra [17]: 27).

Di dalam Tafsir Al-Quran Kementerian Agama RI dijelaskan, yang dimaksud pemboros dalam ayat ini, ialah orang-orang yang menghambur-hamburkan harta bendanya dalam perbuatan maksiat.

Di dalam hadits diingatkan :

سَيَكُونُ رِجَالٌ مِنْ أُمَّتِي يَأْكُلُونَ أَلْوَانَ الطَّعَامِ، وَيَشْرَبُونَ أَلْوَانَ الشَّرَابِ، وَيَلْبَسُونَ أَلْوَانَ اللِّبَاسِ، وَيَتَشَدَّقُونَ فِي الْكَلامِ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ أُمَّتِي

Artinya : “Akan datang menimpa umatku banyak orang yang memakan berbagai macam makanan dengan cara berlebihan. Mereka juga minum dengan segala macam minuman, juga berpakaian dengan pakaian yang berlebihan. Mereka itu adalah orang yang paling buruk dari umatku”. (HR Ath-Thabrani).

Begitulah, orang-orang yang hedonis, tidak hanya dikecam karena sikapnya yang memubazirkan waktu dan anugerah Allah saja. Tetapi ia dikecam juga karena dia menutup kesempatan berkembangnya nilai-nilai kebaikan seperti penyaluran harta tersebut untuk kebaikan.

Berkaitan dengan sikap hedonisme ini, sahabat Nabi yang terkenal keilmuwannya, Ali bin Abi Thalib menyebut tiga tanda bagi orang yang berlebihan dalam hal memanfaatkan karunia dan kenikmatan Allah.

Pertama, memakan apa yang tidak sesuai baginya. Kedua, mengenakan pakaian yang tidak seharusnya dipakai.  Ketiga, membeli apa yang tidak pantas untuk dirinya.

Ada baiknya juga kita renungkan, apa yang disampaikan oleh ilmuwan Muslim terkemuka bidang sosial dan ekonomi, Ibnu Khaldun (1332-1406 M.).

Ibnu Khaldun menyimpulkan, sejauh mana sebuah masyarakat tenggelam dalam kecintaan gemerlap dunia (hedonisme), sejauh itulah mereka akan mendekati batas keterpurukannya.  Sejauh mana hidup dalam gemerlap mewah mewabah, sejauh itu pulalah kemiskinan akan menyebar di tengah masyarakat.

Maka, begitulah konsep hidup sederhana sebagai salah satu pokok dari ajaran Islam, menjadi solusi hidup dalam kepungan hedonisme.

Pola hidup sederhana bukan berarati menyengsarakan diri, tapi ia adalah sikap hidup yang terpuji, yang akan membimbing manusia menuju kebahagiaan hakiki, di tengah-tengah masyarakat.

Semoga kita terhindar dari jurang hedonisme. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

*Penulis, Ust. Ali Farkhan Tsani,S.Pd.I., Wartawan & Redaktur Senior MINA, Da’i Pondok Pesantren, Penulis Buku. Dapat dihubungi melalui Nomor WA : 0858-1712-3848, atau email [email protected].