Texas: Ramadhan Jadi Momentum Silaturahim Antar Umat Beragama

Momentum buka bersama antar umat beragama di Islamic Center of Waco tahun 2019. (Dok foto: Fanpage FB Islamic Center of Waco).

Waco, Texas, Amerika Serikat,  – Selama bulan Ramadhan, umat Islam di seluruh dunia melaksanakan puasa, yang berarti tidak makan atau minum apapun dari matahari terbit hingga terbenam.

Juru Bicara Islamic Center of Hewitt Mohammad Altal mengatakan, ini adalah bulan yang dimaksudkan untuk refleksi diri, pengembangan diri, dan pengabdian pada doa dan keyakinan. Ini adalah tradisi unik yang dijalani di Waco, Texas.

“Sebenarnya saya sangat terkejut dengan kota kecil seperti Waco, di mana orang-orangnya sangat ramah, dapat menerima, dan mereka tidak membuat Anda merasa seperti minoritas,” kata Altal seperti dikutip dari kcentv.com, Jumat (7/5/2021).

Ia mengatakan, walaupun komunitas di daerah itu menganggap umat muslim tidak seperti minoritas, namun menurut data dari World Population Review, muslim membentuk kurang dari 2% dari komunitas religius di Texas.

“Setiap tahun di bulan Ramadhan, kami mengundang semua umat Kristen dan Yahudi untuk berbuka puasa bersama kami, ”kata Presiden Islamic Center di Waco Al Siddiq.

Terlepas dari perbedaan iman, para pemimpin agama, seperti Pendeta Chris Sammons dari First Baptist Church di Hewitt, mengakui kemanusiaan yang sama.

“Saya pikir penting bagi kita sebagai pengikut Yesus untuk menunjukkan cinta kepada semua orang, bukan hanya karena mereka Muslim atau memiliki latar belakang tertentu,” kata Sammons.

“Bulan Ramadhan ini, menjadi moment yang baik untuk mereka menjalankan sholat dan puasa sebagai upaya mereka untuk memahami lebih dan lebih lagi tentang siapa Tuhan itu. Saya pikir ini ada di semua hati kita, untuk memahami siapa Tuhan itu,” tambahnya.

Sementara itu, Associate Professor Agama Dunia dan Studi Islam di Baylor University Dr. Christian Van Gorder mengatakan, ada perbedaan.

“Ada perbedaan besar dalam agama Kristen, Yahudi, dan Muslim,” kata van Gorder. “Itu adalah perbedaan penting, tetapi bukan perbedaan etika, bukan perbedaan moral,” ujarnya.

Van Gorder mengatakan, dia secara pribadi telah melihat manfaat Ramadhan.

“Sungguh menyentuh hati, menyemangati, dan sebagai ajang untuk bertemu saudara perempuan dan laki-laki Muslim saya di sini selama Ramadhan, karena saya menghargai semangat dan dedikasi mereka dalam iman mereka,” kata van Gorder.

“Itu adalah pengingat bagi saya, bahwa saya bisa lebih berniat dan lebih setia dalam praktik keagamaan saya,” tambahnya.

Meskipun ada banyak orang di komunitas yang tidak merayakan Ramadhan, itu tidak menghentikan komunitas Muslim untuk mencoba tetap terhubung dengan tetangga mereka.

“Kami hidup bersosialisasi dengan tetangga tanpa memandang agama dan keyakinan,” kata Altal. (T/R6/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)