Tidak Dapat Izin Keluar Gaza dari Israel, 20 Pasien Meninggal

Seorang pria Palestina menerima perawatan medis di rumah sakit Al-Shifa di Kota Gaza (Foto: File/MEMO)

Gaza, MINA – Setidaknya 20 pasien Gaza Palestina meninggal dunia karena larangan melakukan perjalanan keluar untuk melakukan pengobatan, demikian menurut laporan media Israel, Haaretz, pada hari Selasa (5/12).

Surat kabar Israel mengutip laporan kelompok hak asasi manusia yang mencatat seringnya Israel melarang dikeluarkannya izin keluar bagi pasien. Tindakan Israel tersebut sesungguhnya tidak dapat dibenarkan, Middle East Monitor melaporkan yang dikutip MINA.

Haaretz juga melaporkan kasus Yara Bakheet berusia empat tahun yang sering muntah selama sepekan penuh dan mengalami dehidrasi. Setelah serangkaian tes di Rumah Sakit Eropa di Gaza, dokter mengatakan kepada ibunya bahwa dia menderita penyakit jantung.

Dia diberi laporan transisi medis ke Rumah Sakit Al-Maqasid di Yerusalem Timur tempat dia seharusnya dirawat.

Keluarga tersebut menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan dan mengajukan izin untuk meninggalkan Jalur Gaza, mereka diberitahu bahwa badan intelijen Israel Shin Bet harus menyetujui permohonan tersebut. Ini memang dilakukannya, namun hanya untuk anak dan bukan untuk ibunya. Akibatnya, keluarga tersebut mengajukan permohonan agar neneknya mengajukan permohonan dan permohonannya disetujui.

Yara pergi ke Yerusalem, menjalani perawatannya yang pertama kemudian kembali ke Gaza. Pasukan pendudukan Israel tidak mengizinkannya untuk meninggalkan Jalur Gaza lagi untuk melanjutkan perawatannya berikutnya dan sampai kemudian dia meninggal.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, pada bulan Juni sebanyak 1.920 pengajuan untuk izin keluar oleh pasien. Badan internasional mengatakan 951 dari pengajuan tersebut disetujui, 20 ditolak dan 949 (49,4 persen) tidak terjawab sampai pada tanggal rawat inap atau perawatan. Jumlahnya, menurut WHO, termasuk 222 anak dan 113 lansia.

WHO juga mencatat bahwa 42 persen dari 1.858 pengajuan yang diajukan pada bulan September tidak ada kelanjutan karena pemohon mereka tidak menerima tanggapan.

Menurut Haaretz, badan medis internasional mengatakan, sejak awal 2017 sampai September, 43,7 persen dari 20.000 berkas yang diajukan tidak menerima tanggapan, 2,9 persen ditolak karena alasan keamanan dan 53 persen disetujui dengan 75 persen bepergian ke Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Dikatakan, bahwa 20 persen surat pengajuan, yang tidak mendapat tanggapan, ditujukan untuk anak-anak dan delapan persen untuk orang lanjut usia. (T/B05/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)