Tiga Ibadah Sumber Kekuatan Umat Islam

(Foto: KWPSI)

Oleh: Ustaz ‎Dr H Aslam Nur LML MA, ‎Ketua Pengurus Wilayah (PW) Muhammadiyah Aceh‎, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Aceh

Umat Islam memerlukan kekuatan dan pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk meraih kemenangan melawan berbagai kebatilan dalam kehidupan ini.

Usaha maksimal untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat hanya bisa didapatkan dengan patuh dan meninggikan agama Allah serta menaklukkan ideologi musuh-musuh Islam.

Ini bukan hanya kemenangan individu, tapi juga kemenangan umat Islam secara menyeluruh.‎ Untuk itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga telah menyediakan sejumlah sarana ibadah yang bisa dipakai agar pertolongan-Nya cepat datang untuk meraih kemenangan, salah satunya shalat, utamanya yang dilakukan secara berjamaah di masjid bukan shalat sendiri-sendiri.

Jika kita ingin meraih pertolongan Allah, ada tiga sumber ibadah yang menjadi kekuatan umat Islam yaitu shalat wajib lima waktu secara berjamaah, shalat tahajud pada tengah malam dan tidak menyekutukan Allah dengan selalu menggantungkan harapan pada-Nya.

Pertama, shalat lima waktu berjama’ah.

Ini merupakan ibadah yang paling utama dalam Islam untuk menjadi sumber kekuatan umat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 78 menegaskan yang artinya, “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh tu disaksikan (oleh malaikat)”

Baca Juga:  Masjid Al Aqsa dalam Al Quran dan Sunnah

‎Tapi ini bukan sembarang shalat. Laki-laki itu harus berjamaah di masjid. Jika tidak berjamaah, shalat belum masuk kategori sumber kekuatan umat.

Begitu pentingnya shalat secara berjamaah ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hanya 17 waktu saja yang tidak shalat berjamaah, yaitu tiga hari terakhir menjelang wafat beliau karena sakit demam sampai pingsan. Sementara di waktu lain dalam hidupnya selalu berjamaah termasuk waktu dalam kondisi perang.

Rasul malam Jum’at waktu magrib terakhir shalat jamaah‎. Lalu waktu Isya tidak berjamaah lagi sampai wafat hari Senin waktu dhuha. Para sahabat tidak pernah meninggalkan shalat jamaah. Sampai orang buta di masa Rasul pun, tidak diperbolehkan tinggal shalat berjamaah, jika ia masih mendengar suara azan tetap wajib harus disahuti dan bergegas pergi ke masjid.

Salah satu program di Turki adalah shalat berjamaah, utamanya shalat subuh di masjid. Sehingga selalu datang pertolongan dan bantuan Allah setiap saat, dan Turki terus berjaya dengan berbagai keunggulan saat ini. Begitu juga dengan di Arab Saudi dan negara-negara Timur Tengah lainnya, berbagai aktivitas kehidupan terhenti saat azan berkumandang dan semuanya menuju ke masjid untuk shalat berjamaah.

Baca Juga:  Masjid Al Aqsa dalam Al Quran dan Sunnah

Coba bandingkan dengan daerah kita. Ada di mana kita saat azan berkumandang, apakah segera menuju masjid atau tidak. Kalau kita ingin dapat bantuan Allah, periksalah dulu shalat jamaah kita. Kalau shalat sendiri selesai kewajiban, tidak ada nilai plus dalam pandangan Allah untuk memberi pertolongan dan perhatian kepada kita.

Di antara tujuh golongan manusia yang akan mendapat pertolongan dan naungan dari Allah pada hari kiamat, adalah laki-laki yang terikat hatinya pada masjid untuk shalat berjamaah. Sehingga, orang yang sudah rutin berjamaah shalatnya, ‎akan rugi dan menyesal jika sekali saja tinggal shalat berjamaah.

Kedua, sumber kekuatan kedua adalah, shalat Tahajud.

Keutamaan shalat malam disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 79 yang artinya, “Dan pada sebagian malam, shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”

Kedudukan Tahajud sangat tinggi di sisi Allah dan diperintahkan langsung oleh Allah lewat ayat tersebut kepada Nabi Muhammad Shalallallahu ‘Aalihi Wasallam sebelum datangnya perintah shalat wajib lima waktu. Shalat tahajud merupakan yang paling utama dari shalat-shalat sunnat yang lain.

Baca Juga:  Masjid Al Aqsa dalam Al Quran dan Sunnah

Ke mana kita pergi, kita akan selalu terjaga dan dilindungi Allah dengan shalat tahajjud. Ini sumber kekuatan, Rasul meminta pertolongan Allah pada shalat tahajud. Begitu juga Salahuddin Al-Ayyubi panglima perang dari Islam waktu meraih kemenangan dalam perang salib. Ulama-ulama besar dulu juga tidak pernah meninggalkan tahajud dan meminta ‎pertolongan Allah.

Ketiga, jangan menyekutukan Allah.

Janganlah sekali-kali menyekutukan Allah, dan janganlah pernah mengharapkan pertolongan selain dari Allah.

Wakul rabbi adkhilni mudkhala sidqi, wakhrijni mukhraja sidqi. Waj alli Min ladunka, sultanan nashira.” Tidak ada pertolongan selain Allah.

Hal ini ditegaskan dalam Surat Al-Isra ayat 80 yang artinya, “Dan katakanlah, Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”

Inilah inti doa seorang Muslim. Gantungkan harapan pada Allah agar selalu diberi pertolongan. Semua kebatilan akan lenyap jika bantuan Allah datang.

Semoga kirta dapat mengamalkannya. Amiin. (R01/RS2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

*Tulisan ini disampaikan penulis saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Rabu (19/4/2017) malam.