Tiga Pesawat Teknologi Modifikasi Cuaca Disiagakan di Riau

Pekanbaru, MINA – Tiga pesawat teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau hujan buatan disiagakan di Provinsi Riau untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) agar tidak semakin meluas.

Tiga pesawat tersebut antara lain jenis Cassa 212-200 dengan kapasitas 1 ton sudah beroperasi di Riau sejak bulan 26 Februari 2019, CN 295 dengan kapasitas 2.4 ton yang sudah berada di Pekanbaru dan Hercules dengan kapasitas 5 ton yang direncanakan tiba di Pekanbaru pada Senin (16/9) besok.

Kepala BNPB, Doni Monardo mengatakan, Pesawat CN 295 merupakan pesawat terbang transpor militer taktis dengan 2 mesin turboprop dan diawaki oleh 2 personil. Pesawat ini bisa digunakan untuk mengangkut pasukan, evakuasi medis atau angkutan barang.

“Untuk keperluan TMC, CN 295 dikonfigurasi agar dapat mengangkut bahan semai dengan kapasitas 2.4 ton. Bagian perut pesawat dimodifikasi dengan dipasang rel untuk mengangkut 8 x 300 kg bahan semai yang dengan pipa untuk menabur bahan semai secara semi otomatis,” kata Doni.

Doni mengungkapkan, pihaknya mendeteksi ada 27 titik api kategori tinggi di Riau. Secara umum Kota Pekanbaru masih diselimuti asap tipis dengan jarak pandang mencapai 1 km ada pukul 07.00 WIB dan pada pukul 10.00 WIB masih berasap dengan jarak pandang 2.2 km.

“Beberapa titik api yang dipadamkan pada hari kemarin antara lain di Kerumutan Kabupaten Pelalawan dan akan dilanjutkan pemadaman pada hari ini. Kualitas udara berdasar pengukuran PM10 pada pukul 07.00 sampai 10.00 WIB berada pada kisaran 182 sampai 201 ugram/m3 atau tidak sehat,” katanya.

Operasi TMC, kata Doni, sangat tergantung dengan keberadaan awan potensial hujan yang secara rutin diperkirakan oleh BMKG. Seluruh pesawat dalam kondisi siaga dan jika terdapat potensi awan maka akan segera terbang untuk menyemai awan agar menjadi hujan.

BMKG pada Sabtu (14/9) memprediksi, musim kemarau di Riau akan terjadi sampai pertengahan Oktober 2019. Di wilayah lain bisa sampai akhir Oktober atau Awal November 2019. Ini berarti kemungkinan kebakaran hutan dan lahan masih akan terjadi sampai akhir Oktober 2019. (L/R06/B05)

Mi’raj News Agency (MINA)