Tiga Tewas dalam Kekerasan Ramadhan di Thailand

Pattani, MINA – Tiga orang tewas, termasuk seorang bocah lelaki berusia 14 tahun, dalam aksi pemboman sebuah pasar di selatan Thailand yang mayoritas penduduknya Muslim, kata seorang juru bicara militer pada Selasa (28/5). Diduga merupakan serangan pembalasan atas pembunuhan seorang pemimpin militan yang dicari.

Tiga provinsi Thailand paling selatan, Yala, Pattani, dan Narathiwat, sejak 2004 telah dilanda konflik antara aktifis etnik Melayu-Muslim dan negara Thailand yang mayoritas beragama Budha sekitar seabad lalu.

Sekitar 7.000 orang, sebagian besar warga sipil, terbunuh dalam kekerasan yang jarang menjadi berita utama internasional, meskipun terjadi di selatan yang dekat dengan kawasan wisata Thailand.

Peristiwa ledakan terjadi pada Senin (27/5) sore pada sebuah bom sepeda motor di pasar yang ramai di Nong Chik, provinsi Pattani, menewaskan dua warga sipil.

“Seorang anak lelaki berusia 14 tahun dan seorang wanita berusia 38 tahun meninggal,” kata Kolonel Thanawee Suwannathat, juru bicara tentara selatan.

Empat polisi militer terluka dalam ledakan itu.

Pemboman itu tampaknya sebagai pembalasan atas kematian seorang tersangka pemimpin militan di provinsi Yala pada hari sebelumnya, yang ditembak mati ketika pihak berwenang mengepung rumahnya, Thanawee mengatakan kepada AFP.

Tersangka 37 tahun, bernama Abdulloh Lateh, adalah “kepala operasi” di distrik Yaha.

Wilayah ini biasanya mengalami peningkatan tindakan kekerasan selama bulan suci Ramadhan.

Kekerasan hari Senin sore itu terjadi sehari setelah serangan bom lain di provinsi Songkhla menewaskan seorang polisi di sebuah pos pemeriksaan, melukai tiga lainnya.

Rekaman video serangan hari Ahad menunjukkan gumpalan asap tebal saat terjadi ledakan, mengakibatkan tubuh seorang perwira polisi terbaring di tengah jalan.

Pemimpin junta Thailand Prayut Chan-O-Cha – yang diperkirakan akan kembali sebagai perdana menteri sipil dalam beberapa hari mendatang – mengutuk serangan terbaru sebagai tindakan “tidak manusiawi”.(T/B05/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)