Tim Enam Gadis Afghanistan Ikuti Kontes Robot di AS

Tim robotika yang terdiri dari enam gadis dan seorang pembimbing (Foto: BNA)

 

Washington, MINA – Setelah sempat dua kali visanya ditolak Amerika Serikat (AS), tim robotika perempuan dari Afghanistan akhirnya tiba di Washington pada Sabtu (15/7), berkat adanya campur tangan dari Presiden Donald Trump.

Tim robotika yang terdiri enam gadis dan seorang pendamping ini menyelesaikan perjalanan mereka yang tepat tengah malam berangkat dari kampung halamannya di Herat, untuk mengikuti kontes robot dalam kompetisi sekolah tinggi selama tiga hari yang dimulai hari ini Selasa (18/7) di ibukota A.S.

Kedatangan gadis-gadis berprestasi ini telah ditunggu di pintu gerbang di Bandara Internasional Dulles, Washington,  oleh utusan khusus AS dan Duta Besar Afghanistan untuk AS, Hamdullah Mohib yang menggambarkannya sebagai momen bersejarah bagi bangsanya. “Tujuh belas tahun yang lalu, ini sama sekali tidak mungkin,” kata Mohib.

Menurutnya, mereka mewakili aspirasi dan ketahanan rakyat Afghanistan meskipun telah dibesarkan dalam situasi konflik terus-menerus.

“Gadis-gadis tersebut akan membuktikan kepada dunia dan bangsa bahwa tidak ada yang akan menghalangi kita untuk menjadi anggota masyarakat internasional yang setara dan aktif”, kata Mohib seperti dlaporkan kantor berita Afghanistan BNA yang dikutip MINA.

Dalam waktu singkat karena persoalan hambatan visa mereka telah menarik perhatian dunia, kasus anak perempuan tersebut menjadi titik terang tentang perdebatan kebijakan Trump untuk memperketat pintu masuk ke AS, termasuk dari banyak negara berpenduduk mayoritas Muslim lainnya.

Sebenarnya Afghanistan tidak termasuk dalam larangan perjalanan sementara Trump, namun para kritikus mengatakan bahwa pelarangan tersebut merupakan lambang upaya yang lebih luas untuk membatasi umat Islam memasuki AS.

Kisah para gadis juga telah memperbarui fokus rencana jangka panjang AS untuk membantu masa depan Afghanistan, karena pemerintahan Trump menyiapkan strategi militer baru yang akan mencakup pengiriman lebih banyak tentara ke negara tempat AS berperang sejak tahun 2001 ini.

Menteri Pertahanan James Mattis mengatakan pada hari Jumat (14/7), bahwa strategi tersebut telah diajukan namun “belum selesai.”

Campur tangan pribadi Trump pekan lalu, dengan menggunakan mekanisme “pembebasan bersyarat” yang langka untuk menghindari sistem visa, akhirnya mengakhiri sebuah kisah di mana kedua gadis tersebut telah dua kali bepergian dari rumah mereka di Afghanistan barat merupakan wilayah yang dikuasai Taliban.

AS tidak memberikan keterangan mengapa gadis-gadis tersebut ditolak visanya, dengan alasan masih dirahasiakan. Namun Mohib mengatakan, berdasarkan diskusi dengan pejabat AS, tampaknya anak-anak mereka ditolak karena kekhawatiran bahwa mereka tidak akan kembali lagi ke Afghanistan.

Ini adalah yang telah membuat banyak orang Afghanistan mencari jalan masuk ke AS dalam beberapa tahun terakhir karena kekerasan dan tantangan ekonomi yang terus berlanjut menyebabkan banyak orang mencari suaka di Amerika, atau melakukan perjalanan melalui AS ke Kanada untuk mencoba bermukim di sana.

Seiring kasus tim robotika yang mendapat perhatian dunia itu, Trump akhirnya turun tangan dengan meminta pejabat Dewan Keamanan Nasional menemukan jalan bagi mereka untuk melakukan perjalanan, kata beberapa pejabat. Pada akhirnya, Departemen Luar Negeri yang mengadili permohonan visa, meminta Departemen Keamanan Dalam Negeri untuk mengizinkan mereka dengan “pembebasan bersyarat,” status sementara yang digunakan hanya dalam keadaan luar biasa untuk membiarkan seseorang yang tidak memenuhi syarat dapat memasuki negara tersebut.

AS memberikan pembebasan bersyarat setelah menentukan bahwa ini merupakan “keuntungan publik yang signifikan”. Duta Besar Alice Wells, utusan khusus AS untuk Afghanistan dan Pakistan, tidak khawatir bahwa anak-anak perempuan tersebut mungkin menggunakan pembebasan bersyarat untuk tinggal di AS atau pergi ke Kanada. (T/B05/P1)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)