Tiongkok Siap Investasi AS$ 2,16 M Untuk Energi Terbarukan

Foto: Chamid/MINA
Foto: Chamid/MINA

Jakarta, 7 Rabi’ul Akhir 1437/17 Januari 2016 (MINA) – Kunjungan Kepala BKPM Franky Sibarani ke Tiongkok, sejak 14 Januari yang lalu, berhasil mengidentifikasi minat investasi dari negara tersebut di sektor energi terbarukan, senilai AS$ 2,16 miliar (atau sekitar Rp 29,1 triliun dengan kurs dolar AS Rp 13.500).

Nilai tersebut diperoleh dari empat perusahaan yang berminat untuk menanamkan modalnya di Indonesia melalui pengolahan batubara menjadi methanol dengan investasi sebesar AS$ 1,5 miliar, fasilitas pengolahan sampah menjadi energi sebesar AS$ 150 juta, kemudian dua perusahaan produksi panel solar dengan nilai investasi masing-masing AS$ 150 juta dan AS$ 360 juta.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Franky Sibarani menyampaikan bahwa salah satu hasil dari pertemuan yang dilakukan dengan perusahaan-perusahaan Tiongkok di bidang energi terbarukan pihaknya mengantongi minat investasi senilai AS$ 2,16 miliar.

“Mereka sudah melakukan komunikasi dengan mitra lokal di Indonesia, kami akan dorong minat investasi tersebut agar segera direalisasikan,” ujarnya dalam keterangan resmi kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Ahad (17/1)

Menurut Franky, BKPM melalui tim marketing officer Tiongkok akan melakukan komunikasi intensif dengan investor terkait untuk mendorong investor agar memanfaatkan layanan izin investasi 3 jam.

“Dari nilai minat investasi yang disampaikan, mereka dapat memanfaatkan layanan izin investasi 3 jam sehingga dapat segera mulai melakukan proses konstruksi,” paparnya.

Selain pemanfaatan layanan izin 3 jam, Kepala BKPM juga menyampaikan mengenai insentif investasi yang dapat diberikan kepada investor yang memenuhi kriteria. Diantaranya adalah investor Tiongkok yang bergerak di bidang pengolahan batubara menjadi methanol.

“Proyek ini memiliki potensi besar untuk mendapatkan tax holiday mengingat sebagai industri pioner dan strategis, yang dapat menghemat impor bahan baku methanol setiap tahunnya,” urainya.

Lebih lanjut Franky menyampaikan, investor pengolahan batubara menjadi methanol telah melakukan komunikasi bersama mitra lokal dan telah merencanakan proyek bersama dengan nilai rencana investasi sebesar ASD 1,5 milyar yang akan memproduksi 1.1 juta ton methanol per tahun.  Produk methanol yang mereka hasilkan akan dibeli oleh PT. Pertamina (sebagai off-taker), dan rencananya fase konstruksi tahap pertama dimulai pada kuartal ke-3 tahun 2016.

Sedangkan untuk investor yang berminat untuk membangun produksi panel solar, berencana untuk membangun pilot project terlebih dahulu sebelum kemudian membangun fasilitas untuk produksi komersial. Perusahaan berencana untuk membangun komponen solar panel yaitu Silicon Wafers dan Polycrystalline Silicon, karena teknologi pembuatan komponen tersebut tidak banyak dimiliki oleh perusahaan di RR. Tiongkok.

“Selanjutnya dalam waktu dekat, mengingat saat ini masih minimnya industri pembuatan komponen solar panel  di Indonesia, maka BKPM akan menyampaikan kepada Bapak Presiden untuk mendorong pembangunan industri komponen solar panel tersebut di Indonesia,” pungkasnya.

Seperrti dicanangkan sebelumnya, BKPM pada tahun 2016 menargetkan capaian realisasi investasi bisa tumbuh 14,4% dari target tahun 2015 atau mencapai Rp 594,8 triliun. Realisasi ini dikontribusi dari PMA sebesar Rp 386,4 triliun atau naik 12,6% dari target PMA tahun lalu, serta dari PMDN sebesar Rp 208,4 triliun naik 18,4% dari target PMDN tahun lalu. Sedangkan dari sisi penyerapan tenaga kerja di tahun 2016, BKPM menargetkan penyerapan 2 juta tenaga kerja.

Tiongkok merupakan salah satu negara prioritas BKPM pada tahun 2015 bersama Singapura, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Australia, Taiwan, Timur Tengah, Malaysia, dan Inggris.

Selain 10 negara prioritas tersebut pada tahun 2016, BKPM menambahkan 9 negara sebagai prioritas pemasaran investasi di antaranya Hong Kong, India, Thailand, Vietnam, Jerman, Belanda, Italia, Kanada, dan Rusia. (L/P010/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)