Tolak Wajib Militer, Remaja Perempuan Israel Shahar Perets Dijebloskan Penjara Tiga Kali

Tel Aviv, MINA – Remaja perempuan Israel, Shahar Perets, dijebloskan ke penjara karena menolak  mengikuti wajib militer yang diberlakukan Israel, dengan alasan tidak mau menjadi bagian dari penindasan terhadap rakyat Palestina..

Perets mendekam di balik jeruji besi sebanyak tiga kali, paling singkat 10 hari. Setelah jeda waktu tertentu kembali menolak, maka Perets akan kembali dipenjarakan oleh otoritas Israel dengan kewajiban melakukan pelayanan publik.

Di Isarel, semua warga negara berusia 18 tahun, yang memeluk Yahudi, Druze atau yang berlatar belakang Kirkasia, sebuah kelompok etnik dari kawasan Kauskasus barat laut, wajib mengikuti wajib militer selama 2,5 tahun untuk laki-laki dan dua tahun untuk perempuan.

Dalam berbagai kesempatan, Perets mengaku sikap penolakannya mengikuti wajib militer di Israel karena alasan kemanusiaan. Bagi Perets, mengikuti wajib militer di Israel sama saja turut menjadi bagian dalam penindasan terhadap rakyat Palestina di wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza.

“Saya memutuskan untuk menolak masuk wajib militer karena tak ingin menjadi bagian dari penindasan terhadap jutaan orang yang hidup di Tepi Barat dan Jalur Gaza,” ungkap Perets sebagaimana dilaporkan Middle East Monitor, Rabu (3/11).

Ia tidak setuju dengan pendudukan Israel terhadap wilayah-wilayah Palestina dan sikap ini didukung penuh oleh orang tuanya. Bagi sebagian besar warga Israel, wajib militer dipandang sebagai bagian dari peneguhan identitas nasional.

Keputusan Perets tidak muncul begitu saja. Perets menceritakan pengalamannya pada sebuah kamp musim panas di mana ia bertemu dengan anak-anak muda Palestina dan mereka bisa  berteman. Setelah itu, memang hampir setiap tahun ia bertemu dengan remaja Palestina dalam kamp.

“Saya pikir saya tak ingin nanti ketika bertemu dengan teman-teman saya di pos pengecekan, mereka melihat saya sedang berseragam dan memanggul senjata,” kata Perets yang saat ini telah berusia 18 tahun kepada Social TV yang dibagikan di laman Facebook.

Perets mengatakan, di negaranya menjadi pemandangan biasa melihat senjata, tentara berseragam mondar-mandir hingga pecah bentrokan. Oleh karena itu, ia ingin menjadi bagian yang menghentikan perihal kekerasan itu. Meski ia mengakui ada risiko atas keputusannya tersebut.

“Sejak kecil kami terbiasa di bus-bus melihat tentara bawa senjata setiap hari Minggu dan saya memutuskan tidak menjadi bagian dari itu semua,” kata gadis muda ini.

“Saya ingin menjadi bagian gerakan perubahan yang lebih besar termasuk bagi generasi muda agar bertanya dahulu di dalam hati sebelum bergabung dengan wajib militer. Semoga hal ini bisa berpengaruh bahwa kita tidak harus ikut ambil bagian dalam jalan kekerasan,” kata Perets.

Perets mewakili satu dari sejumlah remaja Israel yang secara sadar tak ingin masuk wajib militer karena alasan ideologis, karena tak ingin menjadi bagian dari “aksi penindasan terhadap jutaan rakyat yang hidup di Jalur Gaza dan Tepi Barat”.

Pekan lalu, seorang pemuda Yahudi Ortodoks meminta visa menetap di Inggris karena khawatir ia akan dimasukkan ke penjara karena menolak wajib militer di Israel. (T/R2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)