Tragedi Pilu Wamena, Apa yang Harus Ummat Islam Lakukan?

Oleh: Widi Kusnadi, Wartawan MINA

Aksi demonstrasi yang berakhir anarkis dilakukan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab di Wamena, Papua menyisakan penderitaan bagi ribuan anak bangsa. Gelombang pengungsi yang ingin meninggalkan kota di tengah-tengah pulau Irian itu semakin meningkat.

Massa yang anarkis itu tidak hanya ingin mengusir orang-orang yang mereka benci, akan tetapi juga menghabisi nyawa mereka. Mereka melakukan penganiayaan dengan sadis, membunuhnya dengan keji dan membakar rumah tinggal dan pertokoannya tanpa rasa belas kasih.

Salah satu korbannya adalah seorang dokter bernama Soeko Marsetiyo (53 tahun). Sudah 15 tahun lamanya, sang dokter bertugas untuk sebuah Puskesmas di Tolikara. Meski keluarganya di Jawa membujuknya untuk pulang, namun sang dokter memilih tugas mulia, mengabdikan dirinya di daerah-daerah terpencil, menyusuri jalan-jalan yang sulit untuk mengobati anak-anak Papua yang sakit. Ia tidak hanya mengobati penyakit, juga menyebarkan senyum, harapan, dan masa depan bagi masyarakat Papua.

Hari itu, ia terjebak gerombolan pengunjuk rasa. Mobilnya dibakar. Soeko keluar dari kobaran api, namun massa sangat biadab, membacoknya. Sang dokter akhirnya gugur dengan mengenaskan. Menurut polisi, Soeko meninggal akibat cedera kepala berat, luka bacok, dan luka bakar di bagian punggung. Sang dokter gugur di tengah-tangah masyarakat yang selama ini dicintainya dengan setulus hati.

Tidak hanya dokter Soeko saja yang mereka bantai, tapi juga pada 32 manusia lainnya yang sebagian besar merupakan para pendatang dari Minang, Bugis, Jawa, dan wilayah lainnya di Indonesia. Bahkan warga asli Papua juga beberapa menjadi korban hanya karena mereka ingin menyelamatkan orang-orang yang mereka sebut sebagai “pendatang” itu. Sementara itu, sedikitnya 43 korban luka yang butuh penanganan segera di rumah sakit. Mereka mengalami cedera serius mulai dari gegar otak, patah kaki, dan lain-lain.

Sri Lestari, pedagang baju keliling asal Solo, Jawa Tengah itu berhasil lepas dari maut. Sri berkisah, ketika itu, ia dan sembilan orang lainnya, naik mobil untuk menyelamatkan diri ke Polres Jayawijaya. Di perjalanan, mobil mereka dihadang, dipaksa turun, diseret, dan dipukuli.

“Mereka menyeret paksa kami keluar dari mobil. Kami diperlakukan seperti binatang. Apa salah kami?” kata Sri yang menangis saat diwawancarai media, Rabu (25/9).

“Saya ditusuk di pinggul sebelah kanan, lalu di dada dan dagu. Mata saya juga hampir ditusuk. Saya yakin ini kuasa Tuhan, masih diberi hidup sampai detik ini.”

Wanita yang mengenakan hijab itu tak tahu lagi nasib sembilan orang lainnya, termasuk empat anak-anaknya. Dia hanya ingat teriakan minta tolong dan tangisan anak-anak yang diseret dan dipukul massa yang tak beradab itu.

Menurut catatan pemerintah daerah Provinsi Papua, Saat ini, sekitar 165 rumah dibakar, 223 mobil hangus, sekitar 400 toko juga ludes. Sedikitnya 10 ribu orang mengungsi, sekitar 2.500 orang eksodus.

Komnas HAM menyebut ketegangan tak hanya terjadi di Wamena, tetapi hampir di seluruh wilayah Papua. Akibat kerusuhan itu, orang-orang yang ada di Papua menjadi saling tidak percaya, dihinggapi rasa kekhawatiran dan ketakutan, bahkan hidup dalam suasana yang tidak nyaman.

Akankah tragedi ini dibiarkan berlalu begitu saja tanpa adanya penanganan yang tegas, cepat dan nyata! Lantas di mana Penguasa negeri ini? Di mana intelejen negara yang gesit menginformasikan tentang Islam radikal? Apakah orang-orang yang membantai puluhan anak bangsa secara massif itu tidak mereka kategorikan sebagai radikal?.

Mana tanggung jawab Pemimpin negeri ini? Jika kepada warga negara asing saja ia mengucapkan bela sungkawa, akan tetapi ketika puluhan anak bangsa dibantai sesamanya, tidak adakan pernyataan itu keluar dari lisan sang penguasa?.

Cendikiawan bersuara

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menyesalkan lambatnya penanganan yang dilakukan oleh aparat dalam meminimalisir tragedi berdarah di Wamena, Papua, dalam sepekan terakhir.

Din mengatakan, semua yang memiliki hati nurani pasti sangat sedih mengetahui terjadinya tindak kekerasan di Wamena yang menimbulkan puluhan korban tewas mengenaskan dan ratusan lain mengalami luka-luka berat dan ringan.

“Kejadian tersebut tidak terlepas dari peristiwa di Papua sejak beberapa waktu lalu berupa aksi unjuk rasa di Sorong, Manokwari, Jayapura, dan tempat-tempat lain bahkan Ibu Kota Jakarta yg memprotes ketidakadilan,” katanya.

Kalau hal demikian berlanjut, Din memprediksi, maka akan dapat disimpulkan bahwa negara tidak hadir membela rakyatnya. Negara gagal menjalankan amanat Konstitusi yakni melindungi rakyat dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Wartawan senior, Asro Kamal Rokan dengan nada satir menyindir penguasa dengan sajaknya. Tragedi kemanusiaan itu seakan hanya terdengar sayup-sayup saja di telinga penguasa. Para pejabat lebih sibuk membahas ujuk rasa mahasiswa dan mencari siapa penunggangnya, akan tetapi luput memantau Wamena.

Partai-partai politik sibuk mengkalkulasi jumlah kursi menteri yang akan mereka dapatkan. Calon anggota legislatif sibuk mencocokkan jas untuk pelantikan. Pengusaha menghitung keuntungan dari rencana ibu kota yang akan dipindahkan. Sedangkan tragedi Wamena, seolah terjadi di daerah nun jauh di sana.

Di Wamena — bagian dari Indonesia — korban berjatuhan. Orang-orang lari menyelamatkan diri, mengungsi di negaranya sendiri. Ini sungguh menakutkan.

Keterlibatan OPM

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto, dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (30/9) menyatakan, Pemerintah mengendus keterlibatan Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan Ketua United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) Benny Wenda dalam kerusuhan yang terjadi di Wamena, Jayawijaya, Papua.

Mereka disebut sengaja membangun kerusuhan agar dunia luar mendukung kemerdekaan Papua dan Papua Barat.

Menurut Wiranto, OPM bergabung dengan kekuatan Benny Wenda yang berada di luar negeri menjelang sidang Konferensi Tingkat Tinggi Hak Asasi Manusia (KTT HAM) di Swiss dan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat. Itu dilakukan sebagai upaya menunjukkan eksistensi mereka.

“Jadi, OPM dan Benny Wenda berusaha membuat suatu kerusuhan dan ekspose ke dunia luar ada kekuatan untuk memerdekakan Papua dan Papua Barat. Konspirasi inilah yang dihadapi kita semua,” katanya.

Sementara itu, Benny Wenda dalam berbagai kesempatan telah membantah terlibat kerusuhan-kerusuhan di Papua. Ia mengatakan, yang terjadi di Papua adalah spontanitas warga yang tersulut kasus rasialisme.

Juru Bicara TPNPB/OPM Sebby Sambom juga menyangkal keterlibatan dalam kerusuhan-kerusuhan belakangan. Ia juga menyangkal bekerja sama dengan Benny Wenda. Bahkan, beberapa lalu, kedua kelompok sempat bersitegang soal pembentukan tentara nasional Papua barat.

Kelompok-kelompok mahasiswa yang menerukan referendum Papua, seperti Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), juga menyangkal keterlibatan. “Saya kira itu Kapolri sedang memfitnah kita. Apalagi, Kapolri bilang kita ikut aksi pakai seragam (SMA). Ini lucu sekali,” kata Juru Bicara KNPB Pusat Ones Suhuniap kepada Republika, Selasa (24/9).

Apa yang harus ummat Islam lakukan?

Menurut pendapat penulis, meskipun tragedi di Wamena dan beberapa kota di Papua bukan merupakan konflik agama, akan tetapi ummat Islam sebagai penjaga warisan NKRI ini harus berbuat sesuatu untuk memadamkan api kerusuhan di Papua. Ummat Islam yang diwakili berbagai ormas harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan NKRI ini agar tidak hancur berkeping.

Sejak masa kemerdekaan, ummat Islam selalu menjadi garda terdepan dalam mempertahankan NKRI. Kini, ketika terjadi tragedi Wamena, ummat Islam juga harus hadir memberi solusi dan menenagkan situasi. Ummat Islam harus hadir dan melindungi saudaranya yang teraniaya di mana saja, apalagi hal ini terjadi di dalam negeri.

Meskipun bukan dalam bentuk mengirim pasukan bersenjata (karena memang itu domainnya kepolisian dan TNI), tapi setidaknya hadirnya ummat Islam di sana sebagai tenaga medis, tim ukhuwah yang membantu membereskan puing-puing bangunan akibat kerusuhan, hingga para dai yang dapat menjalin ukhuwah wathaniah (persaudaraan kebangsaan).

Komitmen tersebut setidaknya ditunjukkan oleh tim Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR). Organisasi yang berada di bawah Jama’ah Muslimin (Hizbullah),  sebuah wadah kesatuan ummat Islam yang bersifat rahmatan lil alamin dengan ciri khas perjuangannya yang non-politik, UAR saat ini tengah merancang aksi nyata untuk membantu saudara-saudara di Wamena khususnya dan Papua pada umumnya.

Sebelumnya, UAR juga sudah berpengalaman terjun dalam berbagai bencana dan aksi sosial seperti di Banten (Desember 2018), Palu, Lombok, Yogyakarta (2006), tsunami Aceh (2005) dan beberapa bencana lain di berbagai wilayah di Indonesia.

UAR merupakan sebuah organisasi swadaya masyarakat yang berpusat di Cileungsi, Bogor. Didirikan pada tahun 2004 ketika terjadi bencana Tsunami di Provinsi Aceh, oleh Imaamul Muslimin, H. Muhyiddin Hamidy (wafat tahun 2014) dengan Ketua saat ini adalah H. Bustamin Utje.

UAR bekerja sama dengan Badan Sar Nasional (BASARNAS), Departemen Sosial (DEPSOS), Jakarta Rescue, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dan organisasi lain yang sejalan dengan visi dan misi UAR. (A/P2/R06)

Mi’raj News Agency (MINA)