Transjakarta Luncurkan Kampanye STOP Pelecehan Seksual di Ruang Publik

Jakarta, MINA – PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) berinsiasi melakukan serangkaian kegiatan Kampanye STOP Pelecehan Seksual dalam rangka mencegah pelecehan seksual di ruang publik.

Direktur Operasi dan Keselamatan Transjakarta, Yoga Adiwinarto menjelaskan, kegiatan tersebut dilakukan untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengguna Transjakarta.

Dia juga menyadari dengan meningkatnya mobilitas di Transjakarta khususnya dengan sistem Bus Rapid Transit (BRT) terintegrasi terpanjang di dunia, yang sekarang pelanggannya sudah hampir 700.000 per hari, otomatis kepadatan pasti terjadi.

“Jadi, pada saat ini, kami sudah mulai adanya lagi kegiatan atau tindakan yang fokus pada pelecehan, baik itu yang mungkin disengaja atau tidak disengaja,” kata Yoga dalam Peluncuran Kampanye STOP Pelecehan Seksual di Halte Harmoni Transjakarta, Jakarta Pusat, Jumat (5/8).

Transjakarta berencana menambah 1.801 Petugas Layanan Operasi (PLO) untuk mencegah aksi pelecehan seksual di dalam bus. PLO bertugas untuk menangani apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sebelumnya, Transjakarta juga kembali mengoperasi bus pink khusus wanita di rute koridor 3 sejak akhir Juli lalu guna mencegah masalah pelecehan seksual dalam transportasi publik.

Yoga menyampaikan, dengan kampanye ini, selain berfokus menambahkan jumlah armada bus pink, pada kampanye Stop Pelecehan Seksual ini diharapkan korban dan saksi berani melapor.

“Kami mengkampanyekan agar kita harus sama-sama mengawasi pelanggan lainnya dan harus berani speak up ketika ada pelanggan lain kita melihat dilecehkan harus berani speak up, harus berani bantu dan kalau kita menjadi korban, kita harus beranikan diri melapor,” tambahnya.

Dia menambahkan, Transjakarta berkomitmen untuk mengawal proses pelaporan kepada pihak berwajib. Sebab, Transjakarta tidak memiliki kemampuan untuk bisa menindak atau menuntut karena itu adalah ranah dari pihak kepolisian.

“Jadi, kami komit untuk mendampingi korban dari mulai saat penanganan maupun juga sampai ke pelaporan. Namun, kalau dari korbannya sendiri tidak berani melapor, kami pun sulit untuk pendampingan,” ujarnya.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mewakili Gubernur DKI Jakarta yang hadir dalam kesempatan tersebut, mengapresiasi upaya pendegahan pelecehan seksual yang diinsiasi oleh Transjakarta ini.

Dia mengimbau untuk mencegah dan menangani kekerasan terhadap perempuan dan anak di angkutan umum, maka operator angkutan umum diwajibkan memberi penyuluhan penanganan kekerasan seksual ke pengemudi angkutan.

Selain itu, menempel stiker telepon darurat untuk penanganan korban pelecehan seksual, dan menyediakan audio atau video pencegahan kekerasan seksual.

“Operator angkutan perlu memberikan Assesment dan pendampingan terhadap pelapor dan saksi kasus pelecehan seksual,” kata Syafrin.

Selain itu, perlu juga mengoptimalkan sarana prasarana Pos Sahabat Perempuan dan Anak (Pos SAPA) yang tersedia di halte maupun stasiun.

“Layanan Pos SAPA sudah ada di seluruh halte dan MRT wilayah Jakarta, termasuk di 23 halte yang dikelola Transjkarta,” katanya.

Syafrin juga menyatakan para pemangku kepentingan sangat penting untuk berkolaborasi dan berkomitmen penuh serta melakukan tindakan pro-aktif dalam perlindungan terhadap pencegahan dan penanganan tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak dimulai dari mencegah, melaporkan, dan tindak lanjut penanganannya.

“Peran BUMD, BUMN, akademisi, komunitas-komunitas masyarakat dan warga itu sendiri sangat diperlukan bersama-sama mencegah berbagai tindakan pelecehan seksual ini,” tambahnya.(L/R1/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)