Trump Buat Rekor 7.423 Bom Jatuh di Afghanistan selama Jabatannya

Pentagon, MINA – Pasukan Amerika Serikat (AS) di Afghanistan telah menjatuhkan bom dengan total 7.423 kali pada 2019, sebuah rekor karena bom yang dijatuhkan lebih banyak dalam 10 tahun terakhir, menurut Angkatan Udara AS.

Menurut laporan tertulis, Komando Pusat Angkatan Udara AS (AFCENT) mengatakan, pasukan AS menandai kenaikan tersebut dari total 7.362 amunisi yang dirilis pada 2018 menjadi 7.423 kali pada 2019, Al Jazeera melaporkan pada Rabu (29/1).

Angka tersebut merupakan peningkatan dramatis dari tahun 2009 ketika 4.147 bom dijatuhkan dalam pengeboman di Afghanistan setelah pergantian Presiden Barack Obama.

AS sekarang telah meningkatkan pengeboman udara sejak Presiden Donald Trump terpilih pada tahun 2016, ketika Washington menghapus persyaratan yang mengatakan target harus “proximate” ke pasukan AS atau Afghanistan untuk mencegah jatuhnya korban sipil.

PBB dan kelompok hak asasi manusia telah berulang kali menyatakan keprihatinan atas peningkatan serangan udara di seluruh negeri oleh pasukan AS dan Afghanistan, yang telah mengakibatkan peningkatan dramatis dalam korban sipil.

Pada hari Ahad (26/1), setidaknya tujuh warga sipil, termasuk tiga anak tewas dalam serangan udara di provinsi Balkh, utara Afghanistan, yang memicu protes dari warga.

Awal bulan ini, lebih dari 60 warga sipil tewas dan terluka dalam serangan pesawat tak berawak AS yang menargetkan komandan kelompok sempalan Taliban di provinsi Herat, Afghanistan barat.

Dukungan Tegas, misi NATO di Afghanistan, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya meluncurkan serangan udara defensif untuk mendukung pasukan Afghanistan, dengan seorang juru bicara yang mengonfirmasi partisipasi AS dalam operasi itu.

Pada Oktober 2019, PBB mengatakan memiliki laporan yang dapat dipercaya tentang serangan udara AS terhadap laboratorium obat-obatan terlarang Taliban yang mengakibatkan kematian setidaknya 30 warga sipil, termasuk anak-anak. Misi yang dipimpin AS di Afghanistan dengan cepat membantah klaim tersebut.

Serangan itu menargetkan 60 lokasi di Provinsi Farah dan Provinsi Nimruz yang berdekatan.

Laporan PBB tahun lalu menyebutkan, pada paruh pertama 2019, 717 warga sipil tewas oleh pasukan pemerintah, termasuk AS, mewakili peningkatan dramatis 31 persen dari tahun sebelumnya.

Lonjakan permusuhan terjadi di saat AS dan Taliban terus mendorong kemungkinan kesepakatan damai yang akan membuat pasukan AS menarik diri dari Afghanistan dengan imbalan jaminan keamanan.

Berbagai sumber yang dekat dengan pembicaraan kedua pihak mengatakan, Taliban telah sepakat untuk mengurangi serangan terhadap pasukan AS dan pasukan pemerintah Afghanistan. AS menuntut gencatan senjata dari kelompok itu sebelum kesepakatan apa pun dapat diselesaikan. (T/Mee/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)