Tunjukkan Solidaritas untuk Gaza, Pilot Amerika Lakukan Aksi Mogok Makan

Seorang pilot Angkatan Udara dari Amerika Serikat (AS), Larry Hibbert memulai aksi mogok makan sebagai bentuk solidaritas terhadap anak-anak Gaza yang sedang kelaparan pada Senin (4/1). (foto: X)

New York, MINA – Seorang Angkatan Udara dari Serikat (AS), mulai Senin (4/1) lalu memulai aksi mogok makan sebagai bentuk solidaritas terhadap anak-anak yang sedang kelaparan.

Larry Hibbert merupakan pekerja harian avionik terintegrasi dari New Hampshire yang saat ini ditempatkan di Naval Station Rota di Spanyol.

Penerbang senior berusia 26 tahun itu mengambil cuti dari tugasnya di luar negeri untul melakukan aksi mogok makan di depan untuk memprotes perang di Gaza. Sebuah tindakan yang menurutnya terinspirasi oleh kematian pilot Aaron Bushnell yang melakukan aksi bakar diri pada bulan Februari 2024.

Dalam sebuah wawancara dengan Military.com via telepon pada Senin lalu, Hebert, yang telah bertugas selama enam tahun itu, berencana untuk melanjutkan mogok makannya. Ia membatasi dirinya hanya dengan minum air putih dan suplemen jus, selama dia mampu secara fisik.

“Saya tidak punya batas waktu atau akhir untuk hal ini saat ini,” kata Hebert.

“Saya akan berhenti sampai tubuh saya tidak dapat bertahan lebih lama lagi atau kita mendapatkan gencatan senjata dan berakhirnya bantuan (dari AS) tanpa syarat kepada Israel,” sambungnya.

Hebert, yang berdiri di depan Gedung Putih dengan papan bertuliskan “Penerbang Aktif Menolak Makan Saat Gaza Kelaparan,” menandai protes publik terbaru yang dilakukan seorang penerbang sebagai tanggapan atas kekerasan Israel yang terjadi di Gaza.

Sebelumnya, Pilot Senior Aaron Bushnell , seorang penerbang aktif berusia 25 tahun dari Whitman, Massachusetts, berjalan ke Kedutaan Besar Israel di Washington, DC, pada bulan Februari; menyiram dirinya dengan akselerator; dan mulai membakar tubuhnya dan seragam Angkatan Udara . Dia meninggal karena luka-luka itu.

Bushnell merekam aksi bakar diri tersebut, dan videonya diunggah di media sosial. Dia berteriak “bebaskan Palestina” berulang kali sebelum jatuh ke tanah, dilalap api.

Hebert mengatakan dia terinspirasi oleh kematian Bushnell – tapi bukan hanya karena tindakannya itu sendiri. Ia juga terinspirasi oleh kurangnya respons dari pihak militer.

“Saya merasakan dan selaras dengan apa yang dia rasakan, dan itu sangat kuat dan berpengaruh. Jadi, setelah tindakannya, kepemimpinan di militer dan pemerintahan kita hanya diam. Ada keheningan total seputar Aaron Bushnell dan apa yang dia lakukan,” ujarnya.

Catatan dinas Hebert, yang diberikan oleh Departemen Angkatan Udara, menunjukkan bahwa dia adalah penerbang aktif yang bergabung pada September 2018.

Hebert mengatakan kepada Military.com bahwa dia berencana untuk mengajukan permohonan untuk menjadi penentang karena alasan hati nurani dan juga berharap komandonya akan mempertimbangkan penugasan kembali untuknya. Namun dia juga takut akan hukuman dari dinasnya.

Hebert berencana akan melakukan aksi solidaritas ini di depan Gedung Putih sepanjang pekan ini dan kemudian di luar Kongres mulai 8 April ketika anggota parlemen kembali dari masa reses.

Rencananya aksi itu akan disiarkan oleh Veterans For Peace, sebuah organisasi nirlaba veteran militer yang mengadvokasi diakhirinya semua perang. (T/Ai/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)

Ikuti saluran WhatsApp Kantor Berita MINA untuk dapatkan berita terbaru seputar Palestina dan dunia Islam. Klik disini.