Turki-Sudan Tandatangani 22 Kesepakatan Kerjasama Strategis

Erdogan dan Omar Al-Bashir (Ahram Online)

 

Khartoum, MINA  – Pemerintah Turki dan Sudan menandatangani 22 kesepakatan kerjasama berbagai bidang strategis dalam rangka kunjungan tiga hari Presiden Recep Tayyip Erdoğan ke Sudan.

Erdogan bahkan meminta lebih banyak investasi Turki di Sudan, karena pengusaha dari kedua belah pihak menandatangani kesepakatan di ibukota Khartoum.

Koresponden Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency) menyebutkan, hal itu merupakan hasil dari kunjungan bersejarah Erdogan  ke Sudan.

Hurriyet Daily pada Selasa (26/12) menyebutkan, Erdogan dan Presiden Sudan Omar al-Bashir menandatangani 13 kesepakatan bidang pertahanan, pertambangan, pertanian, peningkatan cadangan hutan dan pelestarian hutan, sains, pendidikan, pariwisata, lingkungan, dukungan untuk usaha kecil dan pembentukan dewan strategis untuk memperkuat hubungan ekonomi.

Sembilan kesepakatan lainnya, mulai dari produksi kapas hingga konstruksi bandara, ditandatangani kedua pejabat dalam dalam Forum Bisnis Sudan-Turki.

Belum ada informasi nilai keuangan yang diberikan mengenai transaksi tersebut.

Erdogan mengatakan, negaranya tetap berkomitmen untuk mendukung Sudan.

Berbicara di Universitas Khartoum setelah mendapatkan gelar doktor kehormatan, Erdoğan mengatakan bahwa Turki akan terus bersama orang-orang Sudan melalui institusi dan organisasinya.

Erdoğan selanjutnya menyatakan bahwa masa depan akan terjadi di benua Afrika sebelum akhir abad ini.

Ia mengungkapkan, sekitar 800 siswa Sudan belajar bahasa Turki di Pusat Kebudayaan Turki Yunus Emre di Khartoum, dan sebuah departemen bahasa Turki akan dibuka di Universitas Khartoum.

Erdogan mengatakan Turki dan Sudan juga sedang  mendirikan Universitas Sudan-Turk

Kita bersatu untuk Yerusalem

Menyinggung  keputusan Presiden Trump tentang Yerusalem, Erdogan menegaskan “Selama kita berdiri bersama dan berusaha bersama, kita tidak akan tunduk dengan adanya pernyataan (Yerusalem) itu,” tambahnya.

Erdogan dan pejabat tinggi Turki lainnya berada di garis depan oposisi internasional terhadap langkah AS tersebut.

Erdoğan mengatakan, dunia Islam sekali lagi berada di jalur rencana jahat AS dan kawan-kawan dengan upaya pecah belah yang sengaja dipicu karena perbedaan sektarian dan etnis. Dunia Islam selama berabad-abad diadu domba satu sama lain, seperti di beberapa negara di Afrika juga.

“Mereka menggunakan organisasi teroris sebagai subkontraktor, seperti ISIS, Partai Pekerja Kurdistan dan Partai Persatuan Demokrat untuk mencapai tujuan mereka,” kata Erdogan.

Ia mengutip seorang penulis Irlandia yang mengatakan, “Imperialis mengendus minyak, dan itu lebih berbahaya daripada hiu yang mengendus darah.” (RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

Wartawan: Ali Farkhan Tsani

Editor: Ismet Rauf