Turki Utsmani dan Pembelaan Terhadap Masjidil Aqsa

Oleh : Ali Farkhan Tsani,  Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency) 

Hari itu, 3 Maret 1924, bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1342 H. atau 98 tahun lalu, Sidang Dewan Perwakilan Nasional Turki, dipimpin Musthafa Kemal Pasha, membubarkan era Kesultanan Turki Utsmaniyyah (Ottoman).

Sidang memutuskan membubarkan sistem ‘Kekhlilafahan Turki Utsmani’ dan diganti dengan Negara Republik Turki yang berideologi sekuler-nasionalis.

Tragedi 3 Maret 1924 itu, tidak lepas dari konspirasi Zionis Internasional, saat Turki Utsmani dipimpin Sultan Abdul Hamid II.

Muhammad Harb dalam buku Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II, menyebutkan berbagai langkah dan strategi dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi untuk menembus dinding Kesultanan Turki Utsmani, agar mereka dapat memasuki kawasan Palestina, tempat Masjidil Aqsa berdiri.

Langkah-langkah itu antara lain, Pertama, pada tahun 1892, sekelompok Yahudi Rusia mengajukan permohonan kepada Sultan Abdul Hamid II, untuk mendapatkan izin tinggal di Palestina. Permohonan itu dijawab Sultan dengan ucapan ”Kesultanan Utsmaniyyah memberitahukan kepada segenap kaum Yahudi yang ingin hijrah ke Turki, bahwa mereka tidak akan diizinkan menetap di Palestina”.

Kedua, Theodor Hertzl, Bapak Zionis Internasional dan penggagas berdirinya Negara Yahudi, pada tahun 1896 memberanikan diri menemui langsung Sultan Abdul Hamid II sambil meminta izin mendirikan bangunan di kawasan Kota Tua Al-Quds.

Permohonan itu pun dijawab Sultan, ”Sesungguhnya Daulah Utsmaniyah ini adalah milik rakyatnya. Mereka tidak akan menyetujui permintaan itu. Sebab itu simpanlah kekayaan kalian itu dalam kantong kalian sendiri”.

Ketiga, mereka kemudian mengadakan Konferensi Zionis I di Basel, Swiss, pada tanggal 29-31 Agustus 1897 untuk merumuskan strategi baru menghancurkan kepemimpinan negeri-negeri Muslim di bawah Kesultanan Turki Utsmaniyyah.

Menghadapi gencarnya aktivitas Zionis Yahudi, Sultan Abdul Hamid II pada tahun 1900 mengeluarkan keputusan pelarangan atas rombongan peziarah Yahudi ke Palestina untuk tinggal di sana lebih dari tiga bulan. Paspor Yahudi pun harus diserahkan kepada petugas Turki Utsmani.

Berikutnya, tahun 1901 Sultan mengeluarkan keputusan mengharamkan penjualan tanah kepada Yahudi di Palestina.

Keempat, pada tahun 1902, Theodore Hertzl kembali menghadap Sultan Abdul Hamid II.

Kedatangannya kali ini untuk menyuap sang pemimpin Utsmani tersebut. Di antara sogokan yang disodorkan Hertzl adalah: uang sebesar 150 juta poundsterling (saat ini sekitar Rp2,8 triliun) khusus untuk pribadi Sultan.

Suap lainnya, Zionis akan melunasi semua hutang pemerintah Utsmaniyyah yang mencapai 33 juta poundsterling (sekitar Rp634 miliar), membangun kapal induk untuk pemerintah dengan biaya 120 juta frank (senilai sekitar Rp1,8 triliun), memberi pinjaman 5 juta poundsterling (sekitar Rp96 miliar) tanpa bunga, serta membangun Universitas Utsmaniyyah di Palestina.

Namun, kesemuanya ditolak Sultan. Sultan tetap teguh dengan pendiriannya untuk melindungi tanah Palestina dari kaum Yahudi. Bahkan Sultan tidak mau menemui Hertzl, dan hanya diwakilkan kepada salah satu menterinya Tahsin Basya.

Abdul Hamid II hanya menitipkan pesan, ”Katakan kepada Hertzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam (fahiya laysat milku yamiinii, bal milkul ummatul islamiyyah). Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka.”

Sultan juga mengatakan, ”Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika suatu saat kekhilafahan Turki Utsmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan bisa mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.”

Kelima, inilah strategi akhir Zionis, yaitu mereka memasukkan gerakan Zionismenya dengan melancarkan gerakan untuk menumbangkan Sultan. Dengan menggunakan jargon-jargon kebebasan, kemerdekaan, dan menyebut Abdul Hamid II sebagai absolut.

Tidak bisa berhadapan satu lawan satu, maka dicarilah celah dari dalam Turki sendiri. Salah satunya, menurut sejarawan adalah memasukkan nama Musthafa Kemal yang merupakan didikan Yahudi Dunama. Ini dinyatakan oleh Harold Courtenay Armstrong, seorang agen intelijen Inggris, yang menyatakan bahwa Musthafa berasal dari etnis Yahudi Dunama.

Dalam artikel berjudul “Mengenal Firqah-firqah Yahudi” dalam situs Swaramuslim disebutkan bahwa Freemasonry, organisasi Zionis Internasional, ikut andil meruntuhkan daulah Turki Ustmani. Gerakan ini antara lain menjalin hubungan yang sangat kuat dengan organisasi Turki Ittihat ve Terrakki (al-Ittihad wa at-Taraqqi atau persatuan dan kemajuan) yang berkembang sangat pesat di Salonika, Yunani, bagian dari Turki, tempat kelahiran Musthafa Kemal.

Di sinilah Musthafa bersama anggota-anggota komite persatuan dan kemajuan, yang dikenal sebagai kelompok Turki Muda (young Turks), yang diketahui sangat dekat dengan militer, menjalankan roda organisasi. Rata-rata anggota kelompok ini adalah orang-orang Yahudi dari Cryto Jews Salonika. Mereka mendapatkan dukungan finansial dari orang-orang Dunama, yaitu sekelompok Yahudi yang masuk Islam, namun secara diam-diam tetap mempertahankan keyahudian mereka.

Secara bertahap, tahun 1908, Turki Muda yang berpusat di Salonika, pusat komunitas Yahudi Dunamah, melakukan pemberontakan. Gerakan pemberontakan itu didukung Inggris dan Prancis. Hingga kemudian tanggal 18 Juni 1913, pemuda-pemuda Arab mengadakan kongres di Paris dan mengumumkan Gerakan Nasionalisme Arab.

Perang Dunia I

Periode kruisal akhir masa Kesultanan Turki Utsmani yang kokoh memegang teguh Masjidil Aqsa berlangsung pada Perang Dunia I tahun 1914. PD I dimanfaatkan oleh Inggris untuk menyerang Istanbul, dan menduduki Gallipoli.

Dari sinilah, kampanye Dardanelles yang terkenal itu mulai dilancarkan. Pendudukan Inggris di kawasan ini juga dimanfaatkan untuk mendongkrak popularitas Mustafa Kemal Pasha, yang sengaja dimunculkan sebagai pahlawan dalam Perang Ana Forta, tahun 1915.

Sejarah kemudian mencatat, Kemal Pasha, akhirnya menjalankan agenda Inggris, melakukan revolusi untuk menghancurkan Turki Utsmani. Hal itu diawali dengan perjanjian yang melahirkan “Persyaratan Curzon” pada 21 November 1923. Isinya, Turki harus menghapuskan khilafah Islamiyah, mengusir khalifah, dan menyita semua harta kekayaannya.

Persyaratan tersebut diterima oleh Mustafa Kemal atas nama gerakan pemuda Turki dan dilakukan perjanjian yang ditandatangani pada 24 Juli 1923.

Delapan bulan setelah itu, tepatnya 3 Maret 1924, Musthafa Kemal Pasha yang meniti karier melalui jalur militer dan organisasi, melalui Dewan Perwakilan Nasional mengumumkan pemecatan khalifah, pembubaran sistem khilafah, mengusir khalifah ke luar negeri, dan menjauhkan Islam dari negara.

Terpecah Belah

Sejak 1924 itulah, kaum Muslimin dan negeri-negeri Muslimin di dunia hidup tanpa naungan sentral kepemimpinan, hingga terpecah belah menjadi sekitar 60-an negara nasionalis. Walau  sebagian dengan sebutan negara Islam, tapi tidak ada ikatan satu sama lain dengan kesatuan Islam.

Adanya adalah ikatan nasionalisme, kebangsaan, masing-masing, sehingga kaum Muslimin di suatu negara begitu mudah umat Islam dihinakan, wilayahnya diduduki penjajah, darahnya ditumpahkan, kehormatannya dilecehkan, dan agamanya dinistakan. Tanpa sokongan berarti dari tetangganya sesama negeri Muslim.

Hingga yang terkini, adalah Palestina, menjadi satu-satunya negeri Muslim terjajah yang hampir tanpa perlawanan berarti dari seluruh negeri Muslimin.

Fakta membuktikan, negeri Palestina sampai kini masih dijajah oleh Zionis Israel. Darah tumpah setiap hari, anak-anak, orang-orang tua dan perempuan dibantai tiap jam, generasi muda dan tokoh-tokoh dipenjara tanpa kemanusiaan, termasuk kaum perempuannya.

Bagian lainnya Masjidil Aqsa kiblat pertama Muslimin dinodai, gerbangnya ditutup, Yahudi ekstermis bebas berkeliaran melakukan ritual Talmud dengan pengawalan ketat polisi Israel, dan bahkan hendak merobohkan Al-Aqsa secara terstruktur melalui penggalian terus-menerus.

Nasib dunia Islam pun terbelah dan terpecah, tak kunjung usai, seperti di Irak, Afghanistan, Libya, Suriah, Yaman, dan lainnya. Sementeri kaum Muslimin di negeri minoritas mereka, didzalimi dan disingkirkan, seperti Muslimin Kashmir dan beberapa bagian di India, Rohingnya di Myanmar, Uighur di China, dan beberapa tempat di kawasan Eropa dan Amerika.

Sementara kekayaan alamnya dieksploitasi untuk kepentingan Barat dan sekutunya. Lewat mekanisme utang luar negeri, mereka dijerat untuk tunduk kepada kepentingan pihak asing.

Bersatu untuk Al-Aqsa

Begitulah, ketiadaan sistem sentral kepemimpinan  Muslimin berakibat fatal bagi perlindungan nasib kaum Muslimin pada khususnya dan dunia pada umumnya.

Lalu, nasib peradaban dunia ini apakah akan terus diserahkan begitu saja kepada Barat yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, kebajikan kasih sayang apalagi ketuhanan. Bahkan lebih cenderung perseteruan hingga mengobarkan peperangan, seperti Amerika Serikat melalui Israel di Timur Tengah, dan kini perang Rusia ke Ukraina.

Terlebih jika berbicara tentang nasib Masjidil Aqsa dan rakyat Palestina yang mayoritas umat Islam, hingga saat ini masih dalam cengkeraman penjajahan dan pendudukan Zionis Yahudi.

Sejak pendudukan Zionis Israel di Palestina hingga kini, ribuan kali terjadi insiden berdarah tertumpah di Palestina. Gedung-gedung dihancurkan, warganya di kawasan Shekh Jarrah terusir, pemukiman illegal semakin bertambah, di tengah normalisasi beberapa negeri tetangga.

Tentu sosialisasi Al-Aqsa kewajiban umat Islam, sebagai isu sentral perjuangan umat Islam, harus terus digulirkan secara massif melalui berbagai cara dan media, ke seluruh dunia di berbagai momentum secara kontinyu, sistematis dan integral.

Demikian halnya, lembaga-lembaga kemanusiaan yang berkaitan dengan Al-Aqsa dan Palestina harus terus menjalin koordinasi, sinergi dan kolaborasi yang kokoh dan kompak.

Kegiatan-kegiatan sejenis pelatihan (daurah), penerbitan-penerbitan, pameran foto dan pemutaran film, diskusi-diskusi, webinar, pembelajaran di kelas-kelas, hingga ziarah dan pengiriman mahasiswa ke kawasan Al-Quds, harus diprogramkan dengan sistematis, terencana dan terukur.

Upaya-upaya pressure melalui jalur hukum, diplomasi, media massa dan media online, aksi-aksi lapangan, dan sebagainya juga perlu terus diprogramkan dengan terus-menerus.

Di sini hakikat pentingnya persatuan dan kesatuan umat Islam, hidup berjama’ah di bawah kepemimpinan seorang Imaam/Khalifah. Sehingga segala potensi sumber daya dapat terarah di jalan Allah.

Dengan sendirinya, Masjidil Aqsa dapat kembali ke pangkuan kaum Muslimin, serta Palestina dapat merdeka dan berdaulat sepenuhnya dengan Yerusalem sebagai ibukota abadinya. Bi idznillah, dengan izin Allah. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)