Jakarta, MINA – Kualitas udara di wilayah Jakarta kembali menunjukkan tren memburuk. Berdasarkan pantauan Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/AQI), pada Rabu pagi (28/5), angka pencemaran udara tercatat mencapai level 161. Angka ini menempatkan Jakarta pada kategori tidak sehat.
Peningkatan angka AQI ini mengindikasikan tingginya konsentrasi polutan PM2.5 di udara, partikel mikro yang berbahaya jika terhirup dalam jangka panjang. Menurut data yang dihimpun dari situs pemantau kualitas udara IQAir, wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur menjadi dua kawasan dengan angka pencemaran tertinggi pagi ini.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menyebutkan bahwa memburuknya kualitas udara disebabkan oleh kombinasi cuaca kering, minimnya curah hujan, dan tingginya emisi kendaraan bermotor. “Polusi dari sektor transportasi dan industri masih menjadi penyumbang terbesar. Kami terus berupaya mendorong penggunaan transportasi publik dan memperkuat pengawasan terhadap cerobong industri,” ujar Asep kepada MINA, Rabu pagi.
Masyarakat, terutama yang memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma dan bronkitis, diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruang, menggunakan masker, dan memperbanyak konsumsi air putih. Anak-anak, lansia, serta ibu hamil juga masuk dalam kelompok rentan terhadap paparan polusi udara ini.
Baca Juga: Lebaran Idul Adha UEA Bagi Baju Lebaran untuk Mahasiswa UIN Ar-Raniry
Sementara itu, LSM lingkungan dan komunitas pemantau udara mendesak Pemprov DKI Jakarta untuk mengambil tindakan lebih tegas. “Kami butuh langkah konkret, bukan hanya imbauan. Saat kualitas udara mencapai level tidak sehat, maka harus ada pembatasan kegiatan yang menyumbang polusi, termasuk pembatasan kendaraan pribadi,” ungkap Sarah, aktivis dari Koalisi Ibu Kota Hijau.
Kondisi ini mengingatkan kembali pentingnya kebijakan jangka panjang terkait tata kelola lingkungan perkotaan. Selama tren peningkatan kendaraan bermotor tidak diimbangi dengan ruang hijau dan transportasi publik yang memadai, Jakarta akan terus terjebak dalam siklus polusi udara yang membahayakan warganya.[]
Mi’raj News Agency (MINA)