UKP-DKAAP: Munas Antaragama Bangun Budaya Damai

Jakarta, MINA – Utusan Khusus Presiden untuk Dialog Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP) Syafiq Mughni mengatakan, Musyawarah Nasional (Munas) antaragama di Jakarta selama tiga hari mulai Rabu 11 – Sabtu 14 September nanti adalah untuk membangun budaya perdamaian.

“Perdamaian adalah syarat mutlak bagi stabilitas dan pembangunan yang berkelanjutan. Perdamaian selalu dibutuhkan di mana dan kapan saja, dan karena itulah harus merupakan perdamaian yang berkelanjutan bukan yang sporadis dan berjangka pendek,” kata Syafiq kepada awak media di Jakarta, Selasa (10/9).

Menurut dia, masyarakat Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam membangun budaya perdamaian. Sebab, masyarakat Indonesia memiliki sikap ramah terhadap orang lain, sebuah bekal yang patut disyukuri. Dengan munas ini, Stafiq berharap potensi itu bisa digali.

Ia menambahkan, dalam munas ini nantinya akan diikuti oleh sedikitnya 250 orang atau tokoh-tokoh yang berasal dari berbagai agama, khususnya agama-agama yang diakui di Indonesia, juga ada peninjau dari penghayat keagamaan.

“Saya yakin masyarakat kita memiliki banyak potensi membangun budaya damai. Meski 250 orang tidak bisa mewakili seluruh masyarakat Indonesia, tetapi paling tidak ada sudah ada keinginan untuk membangun perdamaian secara bersama,” ujarnya.

Diakui Syafiq, dalam munas ini akan ada sejumlah diskusi seperti mempelajari timbulnya konflik negara-negara seperti Afghanistan dan Filipina Selatan. Juga belajar dari konflik tahun-tahun lalu seperti di Maluku dan sebagainya.

“Dengan belajar dari bagaimana konflik itu muncul, kita ingin mendiskusikannya supaya hal-hal semacam itu tidak terjadi di Indonesia. Selain belajar dari hal itu, kita juga ingin membangun budaya perdamaian di semua lini kehidupan,” ujarnya.

Terkait masalah Papua, Syafiq menegaskan, pihaknya lebih memfokuskan pada pembangunan budaya perdamaian dan aplikasinya. Sementara masalah Papua dan masalah-masalah lainnya hanya bagian dari pembahasan, sehingga tidak terlalu banyak isu yang dibahas.

“Kita tidak akan membahas secara spesifik masalah Papua, tetapi kita akan membahas misalnya seperti bagaimana membangun perdamaian antarbudaya, suku, ras dan agama sehingga ini yang nantinya menjadi pengikat perdamaian,” ujarnya.

Syafiq menjelaskan, dari hasil munas ini nanti akan menghasilkan sebuah deklarasi, pernyataan atau mungkin manifesto yang nantinya bisa mengikat perdamaian sehingga menjadi sebuah kontribusi yang positif bagi bangsa dan negara. (L/R06/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)