ADA sebuah kekuatan yang lebih tajam daripada pedang, lebih abadi daripada harta, dan lebih luas pengaruhnya daripada kekuasaan: tulisan. Dengan tulisan, ulama menyebarkan ilmu, mengabadikan hikmah, dan menjaga kebenaran agar tidak terhapus oleh waktu. Tulisan adalah senjata jihad mereka, tinta adalah darah perjuangan mereka.
Tulisan menjadikan ilmu tidak mati bersama pemiliknya. Seorang ulama mungkin wafat, tapi karyanya tetap hidup ratusan bahkan ribuan tahun kemudian. Imam Syafi’i meninggal lebih dari 1.200 tahun lalu, namun kata-katanya tentang fiqh dan hikmah masih menjadi rujukan. Inilah keajaiban tulisan: ia menjembatani masa lalu, kini, dan masa depan.
Allah sendiri bersumpah dengan pena, menandakan betapa mulianya tulisan. “Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (Qs. Al-Qalam: 1). Tidak ada sumpah sia-sia dalam Al-Qur’an. Ayat ini menjadi saksi, bahwa tulisan adalah cahaya peradaban. Tanpa pena, ilmu akan lenyap, kebenaran akan hilang.
Ulama memahami, tulisan adalah benteng akidah. Imam Al-Bukhari menulis Shahih al-Bukhari bukan sekadar untuk dikagumi, tetapi untuk menjaga hadis Nabi SAW agar tidak dipalsukan. Setiap huruf yang ditulisnya adalah tameng, menjaga umat dari kesesatan. Tanpa tulisan, barangkali kita sudah kehilangan petunjuk yang benar.
Baca Juga: Salahuddin al-Ayyubi: Sang Penakluk yang Dikenang Lawan dan Kawan
Tulisan juga menjadi penggerak perubahan sosial. Ibnu Khaldun dengan Muqaddimah mengajarkan kepada dunia bagaimana peradaban lahir, tumbuh, dan runtuh. Ia menulis dengan tinta, tetapi dampaknya seolah sebuah gempa yang mengguncang dunia keilmuan. Inilah jihad pena: mengubah masyarakat tanpa menghunus pedang.
Ulama bukan hanya menulis untuk ilmuwan, tetapi juga untuk masyarakat awam. Kitab kuning di pesantren, risalah-risalah kecil, hingga catatan nasihat para ulama terdahulu adalah contoh jihad ilmiah agar ilmu tidak hanya bertengger di perpustakaan, melainkan hidup di tengah masyarakat.
Tulisan membuat ulama melawan lupa. Ingatan manusia terbatas, tapi tulisan mengabadikan. Al-Ghazali menulis Ihya Ulumuddin untuk menyatukan ilmu syariah dan tasawuf, mengobati penyakit hati umat. Seribu tahun sudah berlalu, tetapi mutiara hikmahnya masih menyembuhkan jiwa-jiwa yang haus kebenaran.
Tulisan: Warisan Abadi Peradaban
Baca Juga: Taj Mahal: Kisah Cinta Abadi di Balik Makam Megah India
Dunia Islam pernah jaya karena tulisan. Perpustakaan Baghdad, Andalusia, dan Kairo menyimpan ribuan manuskrip yang menjadi rujukan Eropa. Saat Eropa masih terjebak dalam kegelapan, tinta ulama Muslim menyalakan obor renaisans. Dengan tulisan, Islam menaklukkan Barat tanpa perang.
Sebaliknya, ketika perpustakaan dihancurkan, kitab-kitab dibakar, dan pena ulama dibungkam, peradaban Islam merosot. Jatuhnya Baghdad ke tangan Mongol bukan hanya tragedi politik, tapi juga tragedi ilmu: sungai-sungai dipenuhi tinta, tanda bahwa peradaban ikut tenggelam. Sejak saat itu, dunia kehilangan cahaya dari tulisan ulama.
Hari ini, kita kembali berada di persimpangan sejarah. Tantangan terbesar umat bukan hanya penjajahan militer, melainkan banjir informasi yang menyesatkan. Hoaks, ideologi sekuler, dan budaya permisif menyusup lewat tulisan dan media. Maka umat hanya bisa selamat jika melawan dengan tulisan yang benar, murni, dan penuh hikmah.
Ulama dahulu menulis dengan tinta, kita hari ini bisa menulis dengan tinta digital. Namun semangatnya sama: menyebarkan ilmu, menghidupkan iman, dan melawan kebodohan. Tulisan tetap jihad, meski medianya berubah. Yang penting adalah niat dan keberanian untuk menuliskan kebenaran.
Baca Juga: 39,2 Ton Harapan dari Langit: Kisah Misi Satgas Garuda Merah Putih II untuk Gaza
Jangan pernah meremehkan tulisan. Satu artikel bisa membangunkan jiwa yang tidur. Satu buku bisa mengubah arah bangsa. Satu catatan kecil ulama bisa menjadi kompas hidup generasi setelahnya. Pena kecil mampu mengguncang istana, menggoyahkan tirani, bahkan menyalakan revolusi.
Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” (HR. Thabrani). Hadis ini adalah perintah untuk menjadikan tulisan sebagai wadah ilmu. Karena ilmu yang tidak ditulis akan hilang, sementara tulisan akan tetap ada, meski penulisnya telah tiada.
Kita membutuhkan generasi yang sadar bahwa menulis adalah jihad. Jihad yang tidak menumpahkan darah, tetapi mengalirkan cahaya. Jihad yang tidak menghancurkan, melainkan membangun. Jihad yang tidak menakutkan, tetapi menginspirasi. Tulisan adalah warisan agung, dan ulama adalah teladan tertinggi dalam menjaga amanah itu.
Maka wahai umat Islam, ambillah pena, goreskan kata, abadikan kebenaran. Jangan biarkan sejarah kosong dari suara kita. Tulis dengan iman, tulis dengan ilmu, tulis dengan cinta kepada Allah. Karena dunia pernah berubah oleh tulisan ulama, dan dunia akan kembali berubah jika generasi ini berani menulis dengan semangat jihad ilmiah.[]
Baca Juga: Dari Kijang Inova hingga Kopi yang Mengubah Hidup
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Santri AGA Nurul Bayan Kibarkan Merah Putih dan Palestina di Puncak Cakra